Respons Potensi Gangguan Alam, MPR Minta BPBD Siaga

81
Ilustrasi: (RC)

RAKYATCIREBON.ID-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di seluruh Indonesia diminta selalu siaga merespons potensi gangguan alam cukup ekstrim. Kesiapsiagaan akan meminimalisir korban akibat bencana.

Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan agar BPBD di semua daerah segera berkonsolidasi. Selain itu selalu meningkatkan kesiapsiagaan merespons potensi bencana akibat cuaca ekstrem beberapa hari ke depan.

“Saya juga mengingatkan semua elemen masyarakat agar ikut meningkatkan kewaspadaan. Karena ada perkiraan terjadinya curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari ke depan sehingga kewaspadaan masyarakat menjadi penting untuk memperkecil risiko,” kata lelaki yang akrab dipanggil Bamsoet di Jakarta, Minggu (5/1).

Bamsoet mengingat berdasarkan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan tinggi akan terjadi di sejumlah wilayah periode 5 hingga 10 Januari 2020.

Perkiraan daerah dengan curah hujan tinggi itu meliputi Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Sumatera Selatan dan Jawa, termasuk Jakarta serta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).

Dia mengatakan, daerah pesisir Jakarta Utara, juga akan mengalami air pasang maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020. Pasang maksimum akan terjadi pada pukul 10.00 WIB pada 9 Januari, pukul 10.00-11.00 WIB pada 10 Januari dan pukul 11.00 WIB pada 11 Januari 2020. Air pasang maksimum ini diduga akan mengakibatkan banjir rob dan bisa memperparah banjir di Jakarta.

Dia menilai peringatan dini itu hendaknya ditanggapi semua pihak dengan ragam kegiatan antisipatif. Utamanya oleh pemerintah daerah dan BPBD, serta semua elemen masyarakat.

“Untuk memperkecil risiko, saya juga mendorong semua organisasi relawan pro aktif menghadapi berbagai kemungkinan,” ujarnya.

Dirinya mengaku terus mencermati peristiwa gangguan alam yang terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini, misalnya banjir di Jakarta dan Bodetabek, serta awan panas guguran Gunung Merapi yang mulai terjadi Sabtu (4/1) malam.

Menurutnya, peristiwa di Gunung Merapi itu menyebabkan hujan abu tipis di sekitar Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

“Untuk mendapatkan gambaran tentang perubahan cuaca dalam beberapa hari ke depan, petugas BPBD disarankan untuk aktif menyimak perkiraan cuaca dari BMKG,” ujarnya.

Dia juga berharap pemerintah daerah memberi perhatian khusus kepada warga di pengungsian akibat banjir. Menurut dia, selain makanan, warga yang mengungsi membutuhkan air bersih, selimut hingga obat-obatan.

Hal senada diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo. Dia menyerukan agar BPBD seluruh Indonesia aktif menginformasikan peringatan dini cuaca ekstrem kepada masyarakat.

“Melalui peringatan dini tersebut, warga dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan,” ujarnya dalam rilisnya.

Peringatan dini diperlukan, karena melihat hasil analisis BMKG mengenai kondisi dinamika atmosfer terkini masih ada potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.

Bahkan laporan BMKG hari Minggu (5/1) menunjukkan potensi hujan lebat di beberapa wilayah Indonesia masih terjadi untuk sepekan ke depan.

Oleh karenanya, semua pihak diimbau untuk waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan.

“BNPB mengimbau masyarakat agar waspada dan siap-siap apabila terjadi bencana banjir, longsor dan puting beliung. Amankan dokumen-dokumen penting, siapkan tas siaga bencana yang dapat dibawa secara cepat,” ujar dia.

Isi tas siaga bencana dapat berupa makanan, minuman, pakaian, senter, peluit, radio, obat-obatan, dan lain sebagainya sesuai keperluan.(fin)

BAGIKAN