Sekali Kirim Satu Ton, Bisa Kuliahkan Anak hingga Sarjana

Lokasi yang dekat dengan pantai dan tempat pelelangan ikan, dimanfaatkan sebagian warga di Gang Samadikun Kota Cirebon untuk menjalani usaha pengolahan ikan asin. Dari hasil usaha ikan gesek, beberapa perajin berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi. Bagaimana suasananya?

SEJAK sore hari, kegiatan warga pesisir yang ada di sekitar Pesisir Samadikun, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan sudah dimulai.

pengolahan ikan gesek
Pengolahan ikan gesek. Foto: Suwandi/Rakyat Cirebon



Mereka dengan cekatan mengolah ikan yang ada di dapat dari tempat pelelangan ikan.

Ikan yang sudah  dibersihkan dari kotorannya kemudian direndam selama semalan dengan air garam, kemudian di bilas dan dijemur selama 2 sampai 3 hari.

Setelah kering ikan dikemas dan jadilah ikan asin gesek yang siap jual.

Adalah Tamsori, seorang warga Kecamatan Losari Kabupaten Brebes, yang sudah sejak 20 tahun mengembangkan industri rumahan pengolahan ikan asin gesek.

Pengolahan ikan asin gesek merupakan salah satu jenis usaha yang sudah turun-temurun dijalankan oleh warga di Gang Samadikun Kota Cirebon.

Setiap hari, ibu-ibu dan beberapa orang lelaki sibuk membelah ikan yang jumlahnya ribuan. Pengolahan dilakukan dengan cara dibersihkan, direndam, dan dikemas sebagai komoditas ekonomi utama.

Di rumah pengolahan ikan asin milik Tamsori, sudah ada 12 karyawan yang setiap hari mengolah ikan asin.

Dikatakan Tamsori, bisnis pengolahan ikan asin gesek yang digelutinya merupakan industri rumahan yang diwariskan oleh orang tuanya.

Saat ini, Tamsori mengolah bisnis dengan istrinya. Di sekitar kediaman Tamsori, ada 4 tempat pengolahan ikan asin lainnya.

“Ini bisnis turun-temurun. Kalau saya dari orang tua saya. Dulunya cuma bantu-bantu saja. Sekarang orang tua sudah berhenti akhirnya dilimpahkan ke saya. Sekarang saya bersama istri. Kebetulan istri saya orangnya prihatin, sehingga jalan saja. Ada juga yang lain, kalau di sini ada 5 termasuk saya,” ungkapnya saat ditemui Rakyat Cirebon di kediamannya, kemarin.

Berkaitan dengan bisnisnya, dikatakan Tamsori, bisnis pengolahan ikan asin merupakan bisnis kasar yang menguntungkan.

Penghasilan dari mengolah ikan asin yang didapatnya, selain berhasil membiayai kehidupannya juga berhasil menghantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi, bahkan salahsatu anak Tamsori sudah lulus sarjana.

“Kalau penghasilan sih lumayan, omzet saya sekali kirim itu nyampai dua juta. Ya lumayan kan anak-anak juga ada yang sudah sarjana dari hasil kaya gini”. Terangnya saat ditanya seputar keuntungan bisnisnya.

Dikatakan Tamsori, komoditas ikan yang sering dipakai dalam pengolahan ikan asin adalah ikan wilis dan ikan tiga wajah. Sedangkan untuk ikan asin yang dikemas biasanya berisi beberapa jenis ikan. Saat ini, Tamsori mengirim produk olahannya ke Bandung.

“Ikan yang dipakai itu bisa ikan petek, ikan wilis, ikan tiga wajah. Kalau yang paling mahal itu ikan wilis dan ikan tiga wajah,” ungkapnya.

Saat ini, lanjutnya, produk olahan ikan asin yang digarapnya terbagi menjadi dua jenis olahan ada yang kemasan  mulus dan ada yang kemasan campuran.

Untuk kemasan mulus biasanya dalam satu kemasahan hanya berisi satu jenis ikan saja, yaitu ikan wilis atau ikan tiga wajah. Sedangkan untuk emasan campuaran bisa terdiri dari campuran ikan petek, ikan wilis, dan ikan kuniran.

Setiap hari, Tamsori bisa mengolah ikan lelang sebanyak satu hingga tiga kuintal. Jumlah tersebut, katanya, ditentukan berdasarkan ketersediaan di TPI dan kapasitas karyawan pada hari tersebut.

Dari sekian ikan yang diolah, di akhir pekan, Tamsori bisa  mengirim sebanyak satu ton ikan asin dalam kemasan yang siap jual.

“Kalau ikan yang diolah itu setiap hari, satu hingga tiga  kuintal bergantung kemampuan kitanya. Kadang kalau lagi kaya gini cuma satu kuintal saja. Untuk pengiriman sendiri kita bisa kirim satu ton ikan asin,” terangnya.

Saat ini, Tamsori sudah mempunyai pelanggan sendiri. Biasanya dia menjual hasil olahannya ke berbagai kios di Bandung.

Bahkan, rekan bisnisnya juga meraih untung dengan menjual produk olahannya.

“Saya salut sama orang Bandung yang langgan saya, sekarang punya dua gudangnya, yang tadinya gudang sembako. Di sana gak ada hasil laut, sehingga harganya mahal dan mereka mau,” tutur pria berusia 50 tahun tersebut.

Diakui Tamsori, bisnis pengolahan ikan asin medatangkan keuntungan. Bahkan suatu ketika jika permintaan banyak, dia kewalahan untuk mengirim produknya.

Dari hasil itu, dia juga sudah mempunyai rumah lebih dari satu.

“Kalau permintaan banyak, kadang-kadang seminggu suruh kirim lagi, malah kita kewalahan. Ini menguntungkan dengan bisnis kaya gini aja, alhamdulillah saya sudah punya perumahan tiga,” tuturnya.

Terkait dengan kendala yang dihadapi, pengolah ikan asin masih terbentur kendala cuaca.

Mengingat, pengolahan masih dilakukan secara tradisional.

Meski demikian, hal itu tidak menjadi hambatan baginya untuk terus mengembangkan usahanya.

“Kendalanya bahan baku. Panas memepengauhi besar untuk masalah penjemuran. Kalau musim hujan kayak gini 2 hari sampai 3 hari. Kalau cerah 2 hari 90 persen sudah kering. Meski begitu, saya akan teruskan usaha ini bahkan kalau mau sampai ke anak,” pungkasnya. (suwandi/mgg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!