PD Pasar Kota Cirebon Dituding Cuci Tangan

9
Diserahkan pada Investor, Disinyalir Tidak Ada Lelang

KESAMBI– PD Pasar Kota Cirebon dituding cuci terkait biaya tambahan untuk huk sebesar Rp1 juta. Selain itu, dalam pengelolaan Pasar Jagasatru kedepan pun PD Pasar dianggap lepas tangan dan menyerahkan sepenuhnya ke investor.
Hal itu dikemukakan mantan anggota DPRD Kota Cirebon periode 2009-2014, Sunarko Kasidin SH MH, kemarin.

pasar jagastru kota cirebon
Pasar Jagasatru. Foto : Nurul Fajri/Rakyat Cirebon

Menurut politisi yang akrab disapa Abah Ako itu, PD Pasar salah langkah dalam melakukan pembangunan Pasar Jagasatru. “Proses dari awal sudah keliru,” ungkap Abah Ako kepada Rakyat Cirebon. Dari sisi pembangunan, dijelaskan Abah Ako, untuk menggandeng investor seharusnya PD Pasar bisa meneken kontrak dengan klausal yang saling menguntungkan.

Selain itu juga, nominal biaya pembangunan yang kabarnya menyentuh angka Rp30 miliar pun dianggap terlalu berlebihan.“Kalau biaya pembangunan itu diklaim oleh pihak investor mencapai Rp30 miliar, saya kira tidak begitu masuk akal. Terkecuali bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan. Meskipun itu sumber dananya dari pihak investor, tapi tetap harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Abah Ako, megaproyek bernilai puluhan miliar rupiah itu disinyalir tak melalui tahap lelang. Meskipun pembiayaan dari pihak investor, tapi proses untuk memilih investor itu harusnya dilelangkan. “Ini kan jelas. Proses awalnya saja sudah keliru, karena tidak dilelangkan,” kata ketua DPC Partai Hanura itu.

Menurutnya, dengan pembangunan dilimpahkan semua ke pihak investor, termasuk pengelolaannya, maka hal itu menunjukkan PD Pasar tak sanggup mengelola Pasar Jagasatru.Padahal, lanjut Abah Ako, kalau saja dikelola PD Pasar, akan menjadi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar.

“Pasar Jagasatru itu sangat potensial menjadi sumber PAD untuk Kota Cirebon. Tapi sangat disayangkan kenapa malah diserahkan ke pihak ketiga. Kalau sudah begitu, apa yang akan didapat Pemkot Cirebon selain nanti bangunan itu setelah 20 tahun kemudian? Sangat minim atau bahkan tidak ada,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PD Pasar Kota Cirebon, Darwin Windarsyah SE MM belum bisa bicara banyak terkait persoalan penambahan biaya sebesar Rp1 juta untuk pedagang yang lapaknya memiliki huk. “Tapi berdasarkan informasi, itu merupakan hasil kesepakatan antara pedagang dan pengelola,” katanya, saat ditemui di ruang kerjanya.

Disinggung soal proses pembangunan, Darwin mengakui, pihak investor telah menganggarkan dana Rp30 miliar untuk pembangunan Pasar Jagasatru.
Adapun keuntungan yang didapat pihaknya, nanti setelah 20 tahun masa kontrak habis, bangunan itu akan menjadi milik PD Pasar Kota Cirebon. “Kalau kontraknya habis, itu bangunan jadi milik kita,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon, H Agus Saputra, saat ditemui di pasar darurat Jagasatru, Senin (28/9), menyampaikan, sejumlah pedagang merasa keberatan atas beban biaya tambahan untuk lapak yang memiliki permukaan lebih dari satu.
“Pedagang merasa keberatan dengan adanya tambahan biaya untuk huk yang mencapai Rp1 juta,” ungkap Agus.

Agus menambahkan, para pedagang merasa keberatan karena beberapa hal. Di antaranya, penambahan biaya untuk hook itu diputuskan secara sepihak oleh pihak pengelola, tanpa kesepakatan pedagang. (jri)

BAGIKAN