Rainy MP Hutabarat: Kita Harus Dua Kali Lebih Dari Yang Lain

Rainy MP Hutabarat: Kita Harus Dua Kali Lebih Dari Yang Lain

MENJALANI masa kanak-kanak dan remaja di Pematang Siantar, Sumatera Utara, Rainy mengawali karier menulis sejak SMP dengan mempublikasikan  karyanya berupa kolom pengalaman  Kotak Wasiat   dan beberapa cerpen anak di majalah Si Kuncung

“Untuk anak SMP, pemuatan tulisan di Si Kuncung, walau sekadar Kotak Wasiat, tentu berpengaruh besar pada diri saya. Rasa bangga melambung dan dorongan untuk menulis semakin kuat, apalagi ada honornya,” kenangnya.

“Ayah saya sudah meninggal sewaktu usia saya enam tahun dan ibu membesarkan lima orang anaknya seorang diri. Suatu kali saya melihat boneka anjing yang menggemaskan di etalase. Kalau saya minta ke Ibu, pasti tak dikabulkan karena gajinya terlalu kecil untuk memanjakan anak-anaknya  dengan  mainan.  Saya lalu terpikir untuk menulis kolom Kotak Wasiat di Si Kuncung, sebuah kolom pengalaman yang lucu. Tulisan itu dimuat dan honornya kalau tak salah Rp5.000 lalu saya belikan boneka anjing,” paparnya.

Semenjak belia, Rainy memang sudah jatuh cinta kepada dunia menulis. Hal ini bermula dari kesukaannya mendengarkan cerita-cerita ibunya. Ketika memasuki masa remaja, cerita bergeser dari dongeng atau legenda ke cerita-cerita tentang silsilah marga-marga Batak dan asal muasalnya; juga pahlawan di Tanah Batak, seperti Singamangaraja dan tokoh-tokoh masyarakat Batak yang dikenal ibunya. Namun, pengalaman lain yang paling berkesan adalah sewaktu di Taman Madya (setingkat SMP) di Taman Siswa, Pematang Siantar. Guru sejarahnya, Bu Asni Lubis, adalah seorang pencerita yang ulung. Sang Guru pandai bercerita seolah- olah Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, atau Jenderal Sudirman itu sahabat- sahabatnya. Pengalaman masa kanak-kanak dan remaja inilah yang berkaitan dengan dorongan dalam dirinya untuk menulis.

Bakat menulisnya mulai terasah ketika SMA ia diajak ibunya ke sebuah majalah gereja yang diterbitkan oleh sebuah kantorpusatgerejawi. Ibunya memperkenalkan Rainy pada salah seorang redakturnya. Rainy diajak menulis cerita bersambung. Walau honornya sangat kecil, ia semangat menulis karena merasakan kebanggaan dan kepuasan tertentu. Kata ibunya, ajakan itu kesempatan baik untuk berlatih menulis. Dorongan dari ibu penting, sebab membuatnya menyadari bahwa menulis itu suatu prestasi. Selain cerita, Rainy juga mencoba menulis beberapa puisi di sebuah koran lokal ternama waktu itu.

Masih ketika SMA, Rainy ke Jakarta diajak belajar soal redaksional pada sebuah penerbit. Ia berkenalan dan bergaul dengan banyak cerpenis dan penyair, di antaranya Darwis Khudori, Hamsad Rangkuti, Veven Sp. Wardhana, Ags. Arya Dwipayana, Arwan Tuti Artha, Budi Sarjono, dan banyak lagi. Rainy suka main  ke rumah Pramoedya Ananta Toer di Utan Kayu, diperkenalkan oleh komponis Subronto Kusumo Atmojo. Selain bertemu Pram, ia beberapa kali bertandang ke rumah Mochtar Lubis di dekat Tugu Proklamasi.

