Quo Vadis Pasca Idul Adha?

8
Oleh :

MAMANG M HAERUDIN

Meskipun Idul Adha dirayakan tak seheroik Idul Fitri, tetapi ia tetap membekas di hati umat Muslim di seantero dunia. Sedikitnya ada dua momen sejarah paling menentukan dalam Idul Adha; ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah tersebut bernilai sama, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menegakkan kemanusiaan. Untuk menegaskan agar dua dimensi hablum minannas dan hablum minallah harus berjalan seimbang.

serba palsu
Serba palsu. Doc kartun.rmol.co

Idul Adha menjadi perlambang bagi kita untuk terus berjuang dan berkorban menuju kehidupan lebih baik. Baik ibadah haji dan kurban memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang menguras pikiran, tenaga, waktu dan biaya. Untuk menunaikan ibadah haji, kita diwajibkan membayar sejumlah dana besar untuk keperluan selama di tanah suci dan aktivitas haji lainnya. Selain juga mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu. Begitu pun dengan ibadah kurban, kita dituntut untuk mengeluarkan dana guna membeli hewan kurban.

Di sela khidmatnya perayaan Idul Adha tahun ini, negeri kita masih sedang dirundung nestapa. Ajloknya nilai tukar rupiah, melemahnya daya beli masyarakat, ancaman PHK bagi para karyawan, iklim politik yang tidak stabil, kebakaran dan kabut asap yang akut, lemahnya penegakan hukum, maraknya tindak korupsi, dan berbagai problem sosial kemanusiaan lainnya, seolah terus menggurita, membelenggu bangsa ini. Kita dibuat merangkak tak berdaya.

Untuk itu ibadah haji yang telah usai ini, harus bisa membawa spirit perubahan untuk kemanusiaan. Sebab, ibadah haji sejatinya adalah ibadah dalam menggapai kesadaran eksistensial. Simbol ibadah dengan ketentuan meninggalkan segala hal yang mengandung unsur nafsu-duniawi di antaranya meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan, menanggalkan pakaian sehari-hari-hari, menanggalkan jabatan, menanggalkan status sosial dan lain sebagainya dalam rangka membebaskan diri dari sifat self-centered (individualistik).

Harus juga dipahami, seorang Muslim yang benar beribadah haji adalah dia yang mampu menanggalkan segala egoisme dan berbagai kesadaran palsu lainnya. Sebaliknya, tumbuh kesadaran baru yakni terbangunnya penghayatan hakiki, penghayatan kepada makna kemanusiaan universal. Mereka beribadah haji dengan niat yang sama dan status yang sama; hamba Allah. Tak ada yang mutlak lebih unggul bagi yang sudah berhaji sekali pun, kecuali karena tingkat ketakwaan dan kesalehan sosialnya.

Senada dengan ibadah haji, ibadah kurban sesungguhnya sedang meneladani keteladanan dan pengorbanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail. Puncak keteladanan sepanjang sejarah ini hendak memberikan hikmah kepada kita, bahwa sebagai hamba Allah, kita harus mengesakan (mentauhidkan) Allah Swt. Cinta kita kepada anak, misalnya, tidak boleh mengalahkan cinta kita kepada Allah. Maka ujian dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi penegas bahwa berlebih-lebihan atas harta yang dimiliki, termasuk berlebihan dalam mencintai keberadaan anak harus kita hindari.

Sudah sering kali kita saksikan dalam kehidupan sosial, ada banyak orang tua yang telah berlebihan menyikapi keberadaan anak. Bahkan, mereka rela merampas hak milik orang lain karena didorong oleh cinta kepada anak secara tidak proporsional. Inilah pola pendidikan orang tua yang sebenarnya tidak mendidik dan justru menjerumuskan anak. Kasus-kasus kriminal, tabrak lari dan lain sebagainya begitu mudah dituntaskan hanya karena yang mengalami itu semua anak para pejabat. Hukum pun tumpul dan tak berdaya ketika berhadapan dengan kasus para anak pejabat.

Jika kita cinta dan yakin kepada Allah, maka kita harus pasrah dengan kehendak Allah, sebagaimana pasrahnya Nabi Ibrahim serta keluarga manakala diperintah oleh Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Berkat kepasrahan hakiki seorang Nabi Ibrahim dan istrinya, Allah pun memberikan penghargaan, berupa pengganti yakni hewan kurban. Sungguh, cerita keteladanan dan pengorbanan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya semakna dengan spirit untuk menyembelih (membebaskan) kita dari perilaku korup dan serakah.

Kita tentu tidak ingin, jika hari raya Idul Adha yang setiap tahun kita rayakan ini berlalu begitu saja tanpa ada makna yang membekas. Spirit kemanusiaan, pengorbanan dan berbagi ini sudah seharusnya kita tunaikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang telah menunaikan ibadah haji, seharusnya menjadi orang yang semakin rendah hati dan dermawan karena telah dianggap orang yang mampu dan telah bertamu ke rumah Allah. Tak terkecuali melalui ibadah kurban, semoga ibadah tersebut menjadi penguat bagi kita untuk terus dapat melanggengkan semangat berbagi kebaikan.

Akhirnya, pesan dari quo vadis pasca Idul Adha adalah agar kita menjadikan agama sebagai kritik. Sebagaimana telah ditorehkan oleh banyak ulama dan intelektual agama, ketika dahulu harus rela mendekam dalam penjara dan menjadi syahid karena kezaliman penguasa. Namun akibat pengorbanan mereka itu, ghirah dan pencerahan kebenaran selalu bersinar menerangi jalan sejarah. Sebaliknya, tingkah polah para penguasa yang korup pada akhirnya akan berujung hitam dan hanya akan memalukan bangsa serta regenerasinya.

Akhirnya, semoga Idul Adha melalui haji, kurban dan ibadah lainnya tidak hanya sekadar ritual yang jauh dari makna. Tetapi berbagai ibadah tersebut berkorelasi positif dengan kualitas akhlakul karimah, jiwa sosial dan spiritualitas kita kepada sesama dan Allah Swt. Jika demikian, insya Allah, kita tidak akan kehilangan arah, melainkan akan terus konsisten membumikan spirit kemanusiaan dan ketuhanan, betapa pun hari raya Idul Adha telah usai. Wallahu a’alam bis-Shawab. (*) Penulis adalah Khadimul Ma’had Pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan, Ciwaringin

BAGIKAN