Soal Patahan Lembang, Wali Kota Bandung Ingatkan Warga Siap Hadapi Bencana

46
Wali Kota Bandung Yana Mulyana/RMOLJabar

RAKYATCIREBON.ID-Kota Bandung masih termasuk daerah dengan potensi bencana cukup tinggi. Untuk itu Pemerintah setempat terus mendorong semua elemen untuk bekerja sama terhadap kesiagaan penanggulangan bencana.

Wali Kota Bandung Yana Mulyana menyebutkan, hingga saat ini pihaknya masih mengkaji pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Saat ini, penanganan bencana masih di bawah koordinasi Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB).

“Selama ini masih ada stigma Bandung mah aman dari bencana, tidak ada itu. Padahal potensi bencana di Kota Bandung itu sebetulnya cukup tinggi. Ini kan ada analisa kalau patahan lembang sekala 6,5 saja dampaknya Kota Bandung 11 SR, rata Kota Bandung, karena dia cekungan,”katanya saat ditemui di Balaikota Bandung, Senin (25/11).

Sesar Lembang sepanjang 22 km di utara Bandung, dilihat dari GoogleEarth

Saat ini pihaknya mengajak seluruh elemen untuk mengedukasi masyarakat agar siap menghadapi situasi bencana.

“Minimal kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri, kalau kita selamat ketika ada bencana kita bisa menolong sebelah kita yang minta tolong,”terangnya.

“Kita sepakat mengedukasi bagaimana kita surfive dulu kalau ada bencana,  misalkan ada bencana gempa atau apa kita sudah ada survive selama tiga hari entah itu makanan atau apa, nah ini harus di edukasi pada masyarakat,”lanjutnya.

Pemkot Bandung saat ini sudah mengedukasi siaga bencana di dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu di SMPN 58 dan SMPN 34 Kota Bandung.

Sedangkan Diskar PB sendiri sudah melakukan pelatihan kesiagaan bencana di tingkat Kecamatan dan Kelurahan.

“Ini harus masif yang ada struktur sampai kebawah itu salah satunya karang taruna,PKK termasuk Sekolah. Nanti masif akan dilakukan, saya sarankan masyarakat pun agar lebih mudah secara visual, edukasinya langsung dibanding seminar, FGD entar ilang,”imbuhnya.

“Saya minta ke sekolah dengan banyak simulasi bukan sekedar teori. Saya rasakan dulu kalau ada lini (gempa), masuk ke kolong meja (bawah meja), saya masih melekat sampai sekarang,”jelas Yana.

Ia mengakui, meskipun biaya anggaran untuk simulasi dinilai lebih besar. Namun pihaknya akan berusaha untuk membuat sebuah forum untuk menanggulangi bencana.

“Temen-temen mendorong juga karna di provinsi ada forum, ini yang belum di buat di Bandung. Simulasi membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan workshop apalah gitu. Kalau anggaran terkendala, kan disitu ada unsur pengusaha medianya dari CSR bisa,”demikian Yana. (rmol)