Tanggulangi Banjir Boleh Pakai Dana Desa, Ini Penjelasan Mendes PDTT

61
Air menggenang setinggi perut orang dewasa wilayah Timur Cirebon. (Istimewa)

RAKYATCIREBON.ID-Pemerintah desa diperkenankan menggunakan dana desa dalam penanggulangan bencana banjir. Dengan catatan, melampirkan data penggunaan dana lewat laporan dan dokumen yang menguatkan.

”Boleh, kan ada regulasinya. Tidak masalah itu. Kalau dari peta BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ada sekitar 50 ribu desa yang berpotensi terdampak bencana,” terang Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, Minggu (5/1).

Menurutnya, bencana apapun dan dimanapun wilayah terdampak bencana, sesuai dengan seruan Presiden Joko Widodo, pertama yang harus dilakukan adalah penyelamatan warga korban bencana itu. ”Dan Dana Desa bisa digunakan untuk itu, sesuai dengan aturan perundang-undangan yang sudah kita tetapkan,” katanya.

Disinggung mengenai jumlah desa yang terdampak bencana, terutama banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Mendes PDTT tidak menyebutkan dengan detail, namun harapannya tidak banyak.

”Kalau jumlah (desa terdampak), kami berharap tidak banyak, namun kalau kemarin di Bogor dan Banten itu banyak,” katanya.

Bahkan, Menteri Desa mengakui masih ada daerah di Lebak, Banten, berdasarkan laporan yang diterima masih terisolir karena dampak bencana itu, tetapi penanganan yang dilakukan pemerintah sudah baik.

”Tetapi penanganan sudah bagus, yang pasti bahwa untuk Dana Desa karena adanya 50 ribu desa yang bisa terdampak atau rawan bencana, menurut kajian BNPB itu, regulasinya Dana Desa bisa digunakan untuk tanggap darurat bencana,” katanya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan 4.401 jiwa masih mengungsi karena air luapan kali dan sungai masih menggenangi rumahnya hingga H+5, Minggu (5/1).

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta M Ridwan mengatakan warga masih mengungsi di 22 lokasi pengungsian yang ada di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Timur. ”Per hari ini, masih ada lima kelurahan tergenang ketinggian ada 40 cm hingga 70 cm,” kata Ridwan.

Ia merincikan wilayah yang masih tergenang yakni Jakarta Utara terdapat di satu kelurahan di enam RW, total yang mengungsi 220 jiwa tersebar di tiga lokasi pengungsian. Tinggi air yang masih menggenang wilayah Jakarta Utara 40 cm akibat luapan Kali Cakung, Sunter, Cakung Drain dan Rob.

Selanjutnya di wilayah Jakarta Barat jumlah yang paling banyak yakni ada di tiga kelurahan tersebar di 11 RW dengan jumlah jiwa yang mengungsi sebanyak 2.752 orang. ”Lokasi pengungsian ada di empat titik, ketinggian air masih 70 cm,” katanya.

Berikutnya di wilayah Jakarta Timur, air masih menggenangi pemukiman warga di satu kelurahan di satu rukun warga, dengan jumlah pengungsi sebanyak 1.036 jiwa tersebar di enam pengungsian. BPBD DKI Jakarta juga mencatat ada warga yang mengungsi di wilayah Jakarta Selatan walaupun air sudah surut tidak lagi menggenangi rumah warga.

Total ada 393 jiwa masih mengungsi di delapan titik pengungsian wilayah Jakarta Selatan. “Di Jakarta Selatan sudah surut semua tapi warga masih ada yang mengungsi,” kata Ridwan.

Sebagian warga memilih mengungsi karena rumahanya belum representatif untuk ditempati karena ads sisa banjir seperti tempat tidur yang belum bisa dipakai, atau masih berantakan karena warga masih berbenah usai banjir. BPBD juga menginformasikan sebagian besar pengungsi membutuhkan bantuan mendesak berupa carbol atau cairan disinfektan, alat kebersihan, popok bayi, air minum, selimut, pakaian dalam dan makanan siap saji. (tim/fin)