Relasi Keadilan Gender dalam Keseharian Dayak Losarang

Relasi Keadilan Gender dalam Keseharian Dayak Losarang

WAKTU menunjukan pukul 03.30 WIB, saat Amirudin terbangun dari tidur lelapnya. Pria paruh baya itu mulai menyiapkan segala keperluan untuk warung kecilnya yang terletak bersebelahan dengan Pendopo Suku Dayak Hindu Budha Segandu di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Indramayu.

Amir biasanya dibantu sang istri, Tinuryati. Namun malam itu, Nur, begitu ia akrab disapa, masih pulas hingga penghujung malam. Mendekap Safina dalam pelukannya, bocah perempuan berumur 9 tahun, buah cinta kedua pasangan yang menikah 25 tahun lalu itu.

Tak pikir panjang, usai cuci muka di pagi hari Amir mulai menata barang dagangan warung. Tidak ada yang istimewa, sama seperti warung-warung kecil pada umumnya. Hanya ada telor asin, sosis, permen, biskuit, wafer, kopi hingga serbuk minuman saset yang biasanya disukai anak kecil. Semua dirasa berada pada tempatnya.

Amir memeriksa apa ada barang dagangannya yang habis atau persediaan tinggal sedikit. Benar saja ada. Bahan adonan membuat aneka gorengan tinggal sedikit. Kacang panjang dan kangkung juga habis. Mentimun masih beberapa buah. Ya, di warung itu dijual pula aneka gorengan dan lotek, nama lain gado-gado di Indramayu.

Amir menoleh ke arah lain. Ada puluhan lontong belum dimasak. Sembari menunggu Nur bangun. Amir menyalakan kompor. Langsung merebus lontong-lontong itu. Suara kesibukan Amir di warung ternyata samar-samar didengar Nur dari kamar tidur. Nur mulai beranjak. Karena hari pun semakin pagi.

Usai ke kamar kecil untuk menyentuh air dan merapikan diri, Nur pun bergegas ke warung yang memang satu bangunan dengan rumah. Nur melihat Amir sedang menyiapkan dagangan di hari itu. “Ang, nanti ke pasar ya. Beli sayuran untuk bahan lotek sama beli beberapa bumbu yang habis,” ucap Nur kepada rakyatcirebon.id, Minggu (22/11/2020) menirukan dialog dengan suaminya di pagi itu.

Tanpa banyak bertanya, Amir pun ke pasar yang tak jauh dari warung mereka. Amir sudah terbiasa ke pasar. Dia hafal betul apa saja yang harus dibelinya untuk persediaan di warung. Sementara, rebusan lontong yang sudah setengah matang tadi diurus Nur. Mentari mulai menampakan sinarnya. Warung kecil milik keluarga Dayak Losarang itu pun dibuka.

Bagi Amir dan Nur, berbagi tugas dalam hal apa saja jadi hal biasa. Semuanya dilakukan atas dasar keyakinan ngaula (mengabdi, red). Amir mengabdi pada istri dan anaknya atau ngaula ning rabi lan anak. Sedangkan Nur mengabdi pada suami dan anak atau ngaula ning laki lan anak. Sebuah relasi gender yang menekankan pada keadilan peran dalam keluarga.

“Ini karena atas niat diri sendiri. Karena keyakinan kami sebagai orang dayak. Juga untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga,” imbuh Nur.

Jika Nur sibuk urus Safina. Maka Amir lah yang memasak. Saat Amir kerja sebagai penggiling gabah keliling, Nur menjaga warung. Begitu pun sebaliknya. Amir tak terlihat canggung saat menghadapi setumpuk alat dapur kotor bekas pakai. Dengan sigap langsung dicucinya.

NON HEWANI. Wanita Dayak Losarang, Tinuryati menyiapkan lotek, nama lain gado-gado di Indramayu untuk pelanggan. Di lingkungan dayak, lotek jadi makanan favorit karena terbuat dari bahan non hewani. Di samping karena rasanya juga lezat.

