Peringati Hari Santri, IQTAF Undang Dua Tokoh Nasional

Peringati Hari Santri, IQTAF Undang Dua Tokoh Nasional

RAKYATCIREBON.ID – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Quran n dan Tafsir (IQTAF) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon menggelar Webinar Nasional. Acara yang berlangsung Via Zoom Meeting itu mengangkat tema Optimalisasi Khazanah Tafsir Al-Qur’an di Pesantren sebagai Motor Moderasi Islam di Indonesia,  Sabtu (7/11).

Ketua HMJ IQTAF, Fasfah Sofhal Jamil mengaku memang kegiatan ini sebagai upaya memperingati Hari Santri Nasional. “Meskipun pelaksanaannya tanggal 7 November, namun masih dalam suasana dan spirit santri yang sama,” katanya

Dr Hajam MAg selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) mengapresiasi kegiatan ini yang telah menghadirkan tokoh nasional.

“Kita kenal Zuhairi Misrawi ini cendekiawan muslim muda, juga Prof. Syafiq dikenal peneliti dan salah satu tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” kata Hajam.

Menurutnya, menghadirkan dua tokoh dari NU dan Muhammadiyah ini merupakan sinergi kekuatan bangsa, karena ada di ormas ini selalu mengusung moderasi Islam yang sekarang menjadi distingsi Kemanag

“Tema yang diangkatpu bagus, karena telah menjadi kebutuhan, menjadi keniscayaan, bahwa di era milenial ini kita harus mendekati moderasi dan menjauhi sikap ekstrimisme,” ujarnya.

Prof Syafiq A Mughni MA PhD selaku narasumber pertama menyampaikan, tema ini guna mengakji persoalan yang penting, dalam rangkan membangun kegidupan keagamaan yang sesuai dengang karakter ajaran Islam, atau yang kita sebut moderasi

“Ada banyak model penafsiran kontemporer, bukan hanya beda dari pendekatan, sudut lain semakin beragam. Ada model full tafsir secara keseluruhan dan ada juga parsial,” kata Syafiq.

Lebih lanjut, kata Syafiq, tafsir itu telah di kaji disiplin ilmu, salah satu diantaranya tafsir mushafi, atau menurut urutan pada umumnya. Dan ada pula nuzuli atau menurut urutan turunnya

“Ada juga beberapa pendekatan tertentu, seperti Tafsir Ahkam. Selain itu Ada juga tulisan Dawam Raharjo dengan judul Ensiklopedi Al-Qur’an, yakni tafsir sosial berdasarkan konsep-konsep kunci, ia banyak menggunakan ilmu sosial untuk menafsirkan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Banyak ulama dari Indonesia yang telah berkarya di bidang tafsir, salah satunya Al-Ibriz, Al-Furqon dari Persis Bangil, Tafsir Attanwir dari Muhammadiyah, ada juga tafsir hubungan antar Agama.

Sementara itu, narasumber kedua, Gus Zuhairi Misrawi mengatakan Studi Al-Quran dan moderasi menjadi studi yang sangat penting karena muslim Indonesia hidup dalam suasana kebatinan. Karena saat ini ada pembajakan terhadap Islam. Islam dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Memang kita hidup seperti yang dikatakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd bahwa kita hidup dalam peradaban Al-Quran,” kata Gus Mis  

Ia mengaku bahwa Ruh moderasi itu ada pada Tafsir, terutama pada tafsir Surah Al-Fatihah. “Yang harus memegang Islam di Indonesia itu orang-orang dari jurusan Tafsir Hadis. Ustad-ustad yang tampil akan diisi oleh teman-teman sekalian,” katanya

Mengapa orang-orang muslim terbelakang dan yang lain telah maju? Lanjut dia,  Alasannya karena umat Islam jauh dari peradabannya, yaitu jauh dari peradaban Al-Quran

Narasumber terakhir, Muhamad Sofi Mubarok mengungkapkan, Hizbut Tahrir mulai menyeruak kembali,  ini menjadi salah satu fenomena umat Islam di Indonesia secara khusus. 

“Hizbut Tahrir merupakan fenomena kesejarahan sirkular umat Islam yang mengkritik hegemoni Barat lantaran menancapkan pengaruh sekularisme agama di satu sisi, serta respons atas kejatuhan Turki ‘Utsmani, Palestina dan pecahnya beberapa negara Timur Tengah di sisi lain,” kata Sofi. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!