Surat Dipati Natadireja kepada Jenderal Guntur

Surat Dipati Natadireja kepada Jenderal Guntur

RAKYATCIREBON.ID-Wilayah pantai utara Jawa Barat itu dilanda kerusuhan dalam durasi yang cukup panjang. Terkait dengan hal itu, ditemukan naskah surat yang ditulis oleh seorang pejabat lokal bernama Raden Dipati Natadireja. Surat bertanggal 5 Jumadilakhir Tahun Dal 1223 Hijriah (25 Juli 1808) tersebut ditujukan kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, ‘Jenderal Guntur’ Herman Willem Daendels. 

Informasi yang terkandung di dalam surat itu sangat penting, terutama untuk masa pendudukan Perancis, tahun 1808-1811. Melalui surat itu, Raden Dipati Natadireja menginformasikan bahwa banyak pejabat di Cirebon, terutama pejabat rendah, justru memilih bergabung dengan kaum pemberontak. Ia pun melaporkan bahwa pemberontakan itu dipimpin oleh tiga tokoh yang sangat disegani, yakni Kulur, Rangin, dan Draham. Merujuk laporan Raffles pada 1814, gelombang pemberontakan itu terjadi akibat rakyat sudah tidak tahan menerima perlakuan lalim. 

Surat Raden Dipati Natadireja kepada Herman Willem Daendels kini tersimpan di Arsip Nasional Indonesia, dan telah diterjemahkan oleh Titin Nurhayati Ma’mun. Surat tersebut telah dipresentasikan dengan judul Surat Dipati Natadireja kepada Daendels, dalam Simposium Internasional ke-16 Pernaskahan Nusantara dan Musyawarah Nasional ke-6 Manassa, Jakarta 26-29 September 2016.

Berikut ini adalah teks naskahnya. 

Inilah surat (yang dikirim) dengan sembah sujud (serta) hormat saya, Raden Dipati Natadireja (yang bertugas) di Negeri Cirebon. Teruntuk tuan besar nan berkuasa, Herman Willem Daendels, panglima perang Negeri Belanda serta Gubernur Jenderal Hindia yang memerintah negeri-negeri bawah angin atas nama raja Belanda.

Selanjutnya (saya) beritahukan, Petor Cirebon menyampaikan kabar (bahwa) saya (dan) anda sebaiknya memeriksa (para) abdi dalem alit di Cirebon. (Hal itu harus dilakukan) lantaran para abdi dalem alit masih juga tega berbuat tidak pantas (yakni) berani ikut-ikutan menjadi pengacau (barandhal), (di mana) saya (kepada) Anda akan memberi penjelasan tentang hal itu.

Tuan, saya menyerahkan mati hidup diri saya seutuhnya kepada Anda. (Lagi pula,) memang, anda memiliki kekuasaan untuk menghidupkan (atau) mematikan jasad saya karena anda (merupakan) tuan saya yang sebenar-benarnya.

(Terkait dengan) perkara tersebut, Tuan, saya (hendak) menyampaikan kenyataan yang sebenar-benarnya karena sebelumnya saya telah memeriksa sekaligus membuktikan (dugaan yang ditujukan) terhadap para kapala serta orang-orang kecil (titiyang alit; para bawahan).

Sama sekali tidak kelihatan, dalam mata saya, dari apa yang sama-sama dimiliki, aturan yang diberlakukan, sebab apa-apa (itu), (saya pandang) sama sekali tidak memberatkan.

Berdasarkan pendengaran dan penglihatan saya yang telah dibuktikan secara sungguh-sungguh, (bahwa saat ini mereka) merasa senang, (dan merasa) mudah. Hal itu terlihat dalam perilaku yang secara nyata (mereka tunjukkan), (yakni) bergembira hati dalam melakukan semua pekerjaan. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak merasakan bahwa para abdi dalem alit telah melakukan perbuatan yang tidak pantas tersebut.

Soalnya, itu tadi, (saya) sama sekali tidak pernah melihat dan mendengar sedikit pun tentang keberatan (keluhan) mereka. (Sebaliknya, mereka) sangat senang dalam melakukan pekerjaan.

(Meskipun demikian, dalam kesempatan ini), sesungguhnya, saya menyimpan kekhawatiran bahwa para abdi alem alit memang telah berani memperbuat sesuatu yang tidak pantas.

Sebenarnya hal itu bermula dari kebodohan para abdi dalem alit sehingga terbujuk untuk mengikuti langkah kapala titiga yang sesungguhnya sangat buruk, seperti Kulur, Rangin, serta Draham. Kebodohan itulah yang membuat para abdi dalem alit termakan bujuk rayu kapala titiga untuk melakukan perbuatan yang sangat buruk tersebut.

Serta kekhawatiran saya, selagi kapala titiga yang sangat buruk itu belum tertangkap, mesti belum datang ketenteraman kepada diri para abdi dalem alit, meskipun masih juga mendengar tentang bujuk rayu kapala titiga yang berkelakuan buruk tersebut.

Selain itu, Petor Cirebon juga membicarakan dengan abdi dalem yang bernama Demang Suraprasandhah yang diminta oleh Anda untuk mendapat hukuman (akarante). Soal ini, berdasarkan penglihatan dan pendengaran saya, sebenarnya hukuman tersebut sudah diberlakukan. Soalnya, tak hanya sekali dua kali ia memperlihatkan pembangkangan (cidhranipun) serta tidak mengindahkan perintah.

Malah, salah seorang dari kapala titiga, bernama Rangin, (pernah) bersembunyi di sebuah dusun yang berada di wilayah kekuasaan Demang Suraprasandhah. Jelas-jelas ia kedapatan tidak ingin menangkap Rangin. Sebaliknya, ia justru menyuruh Rangin untuk melarikan diri.

Inilah, Gusti, hal-hal yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya pun melaporkan hal ini dengan tulus ikhlas dari hati, tentang segala hal yang saya lihat dan dengar.

Ditulis di Negeri Cirebon, pada tanggal 5 Jumadilakhir Tahun Dal 122 Hijriah, 25 Juli 1808

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!