Petani Balad Sebut PSDAP Tidak Peka

7
Pintu Pengaturan Aliran Air Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun

DUKUPUNTANG– Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) menjadi sorotan. Setelah kepala dinasnya diminta turun oleh kelompok tani yang berunjuk rasa di Kantor Bupati Cirebon, giliran petani Desa Balad Kecamatan Dukupuntang yang mempersoalakan kinerja DPSDAP.

petani balad
Petani Balad. Foto : Ahmad Ashari/Rakyat Cirebon

Para petani menganggap DPSDAP tidak peka karena membiarkan begitu saja pintu pengatur aliran air di Sungai Cigong.Diketahui, alat untuk membuka pintu air tersebut telah rusak sejak dua tahun yang lalu. Akibat kerusakan tersebut, pintu air tidak dapat dibuka secara penuh sehingga mengganggu pasokan air untuk para petani desa setempat. 

Padahal di musim kemarau seperti ini, pasokan air sangat dibutuhkan para petani. “Pintu air ini kan seharusnya bisa diangkat dan diturunkan, tapi karena ada yang hilang jadi tidak bisa diangkat. Tapi ironis kok dibiarkan saja padahal petugas ada yang suka mantau ke sini,” jelas warga Desa Balad kepada Rakyat Cirebon, Aldi sambil menunjukan alas yang rusak, kemarin.

Dikatakan Aldi, bukan hanya pasokan air yang terbatas namun petani juga dihadapkan pada pengusaha batu alam dan pemilik kolam ikan yang ada di sana. Tidak jarang juga, lanjut Aldi, terjadi adu mulut antara petani dan pengusaha batu alam.“Air yang keluar dari pintu air ini mengaliri sawah yang ada di Desa Balad dan Kepunduan. Sebelum ke areal persawahan, irigasi juga mengairi pengusaha batu alam,” tuturnya.

Hal senada dikatakan Anen (40). Warga Dukupuntang ini menambahkan, sebelumnya sepuluh petani sempat mencoba membuka pintu air tersebut dengan menggunakan linggis dan alat lainnya. “Namun tetap tidak dapat mengangkatnya,” katanya.Beruntung, lanjut Anen, masih ada celah sehingga air masih mengalir meski sedikit.

Agar airnya bisa mengalir pada pintu air yang tertutup, lanjut Anen, para petani sengaja membendung aliran lainnya dengan menggunakan batang pisang. “Kan ada dua pintu yang satu cukup besar. Nah, supaya tidak kebuang semua makanya ditutup dengan batang pisang. Kami harap pemerintah jangan tutup mata terkait persoalan ini,” imbuh dia. (ari)

BAGIKAN