Lingkungan pergaulannya dengan para cerpenis membuatnya terpengaruh untuk memilih menulis cerpen. Di samping itu, baginya pergulatan menulis cerpen juga tak sepanjang menulis novel. Rainy tipe penulis yang membutuhkan mood saat menulis fiksi. Ia agak obsesif dengan apa yang ditulisnya. Baginya, lebih cocok menulis cerpen. Menulis novel memerlukan konsentrasi khusus walau suatu saat ia ingin bisa menulisnya. Sebenarnya, saat belajar redaksional di penerbit itu, ia pernah menulis  sebuah novel remaja. Novel itu ia serahkan ke seorang rekan jurnalis di Surabaya. Sayangnya, sesudah itu ia kehilangan kontak dengan jurnalis itu, sedangkan ia tak memiliki copy naskah novelnya sendiri.

Rainy kemudian tumbuh menjadi cerpenis yang diperhitungkan. Beberapa kali karyanya dimuat di Kompas dan salah satu cerpennya berjudul “Aaa! Iii!…Eee! Ooo!” yang mengisahkan seorang gadis cantik yang menderita mental terbelakang, masuk antologi cerpen pilihan Kompas 1999 Derabat.

Sastra Kitab Suci
Rainy belia kemudian memilih kuliah jurusan teologi di STT Jakarta. Inilah alasannya memilih bidang teologi, karena ingin belajar sastra sekaligus kitab suci. Tetapi, ketika ia masuk, program di STT Jakarta sudah berubah menjadi untuk kependetaan. Kurikulum dipadatkan dari enam tahun menjadi lima tahun. Dan ternyata, sastra kitab suci hanya sebagian mata kuliah.

Masih ada lagi mata kuliah lain, seperti dogmatika, pastoral, yang kurang ia minati, tetapi harus dipelajari. Untungnya, di sana para mahasiswa juga ditugaskan untuk membaca kitab suci agama-agama lain, seperti Hindu dan Islam.  Selain itu juga ada pelajaran filsafat yang terkait dengan perkembangan sastra, seperti Nietzsche dan Sartre. Mata kuliah sastra berlangsung hanya untuk semester 1—4. Bagusnya, di sana ia bebas memilih pengarang yang karyanya harus dibaca, namun terkait dengan filsafat.

Baginya, siapa pun yang membaca kitab suci pasti akan terbentur menghadapi teks-teks patriarki. Orang yang kritis, akan terusik rasa keadilannya, marah, dan tak betah oleh bias gender atau diskriminasi terhadap perempuan, mulai dari kitab suci, organisasi agama, dogma/ajaran, dan ritus. Inilah yang terjadi pada Rainy, apalagi skripsinya di bidang Biblika, Perjanjian Baru. Rainy kemudian memilih women’s studies karena tuntutan bidang studi dan pekerjaan. Waktu itu, ia melakukan riset buruh di sejumlah pabrik dan juga riset isi media. Belum lagi menyusun modul pelatihan, di tempat kerjanya    (Yakoma- PGI) mengintegrasikan penyadaran gender.

“Saya, kan, mesti berhadapan  dengan  para  narasumber  dan  fasilitator yang pengetahuannya tentang kajian perempuan cukup maju. Lalu, kalau tak nyambung bagaimana? Pengetahuan saya tentang analisis gender minim, apalagi untuk riset buruh dan media. Saya berhadapan dengan konsep-konsep seperti women in development, gender and development… wah, dulu saya tak paham membedakannya. Internet waktu itu belum populer sehingga saya tak bisa mencari informasi. Memang, ada teman yang bersedia membantu, tetapi, kan, tetap saja belum memadai. Lalu, saya putuskan untuk mengikuti Kajian Wanita di UI untuk memperdalam dan sekaligus menopang studi teologi saya. Kajian wanita penting bagi mereka yang berkiprah di bidang pelatihan media seperti saya, pengelolaan publikasi dan riset, apalagi dalam organisasi agama,” katanya.

