Sejak Zaman Penjajahan, Warga Tionghoa Sudah Berbisnis

Sejak Zaman Penjajahan, Warga Tionghoa Sudah Berbisnis

RAKYATCIREBON.ID – Sejak masa penjajahan Jepang dan Belanda, warga Tionghoa di Cirebon sudah banyak memulai bisnis. Tahun 1900-1970 an umumnya masyarakat Tionghoa Cirebon bisnis gula merah, gula pasir, pala wija, hasil bumi, tembakao, hotel, emas dan meubel.

Di daerah Siliwangi, Pasar Pagi dan Karanggetas kebanyakan masyarakat Tionghoa Cirebon berjualan hasil bumi, gula merah, tembakau, kelontong dan pakaian.

“Kita mengenal Mayor Tan Tjien Kie yang lahir di Cirebon tahun 1853. Ayah dari Tan Tjien Kie bernama Tan Tiang Keng. Tan Tiang Keng ayah Tan Tjien Kie pedagang gula. Mayor Tan Tjien Kie meninggal tahun 1919. Tan Tjin Kie juga merupakan keturunan dari Oey Lwan imigran dari Tiongkok,” ujar Jeremy Huang, salah satu warga Tionghoa Cirebon.

Tan Gin Han dan Tan Gin Ho yang melanjutkan usaha bisnisnya Mayor Tan Tjien Kie. Mereka yang lahir tahun 1930 an mungkin mendengar dan mengenal juga nama Gouw Tjien Hwat yang merupakan konglomerat juga.

Dulu tahun 1920-1970a Sungai Sukalila dan Kalibaru menjadi lalu lintas sungai yang ramai membawa barang dagangan dari Pelabuhan ke Pasar Pagi. Karenanya, di pinggiran kedua sungai itu banyak toko-toko. Di dekat Sungai Sukalila juga terdapat makam Tan Sam Tjay yang ramai dikunjungi peziarah.

“Kemudian ada Oey Kwat Tay sekitar tahun 1930an terkenal sebagai pedagang pakaian, nama tokonya itu Toko Paris yang jual bahan kain dan pakaian,” imbuh Jeremy.

Ong Eng Tjiang pedagang gula merah di Pasar Pagi Cirebon, dan ada juga Gan Biau Tin Pedagang Gula merah juga di kawasan itu. Sementara Lie In Guan yang lebih dikenal dengan nama Basuki Abdul Kadir adalah agen minyak tanah di Kalibaru Selatan. Dia merupakan ayah Kandung Brigjen (Pur) Daniel Sofjan.

“Dan Lie In Guan juga ayah kandung dari Lie Oen Hin dan Lie Oen Hwa yang sukses dalam bisnis minyak tanahnya. Dr Imelda Susanti, Kristianto Sofjan dan M Norman Pandurata adalah cucu dari Lie In Guan. Saat ini Lie Oen Hin anak dari Lie Ing Guan tinggal di Vancouver Kanada, Lie In Guan adalah Saudaranya Kwee Kwan Soen,” kata dia.

Masih kata Jeremy, di areal Sungai Kalibaru juga ada Toko Waring yang jual bahan pakaian. Saat bersamaan juga ada tokoh bernama Liem Pat Nio tahun 1920an. Dia adalah penjual rempah-rempah dan tembakau.

Kemudian ada juga Oey Liang Kie di Sukalila yang membuka usaha bengkel croom pernekelan. Juga ada Tjiong A Teng membuka pabrik tegel namanya Bie Liong di Parujakan. Tjiong A Teng ini merupakan kakek dari WP Zhong, dan Tjiong A Teng juga merupakan kakek buyut dari Lilis Sembada dan Endang Prihatin Sembada.

Tan Bun Say kakeknya Dominikus dan Theresia yang memiliki usaha sembako di Kanoman, ada juga Oey Teng Gouw yang merupakan kakek dari Nelly Wawan yang berjualan barang antik di Pekiringan. Sedangkan Tjia Eng Han adalah kakek dari Mira Tjahjapranata dan Nelly Witono yang meiliki usaha jamu di Karanggetas.

“Tan Tjan Boen di Pagongan ahli service Radio dan TV. Rumah makan Gouw Kit Siang di Petratean. Kwa Swie Lan Nio atau dipanggil Ny Ayu pemilik Hotel Semarang di Siliwangi. Kwa Swie Lan Nio adalah ibunya Een Indrawati,” ujar pria yang aktif menelusuri sejarah Tionghoa di Cirebon ini.

Juga ada Hotel Asia di Kalibaru Cirebon. Toko Subur dan Toko Berkah jualan Kelontong di Pasar Pagi. Tjia Tjoe Go jualan Kelontongan di Siliwangi, Tjia Tjoe Go adalah kakek mertuanya Atet Wiyono mantan Atlet Tenis Nasional. “Sementara Tan Wan yang memiliki usaha pabrik hungkwee dan sohun,” tukas Jeremy. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!