Sering Pakai Air Kotor, Warga Mulai Terserang Penyakit Kulit

Musim kemarau berkepanjangan pada tahun ini tidak hanya membuat masyarakat kesulitan akan mendapatkan air bersih saja. Beberapa warga diketahui saat ini terjangkit penyakit kulit karena jarang menggunakan air bersih.

BERDASARKAN informasi yang dihimpun Rakcer, khususnya di Kecamatan Kapetakan, keringnya sumber air sudah bisa dikatakan dalam tahap darurat.  Sumur yang dimiliki warga saat ini sudah tidak lagi berisi air bersih melainkan lebih banyak terisi oleh air asin yang tak layak untuk dikonsumsi.
Beberapa warga juga memilih membeli air bersih untuk mencukupi kebutuhan minum dan memasak. Sedangkan untuk mencuci pakaian serta mandi cuci kakus (MCK), warga memilih aliran air sungai yang tidak baik untuk digunakan.

penyakit kemarau cirebon
Penyakit musim kemarau. Foto : Yoga Yudisthira/Rakyat Cirebon

Akibatnya, warga juga mulai mengeluhkan gatal maupun penyakit kulit yang timbul. Dari pentauan Rakcer, penyakit itu terlihat seperti melepuhkan kulit dan juga membuat permukaan kulit menjadi menghitam. Hal itu juga dibenarkan oleh salah seorang warga Kapetakan, Samsu Bais (38) yang ditemui Rakyat Cirebon usai dirinya berkunjung ke Kantor PDAM Kabupaten Cirebon, Senin (5/10).
Dijelaskannya, penyakit gatal sudah mulai menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang juga direpotkan oleh cara mendapatkan air bersih bagi keperluan sehari-hari.

Diungkapkannya, warga kapetakan setiap harinya harus membeli air minimal 10 tangki air sehari. “Jika dikalkulasikan sebulan bisa mencapai Rp300 juta lebih,” ungkapnya.Meski adanya bantuan air dari pemerintah, lanjut Samsu,  hanya sekali seminggu saja dan tetap diminta bayaran dengan alasan untuk biaya operasional.

“Tentunya ini sangat memberatkan bagi kami, ditambah dengan kondisi perekonomian saat ini yang serba mahal. Ditambah adanya penyakit seperti ini, menambah beban kita,” keluhnya.
Bukan hanya itu saja, dirinya juga mengeluhkan sistem pelayanan air yang dinilai tidak profesional. Karena, sejak dua bulan terakhir, air hanya sesekali mengalir dan itu pun hanya di jam-jam tertentu saja.

Bahkan yang lebih parah, ratusan pelanggan yang ada di wilayah Kecamatan Kapetakan mengaku, dalam sebulan air hanya “ngocor” satu hari saja. Sehingga, guna mempertanyakan kejelasannya, perwakilan pelangganan dari sejumlah desa se-Kecamatan Kapetakan, mendatangi kantor PDAM setempat.

“Tagihan tiap bulan terus berjalan dan jika telat bayar kena denda. Tapi PDAM tidak memberikan solusinya. Ini jelas tidak profesional dalam melayani pelanggan,” terangnya.Dijelaskan Samsu, kedatangannya ke kantor PDAM yakni guna meminta kejelasan terkait dengan mandetnya pasokan air. Namun, kedatangan mereka malah lebih mengecewakan, alatan tidak bisa dipertemukan dengan pihak yang bisa bisa memberikan penjelasan pasti karena sejumlah alasan.

“Katanya pimpinan mereka (PDAM) sedang keluar kota. Kami diminta untuk datang kembali pada hari rabu mendatang. Kami mewakili warga yang ada di Kapetakan sekitar 800 pelanggan,” tambah Samsu.Pelanggan lainnya, yang ada di jalan Pecilon Desa Sutawinangun Kecamatan kedawung Kabupaten Cirebon, Muadi juga mengeluhkan air PDAM yang sudah jarang mengalir.

Sejak sebulan terakhir, kata Muadi, air PDAM hanya sesekali mengalir. Itu pun menurutnya, hanya di jam-jam tertentu saja. “Sehari itu air keluarnya cuma dari jam 2.00 sampai jam 3.00 saja, selebihnya tidak,” keluhnya. (yoga yudishtira)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!