Stok Jamur Melimpah, Ibu-ibu Desa Kubangkarang Produksi Naget Jamur

610
OLAH JAMUR. Kadeer Posyandu Desa Kubangkarang menunjukkan hasil karya ibu-ibu di desanya dalam mengolah jamur. Foto : Zezen Zaenudin Ali/Rakyat Cirebon

CIREBON – Untuk memberdayakan potensi desa, Posyandu Cut Nyak Dien Desa Kubangkarang, Kecamatan Karangsembung membuat priduk  unggulan berupa Naget Jamur. Desa tersebut memang terdapat salah satu pemilik lahan yang membudidayakan jamur.

Ketua Posyandu Cut Nyak Dien, Nina, mengatakan, produksi naget jamur tidak lepas dari “keresahan” warga desa yang gemar memasak. Hanya saja, kegemarannya tersebut belum bisa tersalurkan dan menghasilkan. Maka ketika salah satu warga desa memiliki produksi jamur, gagasan mengolah jamur itu muncul.

“Ini bukan sebatas iseng. Kita memang sudah lama  resah bagaimana caranya kebiasaan warga yang gemar memasak  bisa menghasilkan keuntungan. Akhirnya ketika melihat produksi jamur, kita mulai memikirkan untuk mengolahnya,” akunya kepada Rakyat Cirebon, Jumat (4/5).

Awalnya, tidak sampai terfikirkan untuk dijadikan naget kata Nina, mengingat masyarakat desa sebelumnya belum mimiliki wawasan untuk membuatnya. Karena yang namanya jamur tanpa harus diolahpun sudah bisa dinikmati. “Biasanya jamur setelah dipanen, masyarakat kita mengolahnya paling-paling untuk dimasak menjadi hidangan makan keluarga. Bukan untuk diolah,” ucap perempuan yang juga kerap disapa ibu Sekdes itu, mengingat suaminya menjadi Sekdes di Desa Kubangkarang.

Akhirnya kata Nina, berkat hadirnya mahasiswa yang melakukan PKL di desanya, gagasan dan impian mengolah jamur itu bisa terealisasi. Bukan hanya itu, masyarakat pun diarahkan bukan hanya sebatas membuat dan menyajikan, tetapi diajarkan untuk mengetahui takaran gizi dari setiap hasil kelolaannya. “Ya, setelah ada anak-anak mahasiswa yang PKL di desa kami, gagasan mengolah jamur menjadi naget itu muncul. Dan produknya pun akhirnya kita berikan nama naget jamur, biar tidak menghilangkan produksi asli desanya,” ucapnya.

Sementara Kader Posyandu, Emi menyampaikan dengan diolahnya jamur menjadi naget, nilai jualnya pun lebih tinggi, ketika dibandingkan hanya menjual jamur segar sebelum dilakukan pengolahan dan memiliki ketahanan jauh lebih lama. “Kita belum maksimal. Masih percobaan, tapi ketika dihitung-hitung, memang nilainya saat dijual jauh lebih mahal saat sudah diolah. Hasil olahan ini, kalau sudah matang bisa bertahan sampai dua hari. Tapi kalau masih mentah dan disimpan dikulkas, bisa sampai setengah bulan,” ucapnya.

Sedangkan Kader Posyandu lainnya, Neni jelaskan proses membuat dan bahan baku yang digunakan untuk membuat naget jamur. “Cara memasaknya dengan cara dikukus. Tapi sebelum dikukus, kita mencampurkan bahan-bahan lain, seperti wortel, daging ayam, kemudian telor, tepung terigu dan yang utamanya itu jamur. Jamurnya kita cincang, bukan diblender, karena ketika diblender, rasa khasnya jadi hilang,” pungkasnya. (zen)