Pernah Jualan Jamu Gendong, Kini Bertahan Hidup Jadi Pemulung

Pernah Jualan Jamu Gendong, Kini Bertahan Hidup Jadi Pemulung

Semangat Sukinah, Nenek Berusia 100 Tahun di Hari Kemerdekaan RI

Hembusan angin laut menyelinap di balik rumah-rumah warga di Pesisir Kelurahan Samadikun. Bendera kebangsaan Indonesia berkibar di depan rumah-rumah warga. 


Sudah jadi budaya dan rasa penghormatan kepada para pejuang, setiap tanggal 17 Agustus di depan rumah warga dipasang bendera merah putih.

NAMUN pemandangan yang berbeda nampak begitu mencolok. Sedikit jauh dengan pemukiman warga pesisir, ada rumah gubuk yang tak berbendera.

Sukinah cari barang rongsokan
Sukinah cari barang rongsokan. Foto: Sudirman/Rakyat Cirebon

Di samping rumah gubuk itu pun terdapat tempat pembuangan sampah sementera (TPS) dadakan.

Bau tak sedap yang berasal dari tumpukan sampah sampai ke rumah gubuk yang tak berbendera itu, seakan melunturkan semangat kemerdekaan si pemilik rumah.

Nampak, seorang nenek-nenek sedang memilah-milah sampah di tengah-tengah TPS itu.

Dengan membawa karung dan sebilah kayu, nenek itu teliti memilah sampah. Mana yang masih memiliki nilai ekonomis dan mana yang tidak.

Nenek Sukinah namanya. Usianya sudah mencapai 100 tahun lebih. Nenek asli keturunan Solo itu rupanya sudah puluhan tahun hidup di Cirebon. Tapi memiliki etos kerja yang tinggi.

Kulitnya yang sudah mengendor bukan jaminan baginya untuk bersantai, atau menonton lomba 17-an yang sering digelar di kampung-kampung.

Siang itu, Rabu (17/8), merupakan hari bersejarah bagi Indonesia tentunya. Tetapi, Sukinah mengaku, bahwa dirinya tak tahu jika hari itu adalah hari kemerdekaan.

Sukinah pun lebih memilih bekerja. Karena, jika tak bekerja atau memulung, dapurnya pun tak ngebul. Saat ditanya soal hari kemerdekaan, Sukinah pun hanya bengong dan malah bertanya balik.

“Tidak tahu. Merdeka? Wong aku sudah tua, aku lupa. Merdeka apa ya?,” kata Sukinah saat berbincang dengan Rakyat Cirebon.

Ia mengaku benar-benar tidak tahu jika hari ini adalah kemerdekaan Indonesia. Tapi, nenek yang usianya sudah 100 tahun lebih itu menjawab dengan lancar. Meski sesekali otaknya harus mengingat-mengingat pada masa penjajahan dulu.

“Bapak ku anaknya enam. Bapak ikut perang, ngumpet-ngumpet kalau ada pejajah. Ya ingat, aku sudah gede, waktu itu aku masih di Solo,” ceritanya.

Tempat singgah keduanya, setelah Solo adalah Sumatera. Sukinah menceritakan, bahwa dirinya sempat menuju ke pulau sebrang dengan iming-imingi pekerjaan dan upah yang lumayan. Tapi sayangnya, selama du tahun di Sumatera dirinya malah tak mendapatkan upah layak.

“Lupanya waktu tahun berapa. Setelah dari Sumatera itu, baru aku ke Cirebon,” ucapnya seraya mengingat usianya dan tahun kedatangan awalnya di Kota Cirebon.

Yang ia ingat, saat pertama kali menginjakan kaki di Cirebon adalah berjualan jamu gendong keliling.

Kejayaan jamu gendong miliknya kini sudah hilang. Sukinah hanya bisa bertumpu pada sampah rumah tangga dan pabrik-pabrik.

Ia juga mengaku, sudah ditinggal oleh suaminya yang lebih dulu menghadap Sang Kuasa.
Hasil pernikahannya dengan suaminya, Sukinah memiliki 4 orang anak.

Tiga anaknya tinggal bersamanya dan satu anak pergi ke luar kota.

“Empat tahunan lebih memulung,” akunya. Sukinah juga mengaku sempat mati suri. “Nafas udah sesak mas. Anak saya pada di samping saya, nangisin saya. Alhamdulillah diberi hidup lagi,” katanya.

Diceritakannya, dengan memulung, dirinya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp150 ribu perminggu. Itupun dibantu dengan anak-anaknya.

“Buat bareng-bareng sama anak. Makannya cuma mi instan sama bubur saja sehari-harinya. Kadang juga beli oreg-oreg,” katanya.

Sementara itu, Sumarni (45) salah seorang anak Sukinah membenarkan jika usia ibunya sudab mencapai 100 tahun lebih. Ia juga meceritakan tentang kondisi ibunya dan keluarganya.

“Ya kaya gini mas, sehari-harinya,” ucapnya. (Sudirman Wamad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!