Petani Majalengka Minta Saluran Pengairan Diperhatikan

9
JATITUJUH– Setelah berulangkali dilakukan peninjauan, saluran pengairan sawah di Desa Sumber Wetan, Kecamatan Jatitujuh, belum juga mendapat perhatian pemerintah. Akibatnya, setiap memasuki kemarau panjang, sejumlah sawah di sekitar lokasi tersebut mengalami kesulitan pengairan.

petani majalengka
Petani Majalengka. Foto : Hasanudin/Rakyat Majalengka

Warga yang menggunakan air dari saluran tersebut pun terpaksa harus antre, saat akan mengairi sawahnya. Selama 24 jam secara terjadwal, setiap kepala keluarga harus menunggu demi mendapat giliran air. “Tidak kenal waktu, kalau kebagiannya malam atau pagi hari terpaksa harus sabar menunggu antrean,” kata Hendri (31), salah seorang warga di lingkungan tersebut ketika dikonfirmasi Rakyat Majalengka (Rakyat Cirebon Group), Rabu (14/10).

Lamanya antrean tersebut lanjut Hendri, dikarenakan volume air yang berkurang. Setiap kali memasuki musim kemarau, selain mengalami minimnya volume air dari hulu, jumlah air semakin berkurang akibat penyerapan yang terjadi di sepanjang jalur. “Jarak saluran kurang lebih tiga kilometer dari hulu ke hilir, luas sawah sekitar 10 hektare dari 30 warga. Warga yang sawahnya paling ujung seringkali tidak pernah tuntas ketika terjadwal pengairan,” katanya.

Menurut Hendri, kendala yang terjadi dalam pengelolaan pertanian tersebut berlangsung setiap tahun. Setiap kali memasuki musim kemarau, aktivitas pertanian dipastikan mengalami kendala pengairan.
“Ada tujuh titik yang membuat air terbuang percuma. Mau musim hujan atau kemarau setiap penyangga sering jebol,” paparnya.

Solusi dalam menangani masalah tersebut, menurut Hendri, bisa teratasi dengan membenteng semua titik rawan. Jika ketujuh titik tersebut kokoh, ia menjamin, volume air dari hulu menuju hilir tidak akan terbuang. “Kalau mata airnya alhamdulillah tidak pernah mati. Musim kemarau panjang pun air tetap ada walaupun kecil. Hanya serapannya saja yang jadi kendala,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Hendri, pernah melakukan peninjuan ke lokasi saluran tersebut, namun hingga kini belum ada tindak lanjut apapun. Padahal peninjauan tersebut sudah dilakukan sejak tiga tahun yang lalu. “Tahun ini juga sudah ditinjau lagi dari kabupaten, tapi belum ada info tindak lanjutnya,” pungkasnya.(hsn/mgg)

BAGIKAN