Ratu Raja Arimbi Nurtina: Saya Sedih Melihat Nasib Aset Keraton

Ratu Raja Arimbi Nurtina: Saya Sedih Melihat Nasib Aset Keraton

RAKYATCIREBON.ID- Keraton adalah monumen yang dapat dianggap sebagai ensiklopedia sejarah. Keraton memiliki pesona tersendiri. Di lembaga elite inilah, para pendahulu menunjukkan wibawa dan kiprah kekuasaan politiknya. Meminjam istilah antropolog kenamaan Amerika Serikat, Edward T. Hall, keraton memberikan sumbangan bagi “budaya konteks tinggi” (high context culture), yaitu suatu budaya yang mencerminkan sekaligus merupakan penjelajahan dari inti isi kesadaran tertinggi manusia dalam rangka mencapai keutuhan humaniteir sepenuhnya.

Dijuluki sebagai Kota Budaya, diperoleh Cirebon karena merupakan satu-satunya kota di Jawa Barat yang memiliki 3 keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Ketiga keraton tersebut memiliki akar kebudayaan yang sama, yaitu banyak dipengaruhi perkembangan agama Hindu dan Islam. Selain itu, warna kental bangunannya pun banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, yang pada waktu itu (ketika keraton masih memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan) memiliki hubungan bilateral yang baik dengan ketiga keraton.

Cirebon tidak dapat dikatakan berkultur Jawa dan bukan pula Sunda, namun terletak di antara keduanya. Tidak heran apabila budaya yang muncul memiliki ciri khas tersendiri baik dari bahasa, tradisi, maupun etikanya, karena Cirebon dibentuk oleh keragaman yang merupakan perpaduan berbagai tradisi akibat pertemuan pendatang (sebagian besar pedagang) yang berasal dari selatan, timur, barat, dan yang melalui pelabuhan (utara).

Istilah Cirebon menurut naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang disusun Pangeran Arya Carbon pada tahun 1720 Masehi, berasal dari kata “Caruban”, kemudian “Carbon”, dan akhirnya “Cirebon”. Sedangkan menurut sumber Portugis, yaitu berita dari Tome Pires, Cirebon disebut dengan “Chorobon”. Menurut catatan Pires, Cirebon adalah sebuah pelabuhan yang indah dan selalu ada empat sampai lima kapal yang berlabuh di sana. Menurut sumber dari Belanda yang berkurun waktu abad ke-16 Masehi awal, Cirebon disebut sebagai “Charabaon”, sedangkan dari sumber yang lebih muda disebutnya dengan “Cheribon”, atau “Tjerbon”.

Sedangkan “Carbon” menurut para wali berarti “puser jagat”, karena terletak di tengah-tengah Pulau Jawa. Cirebon oleh penduduk setempat disebut “Nagari Gede”, kemudian menjadi “Garege”, dan selanjutnya menjadi “Grage”. Mungkin juga, “Grage” berasal dari “glagi”, yaitu nama udang kering untuk bahan membuat terasi.

Pada tanggal 13 Maret 1809, bagian utara dikepalai oleh tiga orang sultan (Sultan Kasepuhan, Sultan Kanoman, dan Sultan Kacirebonan). Wilayah kekuasaan Sultan Sepuh (Kasepuhan) adalah bagian selatan yang daerahnya meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon; bagian tengah adalah kekuasaan Sultan Anom (Kanoman) yang diperkirakan sama dengan daerah Kabupaten Majalengka sekarang, dan Sultan Kacirebonan menguasai wilayah Indramayu yang terletak sebelah barat Cimanuk dan Kandanghaur. Sedangkan kota Cirebon dan sekitarnya yang, terdiri dari pesawahan dibagi dua antara Sultan Sepuh dan Sultan Anom.

Bersama Rakyat Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, adalah adik dari Sultan Kanoman XII yaitu Kanjeng Gusti Sultan Raja Mohammad Emirudin menceritakan ihwal Kesultanan Kanoman yang dibangun oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya, bergelar Sultan Anom I. Ia mendirikan keratonnya di bekas rumah Pangeran Cakrabuana ketika baru saja datang ke Tegal Alangalang bernama Witana. Titimangsa tahun berdirinya Keraton Kanoman tertulis dalam sebuah gambar yang ada di Pintu Jinem Keraton Kanoman, yang menggambarkan “matahari” berarti 1, “wayang darma kusuma” yang berarti 5, “bumi” berarti 1, dan “binatang kamangmang” yang berarti 0. Candrasangkala tersebut menunjukkan angka tahun 1510 Saka atau 1588 M. Jadi Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 M. Keraton Kanoman dibangun menghadap ke utara, seperti halnya magnet bumi, galaksi, semua menghadap ke utara.

