Tokoh Tionghoa Cirebon:   Perilaku dan Kemajuan Sosial Ekonomi di Cirebon Belum Terbaik

Tokoh Tionghoa Cirebon: Perilaku dan Kemajuan Sosial Ekonomi di Cirebon Belum Terbaik

RAKYATCIREBON.ID-Presiden Joko Widodo menyinggung eksistensi warga Tionghoa di Indonesia, terutama di bidang bisnis. Menurut Jokowi banyak bisnis warga Tionghoa yang masih berdiri meski tengah diterpa resesi global.

“Memang di tengah ekonomi dunia yang sulit saya lihat banyak bisnis dari bapak ibu sekalian tetap tumbuh dengan baik. Memang tidak mudah mengalahkan urusan bisnis ini, mengalahkan warga keturunan Tionghoa. Memang sulit,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, warga Tionghoa jago dalam berdagang dan berbisnis. Lini bisnis yang digeluti pun beragam mulai dari manufaktur hingga industri jasa. Para warga Tionghoa pun rela bekerja hingga larut malam demi bisnis tetap berjalan.

Oleh sebab itu, mantan Walikota Solo itu menganggap wajar kalau banyak warga Tionghoa di Indonesia bisa sukses. “Harus mengakui keturunan Tionghoa pekerja keras itu bisa kita lihat kalau sudah bekerja pagi sampai tengah malam itu dijalani. Jadi kalau sukses ya kita maklum,” kata Jokowi dalam sambutannya di acara perayaan Imlek Nasional di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (30/1/2020).

Dalam sebuah keterangan pers, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas pun mengingatkan pesan Imam Syafi’i ‘man jadda wa jadda’, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh maka akan dapat. Menurutnya prinsip itu yang menjadi pegangan para orang terkaya di Indonesia.

“Kenapa saudara-saudara kita dari etnis China (Tionghoa) banyak yang sukses dan berhasil dalam dunia ekonomi dan bisnis? Ya karena mereka serius dan bersungguh-sungguh di dalam mengurusi dan menerjuni dunia ekonomi dan bisnis tersebut,” ujarnya, Jumat (31/1/2020).

Dalam catatan sejarah Indonesia peran etnis Tionghoa tergolong besar. Apalagi soal perdagangan. Berbagai literasi menjelaskan orang Tionghoa hadir bahkan sebelum masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Seperti diungkap sejarawan Inggris, Pater Carey dalam buku Orang Cina, Bandar Tol, Candu, & Perang Jawa. Ia menjelaskan, orang Tionghoa yang awalnya hanya berdagang pernak-pernik dari Negeri Tirai Bambu, belakangan mulai betah. Beberapa di antaranya bahkan menetap.

Untuk itu, selama berabad-abad selanjutnya, orang Tionghoa terus memainkan perannya yang amat penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial di pedalaman kerajaan-kerajaan Jawa. Bernard H.M Vlekke dalam buku Nusantara, dirinya mengungkap orang Tionghoa bagi Coen merupakan etnis yang suka bekerja keras dan tidak menyukai perang. Oleh sebab itu, sedari awal orang Tionghoa menjelma menjadi bagian penting dari penduduk Batavia.

Bagaimana dengan Cirebon?

Tionghoa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Cirebon. Percampuran etnis yang telah ada sejak kampung pecinan berdiri membuat mereka hidup harmonis. Mereka bahkan melewati bersama masa-masa penjajahan Belanda maupun Jepang, hingga pasca kemerdekaan.

Bersama warga lainnya, kampung pecinan menjadi salah satu pusat niaga teramai di Kota Cirebon. Kondisi ini tak lepas pula dari keberadaan Pasar Kanoman yang ada di Jalan Kanoman sebagai salah satu area kampung pecinan. Mulai dari ikan asin hingga kain, aktivitas dagang yang dilakoni warga Tionghoa menjadi salah satu pendukung terbesar perekonomian di Kota Cirebon. Perdagangan menjadi salah satu bentuk hubungan harmonis yang tercipta hingga sekarang.

Bahkan, bagi warga Tionghoa, khususnya di Cirebon, Jawa Barat, makanan tidak sekadar mengisi perut, tapi mengandung makna yang luas dalam kehidupan sosial. Menu yang disajikan pun memiliki arti sendiri bagi hubungan antar manusia. Bagi warga Tionghoa, menjamu tamu dengan makanan mengandung makna menjalankan tradisi untuk menjalin dan mengakrabkan persahabatan. Pepatah Tionghoa mengatakan: 食物可以建立友谊和兄弟情谊,通过一起吃饭可以使人熟悉,温暖和友谊 (Shíwù kěyǐ jiànlì yǒuyì hé xiōngdì qíngyì, tōngguò yīqǐ chīfàn kěyǐ shǐ rén shúxī, wēnnuǎn huo yǒuyì). Artinya: “Makanan dapat menjalin persahabatan dan persaudaraan, dengan makan bersama dapat mengakrabkan, menghangatkan persahabatan dan persaudaraan”.

