Rezim Kampus Putih Diharamkan Pimpin Ansor

46
Maman Klaim Jadi Calon Alternatif, Konfercab Ansor Diundur

INDRAMAYU – Prediksi akan ada gerakan penolakan kepemimpinan Ansor di Kabupaten Indramayu dari trah H Abas Assafah sebagai nahkoda Kampus Putih Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyat bukan hanya isapan jempol dan isu liar.Salah satu aktivis NU Maman Fathurrohman mendeklarsaikan dirinya maju sebagai lawan tanding siapapun figur yang akan dijagokan dari keluarga besar tokoh NU H Abas Assafah.

aktivis muda nu indramayu
Maman Fathurrohman. Foto : Lazuardi/Rakyat Cirebon


Mantan Sekretaris Umum PC PMII Indramayu masa Khidmat 2002-2003 itu juga menegaskan haram hukumnya Ansor periode mendatang dipimpin kembali oleh trah Segeran.“”Ansor itu bukan milik satu golongan saja, banyak kader NU lainnya yang potensial,” tegasnya kepada Rakyat Cirebon. Dari situlah ia menolak keras jika ketua PC Gerakan Pemuda Ansor kedepan tetap dipaksakan dari trah Bani Abasiyah. “Ansor itu organisasi gerakan dan kaderisasi, bukan dinasti apalagi memaksakan harus dari pilihan dari Segeran,” tegasnya.

Ia juga mengabaikan adanya kabar tidak majunya putra Mahkota kampus Putih Miftakhul Fattah, Ia menganggap rezim kampus putih masih tetap akan memainkan perannya. “Salah besar kalau Ansor dipimpin hanya mengakomodir satu golongan saja,” tegasnya.Maman menganggap kaderisasi dan beraktualisasi di Ansor tidak mendasarkan pada obyektifitas personal dan sumber daya anak muda NU, ia menyarankan agar kampus putih juga tidak hanya mengakomodir kelompok atau penumpang gelap hasil dari produksi daerah lain. “Apakah hasil dari proses kaderasi di Keluarga Besar Nahdlatul Ulama kehabisan stok, kami berani bertarung, produk dan jebolan dari Indramayu juga jauh lebih memahami medan, sehingga mampu dengan mudah memosisikan diri membesarkan organisasi,” kata dia.

Untuk itu, Maman mengaku atas nama hasil dari produksi organisasi di Indramayu memekikkan perang terhadap kepemimpinan yang dipaksakan harus dari kelompok kampus putih.
Terkait keinginannya maju, ia memastikan sedikitpun tidak memiliki afiliasi atau suport politik dari partai politik atau golongan lain, keinginannya tersebut murni atas dasar ingin membuktikan bahwa Ansor harus diselamatkan. “Kami minta semua pihak diinternal Ansor bisa bersikap arif dan bijak menghadapi momentum pilkada, bukan malah tutup mata seperti sekarang ini,” tukasnya.

Lanjut Maman, kader PMII atau lulusan PMII Indramayu yang terbagi dalam banyak kampus harus bangun dari tidur panjangnya, bersatu padu merebut Ansor dari tangan yang tidak sebenarnya berhak menguasai. “Ansor harus milik semua, kami memimpin akan mengakomodir semua kelompok maupun golongan,” tandasnya.Selain itu, pro kontra dan gejolak dalam pertarungan dan perebutan kursi Ketua PC GP Ansor yang tengah memanas dihadapkan dengan akan diundurnya kegiatan pergantian kepemimpinan tersebut. Hal itu dibenarkan oleh Sesepuh sekaligus Sekretaris Panitia Konfercab GP Ansor, Kyai Masrukhin. Ia mengumumkan pengunduran konfercab Ansor yang semula berlangsung pada 4 Oktober diundur pada tanggal 24-25 Oktober Tahun 2015.

“Kita umumkan acara konfercab itu mundur dari semula tanggal 4 menjadi 24-25 Oktober,” ungkapnya. Hal tersebut dilakukan tak lebih selain menunggu ketua PP GP Ansor yang masih berhaji untuk pulang dan juga memantapkan hal lainnya sehingga segala persiapan menjadi lebih matang.
“Ketua PP GP Ansor Nusron Wahid kan lagi haji jadi kita lebih baik nunggu, hal ini pun dimanfaatkan kita untuk lebih memantapkanpersiapan,” ungkapnya. (laz)

BAGIKAN