Sukseskan Natal, Rakyat Khatam dengan Toleransi

Sukseskan Natal, Rakyat Khatam dengan Toleransi

RAKYATCIREBON.ID-Puncak perayaan Natal yang digelar kemarin, berlangsung aman dan lancar. Umat kristiani larut dalam kebahagiaan. Umat non kristiani juga ikut gembira bahkan ikut rame-rame mensukseskannya.

Isu intoleransi yang ditakutkan banyak pihak tidak terbukti. Ini bukti rakyat kita tak usah diajari soal toleransi.

Hujan rintik-rintik saat Yudi Latief tiba di halaman Katedral, Jakarta, kemarin. Eks Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini tak datang sendirian. Ia didampingi belasan rekannya yang berasal dari sejumlah komunitas muslim, seperti Gusdurian, Caknurian, dan Yayasan Pemantapan Ideologi Pancasila.

Gusdurian dan Caknurian adalah kelompok pengagum pe mi kiran Gus Dur dan Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Setiba di Katedral, Yudi tak langsung masuk. Ia dan rekannya menunggu sampai misa selesai. Sebagian lagi memanfaatkan waktu menunggu dengan membentangkan span duk bertuliskan ucapan selamat Natal di luar gerbang Katedral.

Saat jeda misa, Yudi dan kawan-kawan kemudian dipersilakan masuk ke ruang utama dan dipersilakan memberikan sambutan di atas mimbar.

Di depan jemaah Katolik, Yudi mengatakan, kedatangan rombongan untuk menyambung tali silaturahmi dengan umat Kristen dan Katolik di Indonesia, khususnya di Jakarta.

“Kalau umat Katolik bahagia di hari Natal, kita semua pengikut agama apa pun ikut bahagia, karena umat Katolik yang bahagia, juga akan merembetkan kebahagian kepada warga lain di seluruh nusantara,” tuturnya, disambut tepuk tangan jemaat gereja.

Terakhir, Yudi mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru. Selamat berbahagia. “Saya bisa melihat pancaran sinar di wajah saudara, cemerlang,” tuturnya.

Semarang punya cerita sendiri. Para santri dari Kabupaten Demak ikut menyemarakkan Natal dengan mengiringi misa di Gereja Mater Dei, Kleurahan Lamper Kidul. Salah satu lagu berjudul “Nandur Rukun” dibawakan di gereja itu dengan iringan rebana.

Mengenakan koko putih dan peci hitam, para santri itu mengiringi lagu tersebut dengan rebana. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang mampir ke sana ikut kagum atas kolaborasi dari Paswa Anak Gereja Mater Dei dengan group Rebana Ponpes Roudlotul Solihin Demak.

“Dari perjalanan saya berkeliling gereja, hari ini paling unik, saya disambut anak-anak menyanyi sangat bagus, sangat kompak dengan pesan perdamaian dan persatuan. Yang menarik, penampilan anak-anak ini diiringi rebana dari salah satu Pondok Pesantren di Demak,” kata Ganjar.

Para jemaat gereja pun kagum dan berlomba-lomba mengabadikan momen itu.

Pengasuh Ponpes Roudlotul Solihin, KH Abdul Qodir mengatakan, visi pondok pesantren yang dipimpinnya adalah mencetak santri yang inklusif yang mau menerima perbedaan. Dan, pada momen Natal kali ini, dirinya ingin menunjukkan kebersamaan.

“Meski akan muncul pro dan kontra, namun kami lebih menekankan aspek kemanusiaan dan aspek persaudaraan. Karena bagi kami, misi agama itu yang terpenting adalah kemanusiaan di atas ritual dan sebagainya,” kata Abdul.

Kepala Gereja Mater Dei, Romo Sugi Hartanto menyambut baik kehadiran santri dari Demak dengan rebananya. Ini menjadi momen meneguhkan persaudaraan.

Sementara di pelosok NTT lain lagi ceritanya. Kelompok Remaja Mas jid Al Hidayah Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ikut mengamankan sejak misa ma lam hingga hari Natal di Gereja Katedral St. Yoseph Maumere.

Para remaja masjid yang berjumlah puluhan orang itu tampak berjaga di gerbang gereja. Ada pula yang menjadi tukang parkir dan mengatur lalu lintas di depan gereja. Puluhan remaja masjid ini mengenakan baju koko dan menggunakan tanda pengenal.

Mereka berbaur dengan aparat keamanan yang bertugas menjaga di depan gereja. Usai misa, puluhan remaja masjid memberi salam kepada jemaat Katolik yang keluar dari gereja.

Para pegiat dunia maya ikutan gembira dengan kerukunan tersebut. Pemilik akun @Alikangtani ikut mengomentari berita di portal berita online yang membahas soal toleransi di Jepara. Di sana, ada masjid dan gereja bersebelahan. Jaraknya tak sampai 10 meter.

“Inilah kerukunan di desaku, gak perlu teriak aku Pancasila, gak perlu teriak paling toleran, gak ada radikal radikul dan juga gak masalah dengan syariat Islam. Rakyat Indonesia sudah khatam dengan toleransi, gak perlu diajari lagi,” ujarnya.

Ustad Haikal Hassan ikut meluapkan unek-uneknya. Dia mengeluh, banyak yang menuduh sebagian ulama bersikap intoleran.

“Bagi umat Islam, toleransi itu sudah mendarah daging. Keadaan aman. Sejak tahun 623, saat seluruh Romawi wajib Kristen, saat seluruh Lersia wajib Majusi, saat seluruh Yerusalem wajib Yahudi, Nabi Muhammad mengatakan semua bebas menganut agama apa pun di wilayah Islam,” ujar @haikal_hassan.

Pengasuh Suluk Maleman, Habib Anis Sholeh Ba’asyin menuliskan, sebuah pesan sekitar ucapan Selamat Natal. Kata dia, jumhur ulama mengharamkan, tapi memang ada yang membolehkannya.

Yang jadi masalah bukan mengucapkan atau tidak mengucapkan, karena masing-masing punya sandaran; tapi merasa lebih unggul dan niat saling mengejek dan memamerkan ketika mengucapkan atau tidak mengucapkan.

“Lagi pula mengucapkan atau tidak mengucapkan, tidak otomatis membuat orang lebih toleran; memaksa atau melarang orang mengucapkannya atau tidak mengucapkannyalah yang justru tidak toleran,” tulisnya. (rmco)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!