Tersihir Batik Peranakan Cirebon

Tersihir Batik Peranakan Cirebon

Saat rakyatcirebon.id berkunjung di kediaman Gouw Yang Giok, ia memperlihatkan salah satu contoh batik peranakan Cirebon yang diproduksinya di kawasan Jalan Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Perempuan 76 tahun itu mengungkapkan batik peranakan merupakan konsekuensi dari aktivitas niaga yang terjadi pada masa lampau.

“Di zaman Belanda, batik sudah ada. Dimulai dari Pekalongan dan menyebar ke kawasan pantai utara Jawa, seperti Lasem, Cirebon, Indramayu,” katanya, Senin (13/10).

Batik tetap berkembang pada masa pendudukan Jepang. Di masa ini, imbuhnya, lahir kain batik yang dikenal dengan sebutan batik pagi sore.

Wanita yang akrab disapa Ibu Giok atau Ci Giok ini menerangkan, kain batik pagi sore adalah satu kain batik yang dibuat dengan dua sisi berbeda. Sesuai namanya, kain batik pagi sore dikenakan si pemakainya untuk pagi dan sore hari.

“Waktu itu tekstil sedang susah. Nah, untuk menyiasati keterbatasan pakaian, dibuatlah batik pagi sore. Satu kain batik bisa dikenakan pada pagi hari pada satu sisi, dan sisi lainnya untuk sore hari,” paparnya.

Seusai perang dengan Jepang atau persis setelah merdeka sekitar 1946, diketahui banyak warga Tionghoa di Indonesia yang pula membatik. Inilah yang kemudian diyakini mendasari munculnya istilah batik peranakan.

Huniannya kental dengan ornamen rumah peranakan. Bagian depan dijadikan area niaga untuk batik-batik karyanya. Gouw Yang Giok membagikan perjalanan cerita batiknya. Ia adalah generasi keempat dari usaha batik peranakan yang ditekuni keluarganya. Yaitu, Gouw Tjin Lian (kakek buyut) dan Thio Linnio (nenek buyut).

’’Pada 1934, papa saya memperoleh dokumen izin dari sultan sepuh Keraton Cirebon untuk membatik dengan pola batik keraton,’’ tuturnya.

Di lingkungan keluarga Gouw Yang Giok sendiri, aktivitas membatik telah dikenal jauh sebelum istilah batik peranakan diyakini muncul pertama kali. Pasalnya, pada 5 September 1934, sang ayah, Gouw Tjin Liang, beroleh izin dari Sultan Sepuh Keraton Cirebon untuk membatik dengan pola batik keraton, seperti patran kangkung atau keris.

Bila digambarkan sederhana, batik peranakan sendiri merupakan hasil kombinasi motif batik lokal dan Tionghoa. Khusus batik peranakan Cirebon, motif yang digunakan tentunya berupa motif-motif lokal Cirebon yang dikolaborasikan dengan cerita-cerita Tionghoa.

Batik peranakan yang dibuat Gouw Yang Giok salah satunya, semisal kain batik bermotif mega mendung yang dikombinasikan sosok Laksamana Cheng Ho dan ekspedisi niaganya yang epik, maupun cap go meh. Atau, motif keratonan Cirebon yang diharmonisasi dengan gambar burung phoenix yang megah.

Motif batik semacam itu sendiri terkategori batik kuno yang dibuat dengan cara tulis (batik tulis). Saat ini, batik kuno menghadapi ancaman antusiasme konsumen.

“Batik-batik kuno sekarang jarang yang mau, terutama di kalangan anak muda. Mereka lebih memilih batik cap atau printing yang warnanya lebih terang dan motifnya yang kekinian,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!