Ribuan Mahasiswa STIKes Cirebon Cemas

6
Kampus Dinonaktifkan, Pihak Manajemen Tegaskan Perkuliahan Normal

KESAMBI– Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) menonaktifkan tak kurang dari 243 perguruan tinggi se-Indonesia. Dari jumlah itu, berdasarkan website forlap.dikti.go.id/perguruantinggi, salahsatunya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon.
stikes cirebon
STIKes Cirebon. Image by stikescirebon.ac.id
Penonaktifan STIKes yang berlokasi di Jalan By Pass Kedawung Kabupaten Cirebon itu sontak membuat sedikitnya 1.000 mahasiswa di kampus itu cemas. Sebaliknya, menejemen STIKes Cirebon justru mempertanyakan penonaktifan itu. Karena tidak ada kejelasan dari Dikti terkait alasan penonaktifan STIKes Cirebon. “Kami juga tidak tahu kenapa dinonaktifkan,” ungkap Ketua STIKes Cirebon, Firman Ismana MM saat jumpa pers, di salah satu kafe di Jalan Pemuda Kota Cirebon, kemarin sore.
Perguruan tinggi yang berdiri sejak 2001 silam itu dinoaktifkan Dikti pada lebih dari sebulan yang lalu. Firman mengatakan, penonaktifan itu dimungkinkan dilakukan karena sistem baru yang ditetapkan Dikti. “Karena sekarang sih sistem pelaporan yang berkaitan dengan perguruan tinggi ke Dikti, itu semuanya sistem otomatis. Jadi, kalau ada sesuatu laporan yang tidak sesuai dengan sistem itu atau kesalahan kecil pun bisa berpotensi penonaktifan perguruan tinggi tersebut,” ujarnya.
Atas penonaktifan itu, diakui Firman, pihaknya sudah melayangkan surat ke Dikti maupun Kopertis, untuk meminta klarifikasi alasan penonaktifan STIKes Cirebon. 
Karena, kata Firman, sebelum keluar ketetapan penonaktifan, pihaknya tak mendapatkan pemberitahuan baik melalui surat ataupun lainnya. “Kami sudah menyurati Dikti dan Kopertis, untuk menanyakan kenapa dinonaktifkan dan bagaimana untuk mengaktifkan lagi,” kata Firman.
Untuk STIKes Cirebon sendiri, Firman menduga, penonaktifan dilakukan Dikti lantaran STIKes Cirebon belum menghapus salah satu program studi (prodi) yang sudah tidak aktif, yaitu Prodi Kesehatan Lingkungan. Sejak pihak STIKes Cirebon menutup prodi itu, belum ada laporan penutupan, bahkan masih tercantum sebagai prodi di kampus itu.
“Ini prediksi kami, mungkin karena adanya program studi yang sudah tidak aktif tapi belum dicabut izinnya dan belum dihapuskan oleh kami. Prodi Kesehatan Lingkungan memang sudah tidak aktif, sudah tidak menerima mahasiswa lagi,” kata dia. Penonaktifan Prodi Kesehatan Lingkungan yang dilakukan STIKes Cirebon disebabkan minimnya minat mahasiswa baru untuk mendaftar ke prodi itu. “Sejak prodi itu tidak aktif, kami memang belum melaporkan. Tapi kami sekarang sedang proses pencabutan sekaligus mengaktifasi kembali. Karena status non aktif ini sementara, jadi bisa diaktifkan lagi,” katanya. 
Ditegaskannya, untuk prodi selain Kesehatan Lingkungan, tak ada masalah.
Penonaktifan yang dilakukan Dikti terhadap STIKes Cirebon, diakui Firman, mengundang reaksi dari sejumlah kalangan. Terutama, mahasiswa, alumni, dan orangtua mahasiswa. “Kita sampaikan ke mahasiswa, status non aktif ini bukan persoalan legalitas. Sampai sejauh ini, kami punya legalitas yang lengkap, di antaranya ada dari Dikti dan rekomendasi dari Kopertis,” katanya.
Meski dinonaktifkan oleh Dikti, Firman menyatakan, hal itu tak mengganggu aktivitas perkuliahan. Karena status non aktif bukan merupakan larangan untuk menggelar kegiatan perkuliahan.“Perkuliahan tidak terpengaruh. Berjalan normal. Karena penonaktifan ini bukan pelarangan untuk melaksanakan kegiatan perkuliahan,” katanya. (jri)
BAGIKAN