“Saya melaksanakan apa yang diperintah istri. Bagi saya ini bukan soal nurut atau tidak. Ini kan wujud ngaula ning anak rabi (mengabdi ke anak istri) sebagai seorang dayak,” ungkap Amir saat ditemui di warungnya.

Pemandangan serupa tak hanya ditemui di keluarga Amir dan Nur. Keluarga Dayak Losarang lainnya, Juniah dan mendiang suaminya, Taroni juga sama. Wanita usia lanjut ini menceritakan, semasa Taroni hidup sering membuatkan sarapan untuk dia dan 4 anak mereka. Setelah itu, Taroni bergegas ke sawah. Sebagai balasan, Juniah memberi Taroni pijatan untuk usir lelah usai bertani.

“Walaupun orang dayak itu mengabdi kepada istri. Tapi kami sebagai istri tidak besar kepala. Kami juga mengerti sampai batas apa harus dilayani suami dan apa yang dibutuhkan suami oleh istrinya,” ujar Juniah.

Hal senada dilontarkan Nyi Dewi Mustika Ratu, sesama wanita Dayak Losarang. Nyi menikahi Takudin. Pasangan muda ini juga membangun romansa rumah tangga dengan pemahaman peran gender didasarkan pada bentuk pengabdian.

Tak ada yang lebih dominan. Nyi sering menyuruh Takudin bebersih rumah. Begitu juga Nyi tak merasa keberatan jika diminta bantuan menyiapkan makanan untuk Takudin.

Juru Bicara Dayak Losarang, Wardi menjelaskan, konsep ngaula yang dianut anggota Dayak Losarang merupakan wujud filosofi gotong royong. Wanita dan pria bahu membahu menciptakan harmonisme melalui keadilan peran. Terutama dalam kehidupan keseharian.

Pun dalam ranah ritual. Wardi menegaskan, tidak ada larangan atau paksaan keterlibatan wanita dalam tiap ritual Dayak Losarang. Hanya saja, pada ritual-ritual tertentu secara teknis memang berat dikakukan wanita. Apalagi yang sudah berkeluarga dan harus urus anak.

BICARA. Wardi, Juru Bicara Dayak Losarang memberi keterangan soal konsep ngaula (mengabdi) serta kaitannya dengan peran pria dan wanita dayak dalam keseharian mereka.

Setidaknya ada 3 macam ritual. Pertama, pembacaan pujian alam, kidung alas turi dan pembacaan sejarah pewayangan pandawa lima tiap malam Jumat Kliwon. Kemudian kedua, ritual rendem (berendam) dan ketiga, ritual mepe (berjemur).

Rendem dan mepe sejatinya satu rangkaian ritual. Pria Dayak Losarang melakukan ritual itu selama 4 bulan dalam setahun. Malam hari mereka rendem di sungai dekat pendopo mulai pukul 00.00 sampai 06.00 WIB. Dilanjut mepe juga di sekitar sungai itu sampai pukul 11.00.

“Orang-orang hanya tahu ritual-ritual itu dilakukan sama pria dayak saja. Padahal tidak. Wanita juga boleh ikut. Tidak ada larangan. Tidak ada paksaan. Silakan saja,” kata Wardi.

Biasanya, wanita dayak hanya ikut ritual pujian dan kidung malam Jumat Kliwon. Sedangkan rendem dan mepe jarang ikut. Selain teknis juga persoalan etis.

Nur, istri Amir, lebih memilih menjaga anaknya di rumah ketimbang ikut rendem dan mepe. “Karena saya punya kesibukan. Sebetulnya boleh. Tapi kami dayak mempertimbangkan faktor etis, ya,” kata Nur. (wan)***

***Tulisan ini bagian dari program Story Grant Pers Mainstream Jawa Barat yang digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!