PVMBG: Bulan Desember Wilayah Sukabumi, Bandung, Garut, Bogor Berpotensi Longsor

87
DATANGI LOKASI: Retakan tanah yang terjadi di daerah Cikalong Wetan KBB sedang dilakukan penelitian dengan mengukuran.

RAKYATCIREBON.ID-Memasuki akhir tahun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memberikan peringatan dini kepada seluruh masyarakat yang tinggal didaerah rawan longsor agar waspada.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani mengatakan, kondisi geologi di Jabra sangat rentan terjadi bencana gerakan tanah atau longsor. Hal itu dipengaruhi kondisi cuaca yang sebagian besar sedang dalam masa hujan intensitas tinggi.

‘’Provinsi Jabar menjadi wilayah tertinggi terjadinya peristiwa gerakan tanah,’’kata Kasbani kepada wartawan, Minggu, (1/12).

Menurutnya, Provinsi Jabar wilayah tengah ke selatan menjadi wilayah dengan risiko paling tinggi bencana longsor. Terutama pada Desember 2019, kemungkinan besar intensitas hujan mulai tinggi.

“Nah bulan -bulan seperti Desember nanti, kalau dilihat dari peta prakiraan longsor itu di bagian tengah mulai dari Sukabumi, Bandung, Garut, Bogor itu pada umumnya disitu ya potensinya,” ucapnya di Auditorium Geologi, Bandung, Kamis, 28 November 2019.

Karena itu, dia berharap agar pemda di wilayah risiko tinggi bencana longsor untuk mengecek kesiapsiagaan mitigasi dan penanggulangan bencana di wilayahnya masing-masing.

“Jika ada yang perlu dicurigai atau diwaspadai adanya retakan-retakan, itu segera diambil langkah-langkah antisipasi supaya kita bisa melakukan mitigasi dengan baik ya,” katanya.

Kasbani menerangkan, sementara ini kawasan yang berpotensi terjadi gerakan tanah tidak ada yang baru. Dia menyebut kawasan yang pernah terjadi gerakan tanah sebelumnya dapat kembali mengalami hal serupa.

Akan tetapi, tak menutup kemungkinan adanya kawasan retakan tanah yang baru. Cara untuk mengetahuinya yaitu langsung melakukan pemantauan ke lokasi.

“Untuk daerah-daerah yang pernah terjadi gerakan tanah atau longsor harusnya mengecek kembali. Paling bagus mengecek lokasi, ada nggak retakan-retakan yang terjadi kembali seperti bentuk tapal kuda, ada rekahannya. Itu yang harus diwaspadai,” Kasbani menerangkan.

Apabila ditemukan ciri atau gejala gerakan tanah, Kasbani menganjurkan untuk segera mengantisipasi. Misalnya dengan memasukkan suatu benda yang kedap air, seperti tanah lempung atau mengatur jalur air.

Dia juga mengingatkan masyarakat soal berulangnya peristiwa gerakan tanah, sama halnya dengan bencana geologi lainnya. Hanya saja waktu tepatnya tidak dapat diperkirakan.

“Kita tidak bosan-bosannya memberikan penyuluhan untuk memitigasi. Karena mitigasi merupakan sarana yang paling efektif. Potensi bahaya itu tidak bisa kita hapus. Tetapi dampak yang mungkin timbul dapat kita kurangi,” ujarnya.

Sementara itu, berdasar acuan data dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), tercatat ada empat sesar aktif yang membentang di wilayah Jawa Barat. Keempat sesar tersebut adalah Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, Sesar Garsela dan Sesar Lembang.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Jabar, Adwin Singarimbun mengatakan, dari keempat sesar yang ada di Jabar, baru sesar Lembang yang banyak dilakukan penelitian.

“Karena memang lokasi sesar Lembang ini dekat dengan ibu kota Jabar. Kemudian tingkat penduduk yang berada di sekitar sesar Lembang cukup padat,” ungkap Adwin.

Sesar Lembang merupakan patahan yang membentang sepanjang 29 kilometer di sebelah utara cekungan Bandung. Jika ditarik dari barat, titik nol sesar Lembang berada di daerah Padalarang kemudian melewati Ngamprah, Cihideung, Lembang, dan Bukit Batu Lonceng Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan ujung timurnya di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kepadatan penduduk di garis sesar ini dinilai menjadi sebab penting harus dilakukannya penelitian yang komprehensif. Melihat, potensi ancaman bencananya tidak bisa dianggap remeh.

Saat ini, BPBD sudah menyusun dokumen rencana kontijensi sebagai panduan kebencanaan Sesar Lembang. Menyusul siklus pergerakan sesar Lembang sudah berada di ujung siklus. Siklus pergerakan itu diprediksi terjadi per 500 tahun sekali.

“Selain dekat dengan ibu kota dan padat penduduk, banyak juga infrastruktur-infrastruktur yang strategis yang berada di garis sesar,” kata Adwin.

Bentangan sesar Cimandiri diperkirakan mencapai 100 kilometer membentuk gawir. Mulai dari wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, melintang ke arah barat selatan sampai Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

“Sesar Cimandiri ini dari Sukabumi, terus mengarah ke arah tengah ke timur, Cianjur terlewati dan sebagian Kabupaten Bandung Barat,” jelas Adwin.

Sesar aktif yang satu ini memiliki panjang 25 kilometer. Berdasar data PuSGeN tahun 2017, Adwin menerangkan Sesar Baribis memanjang dari Majalengka sampai Subang, merupakan ujung utara dari imbrikasi belakang busur di Jawa Barat.

Sesar ini teridentifikasi sebagai sesar naik yang dapat diamati dari topografi dan seismik refleksi. Kegempaan juga sering terjadi di daerah ini.

Terakhir adalah, Sesar Garsela. Sesar ini sempat menjadi pemicu gempa di wilayah Garut. Sesar Garsela ini sempag dianggap Sesar tidur. Namun, setelah terjadi ada pergerakan, sesar ini menandakan salah satu sesar aktif di Jawa Barat.

“Lalu ada lagi Sesar Garsela. Sesar ini ada di wilayah Garut bagian selatan. Cuman sesar ini belum banyak diteliti,” ujarnya.

Adwin menyebutkan, dari empat sesar aktif di Jawa Barat, baru sesar Lembang yang memiliki hasil penelitian yang komprehensif. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan penelitian juga untuk patahan lainnya. (bbs/yan/jabarekspres).