Masakan Tionghoa adalah masakan yang dibuat warga perantauan dari Tiongkok. Masakan Tionghoa tersebar sejak adanya 3 jalur perdagangan yaitu Jalur Chama, Jalur Sutra dan Jalur Keramik. Pengaruh perantau dari Tionghoa di Cirebon sangat kental. Dalam perkembangannya masakan yang dikenalkan perantau dari Negeri Tirai Bambu cita rasanya bercampur dengan cita rasa masakan Nusantara yang biasanya kaya akan rempah-rempah dalam bumbunya. Ada banyak jenis masakan Tionghoa yang kita kenal yaitu cap jay (lebih dikenal capcai), fu yung hai, i fu mie, kwee tiauw (kwetiau), dan ayam kung pao.  Ada satu makanan yang sangat khas dan dikonsumsi saat tertentu saja yakni Lontong Cap Go Me. Masakan khas warga Tionghoa yang disajikan dalam perayaan Cap Go Me.

“Kami keturunan Tionghoa lahir di Cirebon dan dibesarkan di Cirebon, sehari hari sudah terbiasa hidup berdampingan dengan tetangga maupun teman-teman Cirebon. Kami pun merasakan sebagai anak bangsa berkewajiban membangun bersama. Agar bumi Indonesia lebih kokoh, lebih makmur dan lebih terkenal di dunia,” ungkap Lin zu jie kepada Harian Rakyat Cirebon, Rabu (5/8).

Pria kelahiran Cirebon, 24 Maret 1945 ini, juga mendirikan Mandarin Study Centre(MSC), lembaga pendidikan non-formal yang bergerak dalam pengembangan bahasa dan budaya Tionghoa. “Sarana pendidikan bahasa mandarin yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan kedepan dalam bidang pendidikan, kemasyarakatan dan pergaulan international,” ungkapnya.

Berikut petikan wawancaranya.

Kita hidup dalam konteks kerukunan sebagai masyarakat majemuk sehingga negara ini dibangun kebersamaan dalam keberagaman. Bagaimana pendapat Anda sebagai warga keturunan Tionghoa di Cirebon?

Kami keturunan Tionghoa lahir di Cirebon dan dibesarkan di Cirebon, sehari-hari sudah terbiasa hidup berdampingan dengan tetangga maupun teman-teman Cirebon. Kami pun merasakan sebagai anak bangsa berkewajiban membangun bersama. Agar bumi Indonesia lebih kokoh, lebih makmur dan lebih terkenal di dunia.

Komitmen warga keturunan Tionghoa dalam pembangunan ekonomi bangsa, dalam 10 tahun terakhir, perannya sudah tidak diragukan lagi. Bagaimana tanggapan Anda?

Kita telah melebur sejak lama dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki peran penting dalam percaturan global. Oleh karena itu, kita harus bahu – membahu dalam menghadapi globalisasiMaju terus, bersama anak bangsa lainnya. Kita masih bisa lebih baik lagi.

Menurut amatan Anda, sejauhmana perikehidupan sosial ekonomi di Cirebon?

Sebetulnya perilaku dan kemajuan sosial ekonomi di Cirebomasih belum termasuk yang terbaik, namun sudah banyak kemajuan. Kita harus bahu membahu, dengan semangat membangun bersama, dengan inovasi yang gigih, pasti kita melangkah lebih maju kedepan.

Beberapa investor dari Tiongkok mulai menjalin kerjasama di beberapa Pemerintah Daerah, bagaimana dengan Cirebon?

Sejauh ini saya belum tahu di Cirebon sudah ada investor dari Tiongkok. Namun saya agak “cemburu” kalau di Batang Jawa Tengah, kota lebih kecil daripada Cirebon, malah memborong 17 investor dari luar negeri. Bahkan, setahu saya 11 investor asal dari negeri Tiongkok. Apakah Cirebon belum siap SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam). Sangat menggelitik bagi kita warga Cirebon.

Apa harapan Anda untuk perekonomian di Cirebon?

Saya mengutip semboyan Mandarin Study Centre(MSC)干,合干,精干  shi gan,  he gan, jing gan. Artinya, kerja nyata, kerja sama, dan kerja lebih professional. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!