PLTU Sumuradem Belum Beroperasi

Kekurangan Pasokan Disuplai 3 Subsitem, Korban Luka Masih Dirawat

SUKRA– Manajemen Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu harus menghentikan sementara operasional pasca terjadinya kebakaran pada Minggu (4/10) dini hari. Selain untuk melakukan investigasi, juga diperlukan upaya perbaikan pada sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan.

pltu sumur adem indramayu
Manajemen PLTU Sumur Adem Indramayu. Foto : Tardiarto Azza/Rakyat Cirebon

Hal itu disampaikan Direktur Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero), Iwan Supangkat dalam keterangannya dihadapan sejumlah awak media, Senin (5/10) di ruang rapat perkantoran PLTU Indramayu. Dikatakan Iwan, hingga Senin siang kemarin, PLTU berkapasitas 3X330 Mega Watt (MW) tersebut belum bisa beroperasi.

“Saat ini masih masa pemulihan pasca insiden kebakaran, 3 unit pembangkit masing-masing berkapasitas 330 Mega Watt masih shutdown belum dioperasikan. Mudah-mudahan segera selesai dan kembali beroperasi,” jelasnya diamini Direktur Produksi PT PJB, Yuddy Setyo Wicaksono kepada Rakyat Cirebon. Dipaparkan Iwan, kebakaran yang melukai 10 operator sekitar pukul 00.15 tersebut terjadi di bagian fasilitas pendukung pada salah satu dari 6 jalur transportasi batubara.

Kobaran api yang cepat membesar dapat diatasi hingga pukul 04.00 oleh petugas dan pekerja PLTU setempat dengan mendatangkan tim pemadam kebakaran dari Pemerintah Kabupaten Indramayu.
“Kebakaran terjadi pada fasilitas pendukung, yaitu cool crushier untuk menghancurkan batubara sebelum dimasukkan ke dalam pembangkit dengan kondisi halus untuk disemprotkan,” terangnya.
Saat dioperasikan, lanjutnya, pembangkit dipastikan selalu bertemperatur tinggi, sehingga ada banyak kemungkinan yang biasa terjadi.

“Kemungkinan sekecil 1 persen pun sangat mungkin terjadi dengan temperatur yang tinggi. Termasuk kemungkinan batubara terbakar sendiri, karena terdapat banyak unsur dan lokasi kebakaran bisa dimana saja,” kata dia. Sementara itu, terjadinya gangguan akibat kebakaran itu tidak menyebabkan pemadaman dan pasokan listrik tidak terganggu. Termasuk pasokan untuk wilayah Sumedang, Cirebon, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, dan sejumlah daerah lainnya.
Hal itu tertangani dengan cara mengoptimalkan pasokan dari Subsistem Cibatu, Bekasi, dan Mandirancan.

“Penyebab kebakaran dan rencana pemulihannya dalam investigasi. Untuk proses pemulihan kembali akan kami upayakan secepatnya, diperkirakan butuh 20 hari. Untuk besaran kerugian masih sedang dihitung secara cermat,” tandasnya.

TIDAK ADA KORBAN JIWA
Sementara itu, sepuluh korban luka kebakaran di Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu masih menjalani perawatan intensif di ruang isolasi 3 rumah sakit di Jakarta.  PT PLN (Persero) berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan dan memberikan jaminan asuransi kepada semua korbannya.

Direktur Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero) didampingi GM Unit PJB, Karyawan Aji mengatakan, dalam insiden kebakaran di salah satu dari 3 unit pembangkit pada PLTU Indramayu di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra itu tidak ada korban jiwa atau meninggal dunia. “10 korban itu sebelumnya berupaya memadamkan api dan mengisolasi lokasi kebakaran. Semua korban sudah ditangani tim medis dan dirujuk ke rumah sakit yang kami anggap mampu menangani dengan kelengkapan peralatannya,” jelasnya.

Menurutnya, selama Minggu dini hari hingga malam pihaknya intensif menyelamatkan 10 korban yang mengalami luka bakar serius tersebut. Langkah dilakukan sesuai komitmen manajemen yang memprioritaskan penyelamatan terhadap sumber daya manusia (SDM) secara maksimal agar tidak terjadi korban jiwa. “Kami prioritaskan selamatkan nyawa korban. Sesuai rujukan rumah sakit yang menangani semua korban, kami merujuknya ke rumah sakit di Jakarta dengan pertimbangan kelengkapan fasilitas untuk korban luka bakar,” paparnya.

Hingga Senin kemarin, seluruh korban masih menjalani perawatan intensif di 3 rumah sakit. Yakni 3 orang di RS Pertamina Pusat (RSPP), 5 orang di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan 2 orang di RS Thamrin. “Kondisi terkini para korban masih kami pantau. Mudah-mudahan bisa ditangani dengan baik dan kondisinya cepat membaik,” ujarnya. Kesepuluh korban, imbuhnya, merupakan pahlawan yang telah menyelamatkan aset perusahaan. “Seluruh biaya pengobatan ditanggung perusahaan dan dipastikan mendapat jaminan asuransi,” pungkasnya. (tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!