Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran Angkat Bicara Soal Dzuriyah Pepakem Kasultanan Cirebon

Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran Angkat Bicara Soal Dzuriyah Pepakem Kasultanan Cirebon

RAKYATCIREBON.ID-Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah satu-satunya wali yang menyebarkan agama Islam, dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Cirebon maupun Jawa Barat. Perannya tidak diragukan lagi. Baik sebagai pemimpin maupun ulama.

Sunan Gunung Jati mewariskan Kasultanan Cirebon yang masih terjaga hingga kini. Walaupun kemudian terpecah menjadi dua Sultan, Sultan Anom Badridin Kartawijaya dan Sultan Sepuh Samsudin Maryawijaya. Keratonnya tetap masih satu. Keraton Pakungwati.

Selain warisan berupa fisik, sejumlah warisan berupa aturan adat atau pepakem menjadi hal yang wajib dijalankan. Seperti yang sedang ramai terkait suksesi pengangkatan Sultan yang belakangan banyak digugat oleh sejumlah pihak.

Patih Keraton Kanoman Cirebon Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran mengungkapkan, salah satu warisan Sunan Gunung Jati adalah pepakem tentang pengangkatan Sultan. Pepakem tersebut merupakan aturan adat yang telah dicontohkan oleh para sultan sebelumnya. Dari berbagai sumber dan literatur sejarah Cirebon, pengangkatan sultan di keraton Cirebon harus berasal dari anak laki-laki pertama sultan yang bertakhta. Nasab kemurnian daripada pernikahan sultan dan permaisuri (Ratu). Sehingga bisa tetap terus terjaga silsilahnya dari dzuriyah Sunan Gunung Jati.


“Untuk pepakem Kasultanan Cirebon, Kasultanan Kanoman ini alhamdulillah masih tetap menggunakan pepakem yang ada. Karena untuk menggantikan sultan sebelumnya harus diambil dari anak laki-laki atau tertua dari permaisuri,” jelasnya, Sabtu (19/9)


Dia menjelaskan, pentingnya mengetahui keturunan asli atau berdasarkan pepakem adat untuk menjaga silsilah dari Sunan Gunung Jati itu sendiri.

“Karena untuk menggantikan sultan sebelumnya harus diambil dari anak laki laki pertama dari permaisuri sultan. Pepakem seperti itu yang kami jaga dari zaman leluhur kami,” sebutnya.

Dia menyebutkan, banyak orang yang mengklaim sebagai keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon. Namun belum ada yang bisa membuktikan secara otentik. Menurutnya, pengakuan diri sebagai dzuriyah baru sebatas pengakuan saja sebagai keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon. Padahal, kata dia, untuk diakui sebagai dzurriyah tidak mudah.


Sunan Gunung Jati Cirebon. Padahal, kata dia, untuk diakui sebagai dzurriyah tidak mudah.


“Seorang dzuriyah harus bisa mengaplikasikan perbuatan Sunan Gunung Jati maupun petatah petitih dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang kalau tiba-tiba banyak yang berbicara dzurriyah dalam persoalan takhta kasultanan siapa sosok dzuriyah itu kan harus tahu juga,” kata Patih Qodiran.


Menurut dia, banyak keturunan Sunan Gunung Jati yang berada diluar keraton. Salah satunya ulama dan pemimpin pondok pesantren.


Patih Qodiran menyatakan, Dzuriyah bukan hanya berasal dari keraton yang ada saja. Oleh karena itu, kata dia, penting untuk yang mengaku keturunan Sunan Gunung Jati kompak dan berkumpul bersama membahas dzurriyah yang pantas menduduki takhta sultan.


“Tanpa kepentingan ya baik politik maupun pribadi semuanya harus dari hati yang ikhlas dan paling dalam. Saya mengimbau untuk semua keturunan Syekh Syarif Hidayatullah agar menguatkan diri untuk mendapat titik temu kriteria dzuriyah yang pantas menduduki takhta sebagai sultan,” pungkasnya. (wb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!