PEN Tak Boleh Abaikan Potensi Desa

PEN Tak Boleh Abaikan Potensi Desa

MOR III Besut OMSET Balongan, Wadah Ibu-ibu di Pedesaan Berdayakan Hasil Laut

RAKYATCIREBON.ID – Ancaman krisis ekonomi dan kirisis kesehatan masih menjadi perbicangan hangat di tengah pandemi Covid-19. Upaya lolos dari ancaman itu masih terus dicari. Di sektor ekonomi, pemerintah menggagas program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Guna optimalisasi program ini, seluruh potensi dikerahkan agar perpuataran ekonomi tidak mati. Termasuk potensi dari desa dengan segala usaha skala mikro dan kecilnya.

Di level nasional, dampak pandemi diprediksi bakal dirasakan separuh dari total usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, Dr Poppy Ismalina.

Poppy membeberkan, 89,34 persen usaha di Indonesia berskala UKM. Tak heran sektor ini menjadi penyerap tenanga kerja terbesar saat ini yakni sekitar 58,35 persen dari total tenaga kerja yang ada.

“Makannya Pemulihan Ekonomi Nasional tidak boleh abai terhadap potensi yang ada di daerah,” ungkap Poppy dalam Bincang-bincang Wisma Hijau dengan topik Ekonomi Berkeadilan dan Berkelanjutan, Jumat (25/9/2020) melalui kanal Zoom.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon, Bakti Artanta menyebut di wilayah Ciayumajakuning, Jawa Barat, aktivitas ekonomi di tengah pandemi sangat bertumpu pada sektor pemanfaatan sumber daya alam (SDA).

Yakni pertanian, perkebunan dan perikanan serta produk turunannya. Sehingga, laju pertumbuhan ekonomi dinilai dalam ambang batas aman.

“Kami sampaikan bahwa di Ciayumajakuning ini masih bisa survive dari ancaman krisis ekonomi. Para petani nelayan ini lebih survive. Mereka tidak banyak terpengaruh. Seperti di Indramayu misalnya. Yang ekonominya masih ditopang sumber daya alam,” ujar Bakti saat ditemui di kantornya, Senin (28/9/2020).

Menyadari peran dan potensi desa dalam mendukung PEN, PT Pertamina (Persero) melalui Integrated Terminal Balongan, Marketing Operation Region (MOR) III menginiasi pemberdayaan ibu-ibu di Desa Balongan, Indramayu.

MOR III membentuk kelompok Olahan Makanan Sehat di wilayah Balongan atau lebih dikenal OMSET Balongan sejak Mei 2019 sebagai salah satu implementasi CSR di bidang pemberedayaan masyarakat.

OMSET Balongan merupakan wadah bagi ibu-ibu di Desa Balongan. Mereka mengolah ikan segar menjadi makanan praktis yang mengandung nilai gizi tinggi. Seperti nugget, bakso, siomay dan pempek. Sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan vitalitas tubuh.

Salah satu penggerak OMSET Balongan, Eliyawati menjelaskan, meski tak mudah menjalankan usaha di tengah daya beli masyarakat yang sedang menurun, namun tidak menyurutkan semangatnya dan kawan-kawan untuk berdaya.

Tantangan jelas ada. Bahkan OMSET Balongan sempat tidak beraktivitas pada awal masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap 1 yakni Maret hingga Juli 2020.

Tapi seiring dengan PSBB transisi, sejak Agustus 2020 kelompok OMSET Balongan mulai beraktivitas kembali, melakukan produksi mengolah hasil laut bersama dengan beberapa anggotanya.

Proses pemilihan bahan baku, pengolahan, produksi hingga pemasaran langsung dilakukan dengan menerapkan protokol Covid-19 ketat. Seperti selalu mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, menggunakan masker dan menjaga jarak.

Biasanya produk olahan OMSET Balongan dipasarkan di Kantor Desa Balongan. Imbas pandemi, masyarakat mengurangi aktivitas keluar rumah sehingga pemasaran langsung dirasa Eliyawati tak lagi efektif.

“Kami mengembangkan penjualan secara online melalui handphone dan mengantarkan ke rumah konsumen,” kata katanya.

Selain menyuplai kebutuhan gizi pelanggannya melalui produk olahan berbahan dasar ikan segar, aktivitas OMSET Balongan juga turut membantu memutar roda ekonomi masyarakat pesisir. Pasalnya, suplai ikan didapat dari nelayan di sekitar Balongan.

Unit Manager Communication Relations and CSR MOR III Eko Kristiawan saat dihubungi, Rabu (30/9/2020) menjelaskan OMSET Balongan menjadi contoh nyata kepedulian BUMN dalam pemberdayaan masyarakat. Pihaknya berkomitmen membantu peningkatan produksi olahan OMSET Balongan.

Di antaranya berupa pembangunan rumah produksi, serta pengadaan peralatan dan bahan untuk produksi makanan olahan ini. Selain itu, membantu proses perijinan seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT).

“Pada jangka panjang, semoga kegiatan ini dapat mendukung peningkatan gizi di wilayah Indramayu, sekaligus menjadi pemberdayaan masyarakat dan memiliki kontribusi pada perekonomian masyarakat juga,” jelas Eko.

Selain OMSET Balongan, ada ribuan UKM Binaan PT Pertamina lainnya yang siap mendukung pemberdayaan ekonomi di pedesaan. Eko menjelaskan, pencapaian UKM Binaan ini bervariasi.

“Tapi kami fokus untuk mengembangkan usaha mitra binaan agar dapat berjalan lancar usahanya, berkembang dan dapat mandiri. Untuk itu selain pinjaman modal usaha juga dilakukan pembinaan dan pendampingan,” pungkasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!