PMII Geram Organisasinya Dicatut Calon

9
Belum Bersikap di Konfercab Ansor, Akui Sayangkan Sikap Maman 


INDRAMAYU – Polemik perebutan kekuasaan di tubuh PC GP Ansor Kabupaten Indramayu terus berlanjut, kini giliran PC PMII Indramayu geram sikap Maman Fathurrahman yang mengharamkan Banom NU tersebut dipimpin kembali oleh rezim Kampus Putih Segeran.

Asep Saepudin. Ist./Rakyat Cirebon

Sekretaris Umum PC PMII Indramayu Asep Saefudin memastikan pernyataan mantan Sekretaris Umum PMII belum lama ini hanya bersifat pribadi bukan atas nama keluarga besar organisasi salah satu ekstra kampus tersebut. “Kami pastikan dia (Maman, Red) bukan atas nama organisasi, karena hingga saat ini kami belum bersikap akan memosisikan kader terbaik PMII maju sebagi Ketua PC GP Ansor,” tegasnya kepada Rakyat Cirebon.

Asep juga menyayangkan pernyataan Maman yang mengharamkan Ansor dipimpin salah satu gerbong besar tokoh NU yang dikomandoi H Abas Assafah, menurutnya PMII terbuka kepada siapapun memimpin Ansor. “Baik dari bani abasiyah, juhadiyah atau wahidiyah menurut kami sama saja, yang penting memenuhi syarat organisasi dan memiliki kompetensi kepemimpinan,” tegasnya.

Ditambahkan, sebagai kader muda NU yang konsisten dalam mengusung idiologi ahlusunnah waljamaah sangat tidak bijak jika momentum konfrensi cabang (Konfercab) lebih menonjolkan kepada publik aspek perebutan kekuasaannya. “Seharusnya yang ditonjolkan adalah pertarungan gagasan atau ide yang membangun Ansor kedepan agar jauh lebih baik dimasa mendatang,” ketusnya.

Ia mengaku jauh lebih tertarik menyoroti proses kaderisasi ansor sebagai organisasi kader, kedepan harus dibenahi, jika diberikan keran dan peran PMII diakuinya memiliki kader yang kompeten dalam menjalankan kaderisasi Ansor yang selama ini belum maksimal. “Setiap tahun PMII menelorkan calon pemimpin daerah yang memiliki kapasitas, kualitas intelektualitas, integritas dan kapasitas memanage organisasi yang baik, karena periode Ketua Umum PMII hanya 1 tahun,” kata dia.

Ia mengimbau agar semua pihak bersatu, karena dengan adanya bani atau gerbong akan semakin tidak bisa membuktikan kebesaran anak muda NU, ia mengaku optimis periode mendatang akan bisa berjalan dengan baik sistem kaderisasi di Ansor jika tidak menonjolkan pertarungan yang menyebabkan terpecah belah. “Periode mendatang sudah harus bisa membentuk ranting di semua desa dan PAC di semua kecamatan, kami optimis itu bisa diselesaikan dalam satu periode mendatang,” ungkapnya.

Selain itu, Kader muda NU, Arif Kurniawan menyatakan melihat banyaknya calon yang saling menghujat apalagi mengharamkan bani atau gerbong untuk memimpin Ansor sangat tidak dewasa, ia merasa Ansor milik semua golongan warga NU. “Ansor bukan milik satu golongan, atau kelompok saja tapi semua umat,” tukasnya.

Arif menggaris bawahi Ansor adalah organisasi pergerakan hal itu tercermin dari nama Gerakan Pemuda (GP) Ansor itu sendiri, sehingga sangat tidak layak jika kinerja ansor layaknya organisasi kelas paguyuban. Terpenting itu menegaskan akan arti dari pergerakkannya bukan sebatas paguyuban semata dimana tak mencerminkan ‎nahusorob harokatnya yakni ada bunyi.

“Ansor itu adalah lembaga strategis yang dimana banyak didalamnya sebuah hal bermanfaat bagi umat kalau diam saja tentu sangat disayangkan, gerakan jangan sekedar nakhu sorofnya saja tapi harus ada bunyi,” bebernya.

Lanjut Arif, melihat 15 tahun kebelakang keberadaan Ansor dianggapnya tidak ada gerakan yang signifikan hal itu menurutnya sangat disayangkan. “Kalau diruang lingkup kecil dan sebatas kegiatan saja, irmas juga bisa,” pungkasnya. (laz)

BAGIKAN