Siapa Sosok Illuminati yang Singgah di Cirebon?

Siapa Sosok Illuminati yang Singgah di Cirebon?

Di Cirebon, jarak tempuh sekisar 17 km dari pusat kota Cirebon menuju Palimanan. Tepat di jalan Agus Salim, Palimanan Timur, Gapura Selamat Datang di Kawasan Pabrik Gula Gempol, belakang SD Negeri Gempol, “Di sinilah kuburan-kuburan Belanda itu, mas,” kata Raka, seseorang yang menunjukkan kepada Radar Cirebon Group.

Barisan liar semak belukar dan gundukan ranting-ranting pohon menjalar di tanah. Tak ada satu petunjuk pun yang membuktikan bahwa tempat tersebut adalah kawasan pemakaman Belanda.

“Hati-hati, Mas, tempat itu angker,” seloroh ibu May, penjual jajanan di samping SD Negeri Gempol.

Namun, rasa ingin tahu soal keberadaan organisasi yang kerap dibumbui mitos oleh masyarakat Indonesia. Yaitu soal eksistensi organisasi Freemasonry–didirikan di dunia sebelum 1717, membunuh suasana angker di kawasan itu.

Dengan menggunakan parang, mencerai berai barisan liar belukar. Satu per satu, makam-makam Belanda mulai tampak di permukaan. Susunan nisan yang sudah rusak, beberapa bagian makam roboh, dan beberapa masih tertimbun tanah.

“Dulu, makam ini, ada patung wanita seperti Bunda Maria,” ungkap Raka sambil membersihkan akar-akar liar yang menutupi makam, berbentuk tugu. Dia memastikan bahwa di atas tugu itu ada patung Bunda Maria. “Ada orang jahil, patung itu sudah hilang,” imbuhnya.

Sejenak, mengamati perlahan kompleks tersebut, teringat Museum Prasasti, Jalan Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat. Sebuah museum, yang lebih tepat jika dikatakan sebagai kawasan pemakaman para tokoh penting petinggi Belanda atau orang Eropa pada masa kolonial.

Makam-makam kuno itu ditandai dengan koleksi prasasti nisan karya seni masa lampau sebanyak 1.372 makam yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!