Putri Jianti, Lestarikan Warisan Leluhur

105
Putri Jianti

KARTINI bukan sekadar sosok dalam sejarah yang kita peringati hari lahirnya setiap tahun. Lebih dari itu, Kartini sudah semestinya menjadi inspirasi kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya.

Bahkan sebagai sosok yang memberi inspirasi, keteladanan Kartini janganlah sampai hanya terjebak pada seremonial-seremonial semu semata, namun juga mesti mengejewantah dalam pribadi perempuan Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini dengan berbagai macam hal. Peringatan tersebut selain demi meresapi semangat perjuangan Kartini, juga bermanfaat untuk membangkitkan gairah prestasi perempuan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Salah satunya adalah aspek kebudayaan yang merupakan asas fundamental  bangsa. Masyarakat  rindu akan sosok perempuan Indonesia yang memiliki semangat juang Kartini pada dimensi kebudayan luhur yang lahir dari tradisi nenek moyang bangsa kita.

Sosok tersebut tampak pada diri Putri Jianti, seorang dara kelahiran Kuningan, Jawa Barat 30 Desember 1996. Selain memiliki pencapaian gemilang pada pendididkannya, turut pula mampu melestarikan dan menumbuh-kembangkan kebudayaan warisan leluhur.

Di saat generasi muda kekinian banyak terlena dengan musik yang berasal dari Barat maupun negara lain seperti Korea, mahasiswi yang kini tengah menempuh pendidikan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini memilih untuk lebih mencintai budaya tanah kelahirannya sendiri. Kecintaan tersebut dia tunjukkan dengan menekuni permainan kecapi dan juga nyanyian pupuh Sunda.

“Saya lebih senang belajar bermain alat musik yang menjadi warisan budaya kita, kecapi, seruling, angklung,” ungkap Putri.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Selain begitu melekat erat dengan kebudayaan Sunda sebagai tanah kelahirannya, Putri juga tenyata menujukkan dirinya sebagai perempuan yang mampu mengoptimalkan potensinya dengan aktif di berbagai organisasi dan pergerakan, akademik maupun sosial.

Hingga saat ini Putri tercatat sebagai pengurus dan fungsionaris di PSM (Paduan Suara Mahasiswa), IMK (Ikatan Mahasiswa Kuningan), KPM (Korps Protokoler Mahasiswa), dan KOHATI (Korps HMI-wati) HMI cabang Cirebon. Putri juga kerapkali diminta untuk memandu acara sebagai MC pada seminar, workshop, dan semcamnya. Baik di dalam maupun di luar kampus.

Aktif di berbagai organisasi tidak lantas membuat Putri melupakan kewajiban akademisnya. Di tengah seabrek kegiatan organisasi, ditambah lagi dengan kerja paruh waktu yang dia jalani demi membiayai kuliahnya.  Putri masih mampu meraih IPK yang tidak pernah kurang dari 3.25. Suatu prestasi yang mengagumkan mengingat kesibukan dirinya yang begitu padat.

Semangat seorang Kartini bagi Putri bukan hanya sekadar peringatan seremonial tahunan semata. Melainkan sesuatu yang sudah menjadi darah dagingnya sehari-sehari. Inspirasi Kartini adalah penyala bagi semangatnya.

“Dari Kartini saya belajar bahwa seorang perempuan harus mampu berdiri dan mandiri demi mengejar mimpi-mimpinya. Tidak ada yang mampu membawa seorang perempuan bangkit dan meraih impiannya selain daripada perempuan itu sendiri. Kartini mengajarkan kepada kita bahwa kita, sebagai perempuan harus berani menciptakan kesempatan kita sendiri,” ungkapnya dengan ketegasan yang menggugah. (sep)


BAGIKAN