“Semoga Mata Hati Pak Azis Terbuka”

61
CIREBON – Warga yang berada di kawasan kerja PT Pelindo II menggelar doa bersama, Minggu (11/10) malam. Hal ini terkait dampak debu batu bara yang terus mengganggu aktivitas mereka.

batu bara cirebon
Warga dekat Pelindo berdoa. Foto : Sudirman/Rakyat Cirebon

Ketua Paguyuban Masyarakat Panjunan Bersatu (PMPB), Kasno Hardi Iwan mengatakan, tujuan dari salat istigosah tersebut adalah untuk menyadarkan rasa keimanan dan membuka mata hati Walkota Nasrudin Azis agar sanggup memberi keputusan yang terbaik atas dampak debu yang dirasa oleh masyarakat semakin parah. “Kami berdoa agar Pak Azis sebagai walikota terbuka hatinya agar segera pelabuhan ditutup,” katanya kepada Rakyat Cirebon.

PMPB yang sangat lantang menyuarakan penutupan atas aktifitas bongkar muat batu bara ini juga menyatakan, bahwa keputusan untuk menutup aktifitas bongkar muat batu bara itu sudah bulat. “Atas nama masyarakat, tentunya keputusan untuk menutup aktifitas bongkar muat batu bara adalah keputusan yang bulat. Artinya, kami hanya ini aktifitas bingkar muat itu distop,” ujarnya.

Komentar Walikota Cirebon, Nasrudin Azis yang sebelumnya menyatakan bahwa masih ada opsi lain untuk solusi selain dengan menutup aktifitas bongkar muat batu bara itu, tidak mengubah tekad bulat masyarakat yang sudah lama menderita karena debu batu bara yang ditimbulkan. Namun, kata Hasno, jika pemerintah mengambil langkah lain, artinya tidak menutup bongkar muat tersebut, tentunya masyarakat akan memilih jalan lain untuk menyelesaikan problem ini.

“Harus libatkan pula masyarakat dalam menentukan opsi itu. Jika memang bersebrangan dengan masyarakat, kami akan memilih jalan lain,” ujar Ketua PMPB ini.  Kata Kasno, pemerintah Kota dalam hal ini tidak mempunyai otoritas penuh untuk memutuskan. Namun, untuk lebih berkwenangan terkait penutupan itu adalah pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan.

“Jika memang ada opsi lain, tentunya itu adalah keputusan pemerintah pusat, entah itu tentang teknis pengangkutan atau bagiamana pun. Jangan salah loh, pemerintah daerah itu tidak punya kewenangan lebih soal itu,” katanya. Namun, jika dalam hasil rapat tersebut pemerintah manghasilkan keputusan yang berbeda dengan apa yang diputuskan oleh anggota legislative dan masyarkat, tentu akan menjadi pertanyaan besar bagi Hasno dan masyarkat lain yang sekarang ini khawatir akan masa depan generasinya.

“Toh kenapa masyarakat memutuskan A, dan para anggota dewan A, namun jika dalam hasil rapat dari pembahasan hasil kunjungan, pemerintahnya menyatakan B. akan muncul pertanyaan bagi kami,” ucapnya.  Kata Kasno, seharusnya, Walikota Cirebon, Nasrudin Azis itu sadar bahwa terpilihnya dia memimpin Kota Cirebon adalah hasil dari suara rakyat melalui Pemilu. “Masa kok tidak dengar suara rakyatnya tentang apa yang dinginkan rakyat kami hanya ingin sehat,” ucapnya.

Senada dengan Kasno. Ketua komisi B DPRD yang hadir dalam doa bersama itu menyatakan, bahwa dirinya akan melakukan rapat untuk membahsa hasil dari kunjungannya dengan pemerintah Kota Cirebon.  Dikatakan politisi PDIP itu, sebagai anggota legislatif dan juga melihat kondisi Kota Cirebon karena dampak debu batu bara yang luar biasa berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Dirinya akan tetap memutuskan untuk menutup aktifitas bongkar muat debu batu bara.

“Kalau memang ini penutupan berpengaruh bagi industri, kenapa tidak dialihkan ke pelabuhan lain saja. kami hanya ingin untuk bongkar muat batu bara ini di Kota Cirebon,” katanya.  Politisi PDIP itu juga menegaskan, bahwa dirinya akan terus berjuang untuk bisa meminta rekomendasi dari orang nomor satu Kota Cirebon, Nasrudin Azis untuk upaya penutupan aktifitas debu batu bara.
“Jika kita sudah dapatkan persetujuannya, kita akan bawa ke Jakarta untuk meminta persetujuan lebih lanjut dari pemerintah pusat,” ujarnya. (man) 

BAGIKAN