Pasar Batik Trusmi Minim Promosi, Ramai hanya di Akhir Pekan

15
Pasar Batik Trusmi Cirebon ternyata hanya ramai saat akhir pekan. Sedangkan hari-hari biasa, pasar yang ditujukan untuk menampung perajin batik skala kecil itu terlihat sepi.


PULUHAN kendaraan roda empat dan dua berjejer di halaman parkir pasar batik, Minggu (13/9). Pemandangan ini jarang ditemukan di areal parkir pasar, pada hari-hari biasa.

Pasar Batik Trusmi. Foto : Yoga Yudisthira/Rakyat Cirebon

Begitu Rakyat Cirebon mencoba melihat langsung, lokasi di dalam pasar cukup ramai pengunjung yang tengah mencari maupun menanyakan bermacam jenis hasil karya para perajin mulai dari baju atasan hingga bawahan. Meskipun demikian, masih terlihgat beberapa kios yang tutup.


Ramainya pasar saat akhir pekan ini dibenarkan oleh penjaga pasar maupun pedagang yang berada di dalam pasar. Mereka mengatakan, promosi pasar batik ini masih kurang sehingga para wisatawan masih memilih untuk mengunjungi beberapa gerai batik yang berada di sekitaran Jalan Trusmi dan bukan ke pasar batik.


“Memang sih saya lihat promosi pasar batik ini masih kurang sehingga masih sedikit yang kesini,” ujar Yudi Juniarto, salah satu pedagang. Yudi menjelaskan, pada hari Senin hingga Kamis kondisi pasar batik tidak ramai dan cenderung sepi. 


Dia menyebutkan, pengunjung mulai terlihat ramai saat mendekati akhir pekan yang dimulai dari hari Jum’at. “Jumat sampai Minggu biasanya yang ramai. Kalau hari biasa sih, memang ada saja yang datang, tapi lebih sepi. Kenaikan pengunjung ya kalau hari libur,” terangnya.


Yudi menilai, para pengunjung masih memiliih batik dengan harga murah. Padahal, dirinya menegaskan, batik yang dijual di pasar batik ini sendiri merupakan karya tangan pengrajin langsung bukan hasil cetakan. “Memang di sini harganya lumayan lebih mahal, tapi ini hasil karya pengrajin. Kalau yang murah itu biasanya bukan dari cirebon melainkan dari luar daerah,” tegasnya.


Yudi meminta kepada pemerintah daerah untuk lebih memberikan dukungan berupa promosi pasar batik. “Ada batik Trusmi juga yang sepertinya harus diganti namanya karena batik Trusmi itu bukan milik satu pengusaha melainkan batik yang memang berasal dari trusmi. Semoga saja pemerintah lebih baik lagi dalam melakukan promosi sehinggga pasar batik ini bisa ramai,” tandasnya.


Senada dengan Yudi, salah satu warga yang juga penjaga pasar batik, Ba’a melihat adanya perbedaan dalam sistem promosi yang ditawarkan kepada pengunjung. Dirinya memberikan contoh, sebuah rombongan yang menggunakan bus akan lebih memilih ke wilayah Trusmi jika dibandingkan ke pasar batik.


“Ya sopir dan kernet juga tidak mau rugi karena kalau kesana bisa diberi uang r*kok. Balik lagi, kalau kata saya sih pasar batik ini kurang promosi karena katanya mau adanya plang promosi, tapi nyatanya belum ada juga,” ujar Ba’a. Pria yang saat ditemui tengah menjaga parkiran ini pun mengungkapkan, kendaraan pengunjung di pasar batik tidak bisa dikenakan tarif parkir yang terlalu besar karena khawatir mereka tidak akan kembali berkunjung. 


Oleh sebab itu juga, dirinya mengaku kesulitan untuk memenuhi target pendapatan dari parkir.“Kami parkir ini harus setor 60 ribu tiap harinya. Kita mau narik parkir terlalu besar juga kasian pedagang didalam karena takut pengunjung engga dating lagi. Kalau mobil, kita sih terima segimana dikasihnya saja. Kadang ada yang Rp5 ribu, kadang juga ada yang cuma 500. Ya sejauh ini masih bisa nutupin target,” pungkasnya. (yog)

BAGIKAN