Tantangan Besar, Negara Wajib Perkuat TNI

4
Tak hanya Benteng Ketahanan Negara, Kini Pendamping Rakyat

SEBAGAI komponen utama sistem pertahanan negara, Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah menghadapi tantangan yang sangat besar. Demikian dikatakan Ketua Komisi I DPR RI Drs Mahfudz Siddiq MSi dalam rilisnya, kemarin.Dikatakan anggota DPR RI dari Dapil Cirebon-Indramayu ini, agar negara mampu menghadapi  beragam tantangan baru, maka wajib bagi negara untuk memperkuat TNI.

mahfudz siddiq
Mahfudz Siddiq. doc. Rakyat Cirebon

Dijelaskan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, tantangan besar  yang dihadapi negara dan TNI saat ini adalah pertama, meningkatnya tensi konflik politik  dan keamanan  di berbagai kawasan, termasuk laut China Selatan. Kedua, lanjut Mahfudz, merebaknya kejahatan lintas negara yang bentuknya non-tradisional seperti terorisme, kejahatan siber, dan separatisme yang menggalang dukungan internasional.

“Tentangan ketiga adalah pertarungan kepentingan ekonomi terhadap beragam sumber daya  yang mengggunakan perang proxi. Dan keempat, membesarnya potensi bencana alam akibat dampak persoalan lingkungan,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon. Keempat tantangan baru tersebut, lanjutnya, bersamaan dengan makin beratnya tugas pokok TNI menjaga kedaulatan dan yuridiksi wilayah NKRI sebagai negara kepulauan yang ingin mengembangkan diri sebgai negara maritim.

Juga, kemampuan kontrol terhadap semua wilayah, penjagaan terhadap sumber daya alam dan kemampuan menghadapi segala gangguan.“Maka, sekali lagi negara wajib memperkuat TNI dalam semua aspek seperti organisasi, SDM, alutsista  dan sarpras-nya,” tandasnya. Hal ini ditunjukkan, lanjut Mahfudz, dengan komitmen negera untuk memberikan anggaran yang cukup mengacu kepada postur pertahanan yang dibutuhkan.Apalagi, lanjutnya, presiden menginginkan TNI menjadi kekuatan militer maritim yang tanggung di kawasan.

“Maka menjadi aneh jika anggaran TNI justru semakin turun dibanding tahun sebelumnya.  Kelemahan regulasi dalam pelaksanaan fungsi selain perang terus dibiarkan dan kesejahteraan prajurit TNI masih dipandang bukan prioritas,” katanya.Presiden, kata Mahfudz, sesuai dengan amanatnya harus mengambil kebijakan dan keputusan penting dalam agenda penguatan TNI. “Jika tidak, peringatan 70 tahun TNI dan amanat Presiden Joko Widodo lagi-lagi hanya sebatas seremoni,” katanya.

KETAHANAN PANGAN
Selain menjaga kedaulatan negara, TNI saat ini juga dilibatkan dalam program ketahanan pangan pemerintah.Seperti yang dilakukan Korem 063/SGJ, dimana cakupan wilayah kewenangan Korem dari Kuningan hingga Karawang. Korem 063/SGJ melakukan pendampingan di masing-masing wilayah untuk menyukseskan program ketahanan pangan tersebut.

Salah satu wilayah yang dinilai sukses dalam program ketahanan pangan adalah Cikarang. Korem O63/SGJ dalam program ketahanan pangan ini menggunakan bibit unggulan, yakni IPB3S.
Komandan Korem Kolonel Inf Sutjipto melalui Kepala Penerangan Korem 063/SGJ Mayor Arh Ismail mengatakan, program padi unggulan di Cikarang terlihat sangat signifikan hasilnya.
Hal itu, kata Ismail, terbukti saat Korem 063/SGJ melalukan panen raya ke Cikarang.

“Itu sangat signifikan penghasilannya karena setiap hektare-nya mengahsilkan tujuh ton gabah kering. Dari lima hektare yang ada diwilyah itu, jadi ada 35 ton,” ungkapnya.Saat itu, lanjut Ismail, untuk wilayah yang mengalami kekeringan seperti Indramayu, Cirebon, dan Majalengka, Korem 063/SGJ juga terus melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam hal sistem gilir air untuk persawahan di wilayah tersebut.

Hal itu dilakukan, lanjut Ismail, mengingat sumber air yang ada di wilayah III Cirebon berbeda dengan yang di Cikarang.“Semangat TNI tetap mengalir kepada masyarakat. Hingga kitapun mengawal program gilir air untuk persawahan yang mengalami kekeringan,” ungkapnya.
TNI yang dulu yang hanya menjadi benteng pertahanan negara, sebut Ismail, kini berubah menjadi pendamping rakyat sejati karena TNI lahir dari rakyat. (sud/man/mgg)

BAGIKAN