Politik Dinasti Dibuat Skripsi di UIN Jakarta

5
Mahasiswa Indramayu Diminta Ikut Membangun Kemajuan Demokrasi

INDRAMAYU – Politik dinasti di Indramayu sudah menjadi perhatian nasional, salah satunya sampai diangkat menjadi tema skripsi oleh mahasiwa di Fisip UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tema tersebut diangkat dengan harapan adanya pembelajaran politik untuk masyarakat dalam rangka clean and good governance (pemerintahan yang baik dan bersih) di Kabupaten Indramayu.

uin jakarta
UIN Jakarta. Image by kesmas.fkik.uinjkt.ac.id

Hal itu diungkapkan oleh mahasiswa asal Kandanghaur Indramayu, Bung Fay sekaligus Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini mengaku dirinya melakukan penelitian di Indramayu. “Saya mengangkat skripsi ini karena saya melihat daerah kelahiran saya (Indramayu) sangat tertinggal dari daerah lain. Semoga hasilnya nanti bisa bermanfaat untuk kemajuan Indramayu,” ujarnya kepada Rakyat Cirebon, Sabtu (3/10/15).

Ia menjelaskan, dalam skripsi tersebut berjudul “Pengaruh Politik Kekerabatan Terhadap Terbentuknya Dinasti Politik di Indramayu Tahun 2000-2015”, dengan metode menggunakan penelitian kualitatif yang dianalisis dengan kerangka teori dan hasil penelitian di lapangan. Ia mengaku akan mengupas terkait keterlibatan keluarga Irianto MS Syafiuddin (Yance) dalam upaya melanggengkan dinasti politik di Indramayu, baik secara garis keturuan maupun upaya membangun kekuatan lain seperti di birokrasi, PNS, Ulama, LSM, dan yang lainnya.

“Pokoknya di sektor agama, pendidikan, ekonomi, hukum dan politik. Terus juga terkait perjalanan dinasti selama 15 tahun dalam upayanya meraih kekuasaan,” jelasnya. Ditambahkan, adapun alasan dari tema tersebut diangkat adalah masih jarangnya kajian tentang politik di Indonesia yang mengupas secara mendalam terkait peran pemerintah dalam memberikan pendidikan politik untuk masyarakat. “Kalaupun ada masih sebatas normatif,” terangnya.

Alasan lainnya, dinasti politik yang terjadi di Indramayu dipahami sebagai bentuk pembajakan terhadap demokrasi. Pasalnya, meski demokrasi memberikan ruang terjadinya dinasti politik, namun tidak dipahami sebagai strategi namun sebatas upaya untuk menguasai. “Harusnya dinasti politik ada dua kriteria yang diangkat, yakni kapasitas dan integritas dari aktor. Akhir-akhir ini saya belum melihat kedua kriteria itu tidak ada,” jelasnya.

Alasan ketiga, tidak adanya peran pemerintah daerah dalam berupaya untuk mencerdaskan warganya seperti cita-cita dalam pembukaan UUD 1945. “Pemerintah harus berperan sebagai negara dalam upaya mencerdaskan masyarakat,” katanya. Ia menjelaskan berbicara harapan dengan diangkatnya tema tersebut, agar dapat mengingatkan kepada pemerintah dan masyarakat di Indramayu terutama kelas menengah seperti para aktivis, akademisi, dan mahasiswa.

“Untuk pemerintah, semoga dapat menyampaikan niat baiknya untuk memberikan kecerdasan kepada masyarakat yang clean and good governance,” jelasnya. Selain itu, untuk mahasiswa dan para aktivis, harapannya agar mereka terus bersuara dan berupaya mengingatkan pemerintah agar melaksanakan niat baiknya dalam memberikan pelayanan dan kecerdasan kepada masyarakat.

“Sebagaimana mahasiswa dan aktivis itu ada tak lebih sebagai controlling pemerintah agar selalu memberikan pelayanan dan kecerdasan pada masyarakat,” pungkasnya. Selain itu, Tokoh sekaligus Akademisi di Indramayu, Hadi Santosa Farhan menyatakan dengan apa yang dilakukan Fay, memang sudah selayaknya diikuti oleh mahasiswa Indramayu lainnya yang menempuh studi diluar kota maupun di daerah sendiri.

“Jika mahasiswa di Indramayu mengikuti, tentu secara tidak langsung akan mencerdaskan masyarakat itu sendiri tentang apa makna dari dinasti politik tersebut apakah positif atau tidak bagi perkembangan pembangunan di daerah,” Kata dia. (laz)

BAGIKAN