PDIP Yakini Kekuatan Petahana Melemah

4
Kader Ingin Ketua Tetap Maju, Hindari Kekalahan Akan Koalisi di Pilwalkot 2018

KEJAKSANPemilihan Walikota (Pilwalkot) 2018 mendatang diprediksi menjadi pertarungan politik secara terbuka. Sebagai partai pemenang di pemilihan umum legislatif, PDI Perjuangan mulai menebar psywar.

pdi perjuangan
Ilustrasi PDIP Perjuangan. Image by rmol.co

Partai berlambang banteng moncong putih itu meyakini, posisi incumbent atau petahana dalam hal ini Drs Nasrudin Azis SH mulai melemah dan akan sulit bersaing dengan cawalkot lainnya, terutama dari PDIP.

Seperti dikemukakan Ketua PAC PDIP Lemahwungkuk, Sugiyono, saat ditemui di kawasan Kejaksan, kemarin sore.

Menurutnya, Pilwalkot 2018 mendatang akan lebih terbuka dalam hal adu kekuatan politik antar calon walikota (cawalkot).

“Seperti yang disampaikan Pak Subardi, persaingan di Pilwalkot 2018 nanti akan lebih terbuka. Semua cawalkot akan memiliki kekuatan yang sama, tidak terkecuali incumbent,” ungkap Sugiyono kepada Rakyat Cirebon.

Ia menilai, baik dari sisi kepemimpinan di pemerintahan maupun di partainya, Azis tak begitu maksimal. Hal itu diyakini akan menjadi penilaian publik terhadap Azis bila nanti kembali mencalonkan menjadi walikota di Pilwalkot 2018.

“Di pemerintahan, banyak catatan atas kinerjanya. Beberapa persoalan terjadi, salahsatunya polemik penyerapan anggaran. Di partai, dia (Azis, red) tidak mampu mengomunikasikan dengan partai pengusung terkait pengisian kursi wakil walikota,” tuturnya.

Atas kondisi itu, diakui Sugiyono, PDIP diuntungkan. Oleh karenanya, ia mengaku optimistis bisa kembali merebut kekuasaan sepeninggal Walikota Subardi yang diusung PDIP dan menjabat periode 2003-2008 dan 2008-2013. “Makanya kita optimistis,” kata dia.

Lantas, bagaimana dengan agenda politik PDIP menuju Pilwalkot 2018? Sugiyono mengaku, sampai sejauh ini di partainya belum ada pembahasan itu.

Hanya saja, bila beberapa figur mulai muncul ke publik dan berencana akan mencalonkan dari PDIP, itu bagian dari dinamika.

“Saya kira sah-sah saja ketika beberapa figur mulai memberi sinyal akan mencalonkan menjadi walikota dan berencana melalui PDIP. Itu dinamika,” ujarnya.

Soal langkah politik, kata Sugiyono, PDIP kemungkinan akan menjalin koalisi dengan partai lain untuk mengusung cawalkot dan wakilnya.

Itu dilakukan untuk mengantisipasi terulangnya kekalahan saat PDIP memaksakan mengusung satu paket cawalkot dan wakilnya, tanpa berkoalisi.

“Di Pilwalkot dan Pilgub Jawa Barat 2013 yang lalu, kita mengusung calon satu paket. Hasilnya kalah. Bukan berarti ada kekhawatiran untuk kalah. Tapi hasil tahun 2013 itu paling tidak menjadi acuannya,” tuturnya.

Selain itu juga, Sugiyono mengaku, PAC PDIP Lemahwungkuk menginginkan ketua DPC PDIP Kota Cirebon untuk diusung, baik jadi cawalkot maupun wakil walikota.

Ia mencontohkan kesuksesan PDIP di Kabupaten Cirebon pada Pilkada karena ketua DPC mereka menjadi calon wakil bupati kala itu.

“Kita menginginkan Pak Edi (Suripno) ada di 2018. Karena yang dulu itu (Pilwalkot 2013, red) salah, tidak merekomendas ketua DPC,” kata dia.

Sebelumnya, Sekretaris DPC PDIP Kota Cirebon, Cicip Awaludin SH mengatakan, PDIP untuk proses pencalonan walikota pada Pilwalkot mendatang akan membuka diri bagi siapapun yang berniat mencalonkan.

“Sah-sah saja kalau Pak Oki (sapaan akrab Bamunas, red) akan mencalonkan lagi. PDIP sebagai partai terbuka, seperti halnya pilwalkot yang lalu, kita akan membuka penjaringan bagi figur yang ingin menjadi bakal calon walikota,” ungkap Cicip.

Cicip menambahkan, meski saat ini partainya belum melakukan pembahasan terkait rencana langkah politik di pilwalkot 2018 mendatang, tapi mekansime yang akan dipakai hampir pasti tak jauh berbeda dengan pada saat menjelang Pilwalkot 2013 lalu.

“Karena PDIP sendiri belum melakukan pembicaraan soal pilwalkot. Tapi, pada saat PDIP membuka penjaringan bakal calon walikota nantinya, siapapun boleh mendaftarkan diri,” kata pria yang juga ketua Fraksi PDIP di DPRD Kota Cirebon itu. (jri)

BAGIKAN