PDAM Butuh Sumber Air Baru

Walikota Cek Gorong-gorong, Upayakan Revitalisasi di Hulu dan Hilir

HARJAMUKTI – Seringnya gangguan distribusi air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cirebon disebabkan pasokan air yang belum mencukupi kebutuhan pelanggan.

walikota azis cek gorong-gorong
Walikota Cirebon Nasrudin Azis cek gorong-gorong. Foto: Nurul Fajri/Rakyat Cirebon

Ditambah lagi dengan penggunaan yang berlebihan pada waktu-waktu tertentu, semisal ketika libur panjang.

Hal itu disampaikan Walikota Cirebon Drs Nasrudin Azis SH di sela-sela peninjauan sejumlah infrastruktur milik PDAM, Rabu (30/12).

Secara khusus, Azis menanggapi keluhan pelanggan PDAM di Griya Sunyaragi Permai (GSP) dan sekitarnya terkait terganggunya distribusi air bersih.

“Gangguan air itu disebabkan karena kebutuhan air yang begitu banyak, karena musim liburan juga, sehingga menyedot persediaan air yang seharusnya mengalir ke GSP dan sekitarnya,” kata Azis.

Untuk itu, tambah Azis, PDAM dalam menghadapi tahun baru, juga melakukan antisipasi dengan pemenuhan reservoir air yang nantinya mengalir ke beberapa wilayah, di antaranya GSP dan sekitarnya.

“Mudah-mudahan dengan upaya ini persoalan kekurangan air di daerah tertentu bisa teratasi. Karena tadi saya lihat (ketinggian air di reservoir) sudah mencapai 2 meter lebih. Mudah-mudahan bisa sampai 3 meter,” kata owner PDAM itu.

Diakui orang nomor satu di Kota Cirebon itu, selama ini PDAM mengalami kekurangan pasokan air bersih dari Kuningan.

Volume air yang mengalir tak seimbang dengan kebutuhan air bersih para pelanggan PDAM.

“Kita masih kekurangan debit air. Volume air yang mengalir ke Kota Cirebon belum bisa mencukupi kebutuhan air masyarakat Kota Cirebon,” jelasnya.

Maka dari itu, Azis mengatakan, direksi PDAM telah melakukan beberapa upaya untuk menyeimbangkan antara volume air yang mengalir ke kota dengan kebutuhan.

Selain dengan mempertahankan moratorium pemasangan sambungan baru sejak 2012, PDAM juga tengah mencari sumber air baru.

“PDAM juga sedang menyusun rencana untuk menambah debit air dengan mencari sumber air baru. Ini masih belum selesai. Saya harap masyarakat bisa memaklumi. Yang pasti, PDAM tidak henti-hentinya berupaya menambah debit air yang mengalir ke Kota Cirebon agar pelayanan terbaik bisa diwujudkan,” ucapnya.

Di sisi lain, tingkat kebocoran yang masih terbilang tinggi juga disinggung mantan ketua DPRD Kota Cirebon itu.

“Kita sama-sama tahu, tingkat kebocoran PDAM Kota Cirebon cukup tinggi, mencapai sekitar 40 persen,” kata dia.

Atas kondisi itu, Azis mengaku, pihaknya sudah memberi peringatan agar jajaran direksi segera melakukan terobosan untuk menekan tingkat kebocoran, setidaknya sampai angka ideal yaitu 20 persen.

“Pada saat saya mengetahui tingkat kebocoran tinggi, sejak 2014 saya sudah memberikan warning kepada direksi PDAM dan meminta segera mengkaji apa penyebab kebocoran itu, kemudian harus diturunkan sampai mendekati angka ideal 20 persen,” katanya.

Sejalan dengan peningkatan ketersediaan air, Azis juga ingin PDAM lebih pandai mengopimalkan potensi sumber dana untuk kebutuhan pembiayaan operasional.

“Setiap usaha tentu membutuhkan modal baru. Tapi saya meminta kepada direksi PDAM agar mengupayakan kerjasama dengan pihak swasta, maupun pinjaman atau bantuan dari pemerintah pusat. Karena kalau kemudian menarik banyak dari APBD, kita kan yang diurus bukan hanya air saja,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PDAM, Sopyan Satari SE MM mengatakan, pihaknya bergerak cepat menyelesaikan persoalan gangguan distribusi air di GSP dan sekitarnya.

“Kami harus meningkatkan pelayanan, terutama masalah yang sedang dihadapi di wilayah GSP dan sekitarnya. Kami segera lakukan antisipasi. Mudah-mudahan persoalan itu bisa diatasi,” kata pria yang akrab disapa Opang itu.

Kedepan, Opang menambahkan, pihaknya akan melakukan upaya-upaya nyata untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan.
Jajaran direksi akan melakukan penataan kembali proses pendistribusian air dan yang lainnya yang berkaitan dengan itu.

“Kami mencoba akan memprioritaskan penataan kembali di hulu yang selama ini belum disentuh. Artinya, kami akan lakukan revitalisasi ke hulu. Kemudian bersamaan dengan itu, kami juga menata di hilir,” kata Opang.

Di program tahun 2016, kata Opang, pihaknya akan mengadakan meter-meter induk yang selama ini dirasa masih kurang.

Sehingga pihaknya bisa tahu persis berapa tingkat kebocoran yang terjadi.
“Dari situ, kami bisa ketahui juga titik kebocorannya di mana saja, sehingga bisa cepat diperbaiki,” kata dia.

Soal sumber air baru, Opang mengaku, pihaknya sudah menyiapkan beberapa alternatif. Utamanya, program SPAM regional. Itu yang selama ini sedang digarap oleh pemerintah pusat melalui waduk Jatigede.

“Rencananya, PDAM Kota Cirebon mendapat 500 liter per detik dari waduk Jatigede nantinya,” jelas Opang.

Di samping itu, lanjut Opang, pihaknya juga harus mendapatkan sumber mata air baru. Oleh karenanya, PDAM Kota Cirebon selalu berkoordinasi dengan Pemkab Kuningan melalui PDAM. “Di sana punya rencana untuk bisa mengalirkan air curah ke Kota Cirebon. Ini masih dalam kajian,” katanya.

Untuk kebijakan moratorium sambungan baru, pria berkacamata itu mengatakan, kebijakan tersebut diberlakukan sejak 2012. Akan tapi, moratorium diberlakukan hanya untuk wilayah tertentu yang apabila dialiri air, volumenya akan rendah.

“Jadi kalau saluran itu kami pasang, akan kecil volumenya. Di antaranya, wilayah Pesisir, Pasindangan, pokoknya sepanjang jalur pantura. Kebijakan itu akan ada sampai kami bisa menekan tingkat kebocoran dan menemukan sumber air baru,” katanya.

Pada kesempatan kunjungan lapangan itu, Walikota Azis sempat membuat direksi beserta jajarannya serta Dewan Pengawas (DP) PDAM terkejut.

Hal itu ketika Azis tiba-tiba meminta masuk ke gorong-gorong yang tengah digali oleh PDAM untuk memasang Booster Pump atau alat pendorong tekanan air, di Kalijaga Harjamukti. (jri)
      

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!