Jalan Sendiri-Sendiri
Ketika ditanya mengenai perkembangan gerakan perempuan, Rainy mengakui rada tersendat, terutama merujuk pada pengalaman di lingkungan gerejanya. Di lingkungan gereja, gerakan perempuan berjalan tersendat-sendat. Secara umum, menurut pengamatannya, mulai ada perubahan. Pada beberapa sinode gereja, perempuan telah menduduki kursi pengambilan keputusan tertinggi. Beberapa sinode juga telah membangun rumah damai (crisis center) bagi perempuan korban kekerasan. Memang jumlahnya masih terbatas, tetapi sudah memperlihatkan kemajuan.

Hanya saja, menurut Rainy, yang dinamakan gerakan bersama belum terwujud. Lembaga terkait perempuan di lingkungan Kristen cenderung jalan sendiri- sendiri—untuk tidak mengatakan terkotak-kotak. Bahkan, di antara para aktivis perempuan sendiri ada berbagai persoalan. Ini sangat disayangkan karena dengan demikian, kaum perempuan tidak menawarkan perspektif power relation dan sisterhood yang berbeda dengan laki-laki. Hasilnya, tentu saja tak maksimal. Hanya pada momen penting, seperti pengesahan UU Pornografi dan Pornoaksi, misalnya, gerakan perempuan lintas agama bersatu. Ini memang menggembirakan, tetapi tanpa momen khusus yang mendesak, sehari-hari jalan sendiri-sendiri, tidak bersinergi.

Tak Pernah Memandang Diri sebagai Difabel
Rainy menjadi seorang difabel ketika ia menginjak bangku SMA. “Di SLA baru terasa, dan saya pernah mencoba MRI (Magnetic Resonance Imaging) di RS Cipto, Jakarta, hasilnya tak ada apa-apa. Saya juga pernah terapi akupuntur di beberapa tempat, terasa membaik, tetapi tak lama kembali pada kondisi semula. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti memperlakukan telinga saya sebagai ‘pesakitan’ dan menerima kenyataan bahwa saya memang difabel,” paparnya.

Meski demikian, ia tak pernah memandang diri sebagai “orang cacat”. Rainy merasa sama saja seperti orang-orang lain, sama seperti mereka yang pakai kacamata karena matanya rabun atau berat tubuhnya berlebih. Ibunya juga tak pernah memperlakukan dirinya berbeda dengan yang lain. Tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya sama dengan adik-adiknya. Tak ada perlakuan lebih dan tak ada perlakuan kurang. Lingkungan keluarga, terutama ibu dan adik- adiknya sangat penting untuk membangun konsep diri. Menurutnya kalau orang- orang di sekeliling kita memandang kepada kita dengan optimis, maka kita pun akan optimis.

Ibunya pernah marah besar pada seorang tetangga ketika dikatakan bahwa setamat SMA sebaiknya Rainy dikawinkan saja. Ia memang tak mendengar langsung percakapan Ibu dengan tetangga itu, tapi Ibu menceritakannya kepada saya dengan nada marah. “Dikiranya kau tak punya masa depan! Cuma di dapur!” kata ibunya. Sampai sekarang, bila mengingatnya, emosi Ibu terasa berdenyut di hatinya.

Menerima dirinya sebagai difabel, Rainy berkeras untuk mengatasi kekurangan dirinya dengan belajar. Dalam berkomunikasi, Rainy membaca gerak bibir orang yang berbicara kepadanya. Sewaktu SMA dan semasa kuliah, Rainy selalu memilih duduk di baris bangku terdepan. Dari pengalamannya belajar, ia menyimpulkan bahwa bila kita punya kekurangan, kita mesti meraih kelebihan yang lain.
Rainy tak pernah berterus-terang bahwa pendengarannya kurang. Orang baru tahu setelah bergaul dengannya. Dalam pergaulan, Rainy tak pernah “pasang tampang” bahwa ia difabel. Di lingkungan kampusnya dulu, ukurannya bukan difabel atau nondifabel, melainkan intelektualitas. “Kalau mampu, kita menjadi tempat orang untuk berkonsultasi atau bertanya,” jelas Rainy.

