Nina Dai Bachtiar Cabup Paling Berkomitmen Perkuat Kemajuan Sektor Pertanian

116
PERKUAT. Bacabup Indramayu Nina A Dai Bachtiar pastikan ingin perkua sector pertanian di desa-desa se-Kabupaen Indramayu. (IST)

RAKYATCIREBON.ID-Komitmen Bakal Calon Bupati Indramayu Nina A Da’I Bachtiar dalam memperkuat kemajuan pertanian dan desa tidak perlu disangsikan. Mimpinya, karena Indramayu merupakan lumbung padi nasional,

Bendahara Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GANTI) itu mendorong agar pembangunan di sektor tersebut jadi prioritas utama Pemerintah Kabupaten kedepan.

Nina mengaku, Indramayu memiliki 110.913 hektar lahan sawah dimana menjadi yang paling luas di Jawa Barat. Namun sangat paradoks karena Indramayu menjadi penyumbang terbesar masyarakat miskin di Jawa Barat.

“Hampir di seluruh titik kami menyapa warga mendapat aspirasi di sektor pertanian. Mulai dari infrastruktur pertanian yang rusak dan tidak terintegrasi sampai ke sawah-sawah warga, sampai minimnya bantuan pupuk. Ini kami minta agar segera ada prioritas pembangunan infrastruktur pertanian,” tegasnya saat dihubungi wartawan Koran ini, Rabu (18/3).

Menurut Nina, luasnya lahan pertanian dan besarnya kontribusi Indramayu dalam menyuplai pangan di tingkat nasional, harus menjadi pertimbangan agar tidak ada lagi keluhan kekurangan air, hingga 7.500 hektare lahan di wilyah Indramayu Barat (Inbar) puso tahun lalu.

“Sektor pertanian merupakan representasi dari kegiatan ekonomi ril masyarakat Indramayu, karena lebih dari 52 persen warga pekerjaan utamanya sebagai petani. Berarti pertanian merupakan salah satu pilar penting penggerak perekonomian,” terangnya.

Jika petani sejahtera maka secara otomatis akan meningkatkan indeks ekonomi atau daya beli masyarakat Indramayu, sehingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menjadi parameter keberhasilan pemerintah daerah juga meningkat.

“Paling tidak ada 3 persoalan penting di sektor pertanian yang harus diatasi, pertama adalah minimnya kepemilikan tanah oleh para petani tradisional dimana masih banyak yang hanya menjadi buruh tani. Jumlahnya fantastis, di Indramayu ada lebih dari 111 ribu petani penggarap dan 314 ribu sebagai buruh tani,” katanya.

Kedua , adalah belum maksimalnya produktifitas hasil pertanian, karena irigasi teknis kurang dari 70 persen, sisanya sawah tadah hujan.

Problem ketiga adalah tata niaga hasil panen yang belum sepenuhnya tersentuh oleh pemerintah, struktur pasar yang tidak sehat, yang dicirikan oleh disparitas harga gabah dan beras yang cukup tinggi. Posisi tawar petani sangat lemah dalam penentuan harga. Makanya ini harus segera ditemukan solusinya,” tandasnya.

Selain menjadi lumbung padi nasional, Indramayu juga dikenal dengan kota mangga dan saat ini ditambah memiliki komoditas pangan berupa produksi jeruk di Desa Segeran Lor dan Segeran kidul yang mencapai 50 Ton pertahun.

“Jika produk unggulan desa di sektor pertanian mangga dan jeruk ini juga dikembangkan, akan menjadi nilai tambah bagi pemerintah daerah Kabupaten Indramayu, apalagi saat ini jeruk masih impor di Indonesia. Di saat bersamaan Indramayu dapat memproduksi jeruk,” pungkasnya. (vic)