“Kesultanan Kanoman ini awalnya adalah bagian dari Keraton Cirebon. Fase ini sebelum munculnya istilah Sultan atau Kesultanan. Namun Sultan Banten, Ki Ageung Tirtayasa menobatkan dua pangeran dari Putra Panembahan Adining Kusuma (Kerajaan Mataram) untuk memegang kekuasaan di Keraton Cirebon. Yaitu, Pangeran Badriddin Kartawijaya bergelar Sulran Anom dan Pangeran Syamsuddin Martawijaya bergelar Sultan Sepuh,” ungkap Sekretaris Kesultanan Kanoman ini.

Peristiwa ini terjadi pada 1677-1688, lanjut Ratu Raja Arimbi, pasca ibu kota Mataram direbut oleh Trunojoyo. Saat itu, Keraton Cirebon dipimpin oleh tiga orang penguasa sekaligus antara lain, Martawijaya, Kartawijaya dan Wangsakerta. “Munculnya istilah kesultanan sendiri karena dua penguasa, Marta dan Karta yang bergelar sultan. Setelah itu, kita mengenalnya dengan Kesultanan Kanoman (Badridin Karta)  dan Kesultanan Kasepuhan (Samsudin Marta),” imbuhnya.

Tak mudah menemukan Keraton Kanoman. Bukan perkara letak geografisnya yang terpencil, sepanjang hari ia tertutup keriuhan Pasar Kanoman. Padahal akses jalan satu-satunya menuju gerbang depan keraton selalu harus dimulai dari Jalan Pasar Kanoman. Asal tahu, seluruh badan jalan tertutup oleh lapak-lapak pedagang dan parkir kendaraan.

Dalam sebuah kesempatan, Ratu Raja Arimbi, adik Sultan Kanoman Emirudin mengungkapkan Keraton adalah tempat lahirnya budaya dan adat istiadat. Banyak orang ingin datang ke keraton, tapi khusus keraton Kanoman sulit diakses publik karena banyaknya pedagang yang berdagang di jalan yang menuju pintu keraton. “Padahal, jika akses masuk ke keraton mudah, maka semakin banyak orang yang berkunjung untuk belajar tentang adat istiadat, budaya dan tradisi keraton,” ujarnya.

Pada masa penjajahan, Keraton Kanoman menjadi pusat perlawanan rakyat Cirebon terhadap pemerintah Hindia Belanda. Lalu, untuk meredam perlawanan itulah pasar Kanoman akhirnya didirikan oleh pemerintah kolonial dan semakin dilebarkan hingga mendekat ke arah keraton. Bahkan, pemerintah kolonial kerap menggunakan pasar untuk kegiatan mata-mata terhadap segala aktivitas keraton.

“Awalnya, ketika itu Kesultanan Cirebon terpecah. Maka pemerintah Hindia Belanda atas kebijakan sepihaknya, membangun pasar itu di depan Keraton Kanoman,” ungkap wanita kelahiran 1976.

Dikatakan Ratu Raja Arimbi, alhasil dari strategi itu, pemerintah kolonial Belanda mencoba membatasi akses sebagian masyarakat dengan keraton Kanoman karena ditutup bangunan pasar. Ia berharap, Pasar Kanoman menjadi pasar budaya Cirebon. “Pasar bisa menjadi destinasi wisata yang terhubung dengan Keraton Kanoman. Jadi terintegrasi,” tuturnya.

Saat disinggung soal nasib aset Keraton Kanoman? Ratu Raja Arimbi menyatakan sejauh yang dipahami, aset-aset milik Keraton Kanoman masih ada. “Ada yang masih dalam garapan dan ada juga yang belum terpelihara. Perlu adanya pendataan ulang, dan perlunya tim yang kompeten di bidang hukum dan advokasi, administrasi, serta historis. Kami sedang mendata serta menginventarisir kembali,” imbuh Juru Bicara Kesultanan Kanoman ini.

Ia tampak prihatin melihat nasib aset Keraton Kanoman. “Saya sedih. Harapan kepada pemerintah, bisa bersama-sama menguatkan sisi tradisi, kultural dan syiar dalam kemaslahatan umat,” pungkasnya, Rabu (29/7). (*)

Artikel ini sudah tayang di Harian Rakyat Cirebon, 1 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!