Memang, ada beberapa mahasiswa yang memandang sebelah mata, tetapi tak sampai mengusik keasyikan kuliahnya di kampus. Rainy belia juga jadi pengurus senat dan ikut mengelola majalah dinding kampus sehingga ia tak lagi memikirkan kekurangan yang ada dalam dirinya.
Baginya, seorang difabel harus mengenali keterbatasan dirinya dan memilih bidang yang cocok dengan minat dan kemampuannya. “Saya tak mungkin menduduki posisi public relation karena keterbatasan pendengaran, misalnya. Sebaliknya, saya cocok di bidang terkait publikasi dan riset serta pelatihan- pelatihan, khususnya pembuatan modul dan pengadaan materi. Pengalaman mengajarkan, jika kita difabel, maka kita harus ‘dua kali lebih’ dari yang lain agar diperlakukan setara dan dihargai,” katanya.

Bagaimana dengan perlakuan diskriminasi? Ia yakin, semua difabel pernah mengalami diskriminasi. Ia pernah mengatakan pada dirinya walau tak sampai menyurutkan semangat hidup bahwa saya difabel dan seorang perempuan! Ini untuk mengingatkan kerentanan dua hal akan diskriminasi dan eksploitasi. Rainy yakin, semua difabel pernah mengalami diskriminasi, juga eksploitasi. Disuruh mengerjakan macam-macam pekerjaan di luar pekerjaan kantor, urusan pribadi, dan kalau menolak diancam akan di-PHK. Dulu Rainy menulis makalah untuk atasan dan memakai nama atasan, juga penelitian dengan memakai nama atasan. Periode lampau ia cukup sering menulis makalah, tetapi bukan atas nama dirinya. Seorang penulis terkenal pernah mengiriminya SMS bahwa ia adalah benchmark yang dipasang di tempat kerjanya.

Dalam batas tertentu, ia bisa menerima bahwa perlakuan diskriminasi itu sifatnya manusiawi. Misalnya, orang-orang berbincang dengan suara perlahan, tidak memperhitungkan kehadirannya yang berpendengaran kurang. Dalam situasi seperti ini, kita harus bersabar. Sebagai informasi, indra telinga berkaitan dengan keselarasan emosi. Mereka yang pendengarannya kurang, harus mampu mengolah emosi sedemikian rupa agar stabil. Banyak membaca akan menolong mengenali diri dan mengatasi persoalan psikis maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan kerja.

Sulit Berharap pada Pemerintah
Rainy merasa sulit berharap banyak kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan difabel dalam pembangunan infrastuktur, misalnya trotoar  jalan, jembatan penyeberangan, dan zebra cross. Dengan kondisi infrastruktur jalan seperti ini, orang buta sulit berjalan sendirian, apalagi para pengguna kursi roda. Para pengendara sepeda saja tak punya tempat di jalan raya, apalagi difabel. Harapan terpaksa dibatasi sebatas membuka peluang kerja bagi para difabel.

Di era globalisasi dan pasar bebas, menurutnya, persaingan yang dihadapi para difabel akan semakin hebat. Angka pengangguran di Indonesia tinggi, membuat peluang difabel untuk memenangkan persaingan di dunia kerja semakin sulit. Di sinilah intervensi pemerintah diperlukan, misalnya, dengan memberi keringanan tertentu bagi pihak swasta yang mempekerjakan difabel. Rainy melihat, ke depan isu difabel akan dilihat sama penting dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam kehidupan di planet bumi. 


Tulisan ini dibuat pada tahun 2011
Pernah diterbitkan di: Jurnal Perempuan, No. 69, 2011  Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.
Mereka yang di Atas Persoalan, Kumpulan Profil dan Wawancara Jurnal Perempuan. 2013. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!