Petani Majalengka Keluhkan Air Limbah

8
Cemari Sumber Pengairan Area Sawah 

PALASAH – Petani di kawasan Utara Kabupaten Majalengka, tepatnya di wilayah Kecamatan Palasah mengeluhkan air buangan limbah pabrik pengolahan batu. Pasalnya, air limbah pengolahan batu yang berada di wilayah Sukahaji tersebut dialirkan ke sungai yang menjadi sumber pengairan areal pertanian.

pencemaran limbah majalengka
Penceraman limbah. Foto : Herik Diana/Rakyat Majalengka

Menurut Informasi yang diperoleh Raja dari salah seorang petani, Tardi menyebutkan, akibat aktifitas pengolahan batu yang berada di bagian hulu sungai Cijuray membuat air sungai tercemar. Air sungai yang semula bersih, sekarang berubah keruh dan membuat anak sungai mengalami pendangkalan.

”Keberadaan industri pengolahan batu telah berdampak terhadap air sungai Cijuray yang mengalir ke wilayah Palasah. Air sungai menjadi keruh dan berakibat pendangkalan pada permukaan sungai,” ungkap Tardi, petani setempat kepada Rakyat Majalengka (Rakyat Cirebon Group), Senin (5/10).

Karena telah berlangsung lama, dan tidak ada penanganan sungai Cijuray yang dulunya bersih dan dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan, termasuk mencuci sekarang lebih banyak dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Itupun, kata Tardi, terpaksa dilakukan para petani, karena tak ada sumber pengairan alternatif. “Walaupun kotor dan berlumpur, air sungai tetap dipergunakan oleh petani karena tidak ada cara lain,” ujarnya.

Menurutnya, air sungai yang tercemar limbah batu sangat berdampak pada produksi pertanian. Selain menyebabkan pendangkalan pada saluran irigasi, sebagian tanaman padi tidak dapat tumbuh normal atau kuntet. “Pengaruhnya ada, karena itu permasalahan ini kami sampaikan kepada pihak terkait di Majalengka,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Majalengka, H Fuad Abdul Azis yang ditemui terpisah mengatakan, permasalahan yang dikeluhkan para petani tersebut sudah pernah dibahas oleh pihaknya bersama OPD terkait. Bahkan, kata Fuad, Komisi B sudah turun langsung ke lapangan, dan melakukan dialog langsung dengan petani termasuk petugas pertanian di wilayah setempat.

“Saat itu, kami dari Komisi B mendengar langsung keluhan petani ini terkait limbah industri pengolahan batu yang menyebabkan tercemarnya air sungai yang diantaranya dimanfaatkan untuk mengairi areal pertanian,” ujar Fuad yang juga Ketua DPC  Partai Demokrat Kabupaten Majalengka.

Ia mengatakan, untuk menindaklanjuti pertemuan dan keluhan dari petani, Komisi B meminta pihak terkait, termasuk BPLH untuk segera turun ke lapangan melakukan pemeriksaan. ”Masalah ini memang harus disikapi dan ditindaklanjuti. Karena akan berpengaruh pada produksi pertanian yang akhirnya akan berimbas pula pada program swasembada pangan yang dicanangkan oleh pemerintah,” pungkasnya.(hsn/mgg)

BAGIKAN