Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Walangsungsang segera bangun dari tidurnya dan ingin segera memberitahukan kepada ayahanda Prabu, yang sedang mengadakan pertemuan. “Duhai putraku Walangsungsang, jadilah engkau raja menguasai negara dengan adikmu”, sabda sang Prabu.. ‘Ya ramanda, putranda mohon perkenan paduka, sebelum hamba bertemu dengan orang yang terbayang dalam impian, soal tahta hamba kesampingkan”, ujar Walangsungsang. “Oh, apakah irnpianmu gerangan?” “Putranda bertemu dengan Nabi Muhammad. Mohon ramanda agar berguru agama kepadanya, berguru agama Nabi Rasulullah kepada seorang pandita di gunung Amparan Jati. Jadilah orang muslim. Barang siapa tidak masuk Islarn akan menjadi kufur dan masuk neraka”.
Prabu siliwangi membentak, “Buat apa berguru Islam. Kita punya agama sendiri, Walangsungsang ! Bila engkau tidak menurut perintahku pergilah dari keraton. lebih baik aku tidak punya anak durhaka. Aku lebih senang tidak punya anak sepertimu. Patih Argatala, umumkan ke seluruh negara dan perbatasan, barang siapa menerima kedatangan anakku Walangsungsang harus dihukum atau kau bunuh, begitu marahnya sang Prabu.Siap, harnba junjung perintah paduka, begitu ucap Ki Patih Argatala.

Sepanjang hari dan malam Walangsungsang di puri Keputran senantiasa gelisah, karena ia merasa sudah tidak disukai ayahanda lagi.

Namun, apabila ia ingat adik perempuannya Rarasantang, kasihan tak ada yang mengasuh, maka kebimbangan merasuki kalbunya. Tetapi apabila dirinya tetap di keraton, bukankah ayahandanya sudah mengusir dirinya.
Akhirnya keputusan terbaiknya ia meloloskan diri di malam hari buta, dari keraton sambil sembunyi-sembunyi meninggalkan segala milik dan haknya yang ada di keraton. Jauhlah sudah Walangsungsang pergi ke arah utara dan sampailah ia di Karawang di tempat kediaman Syekh Quro. Amat heran Syekh Quro atas kedatangan pemuda yang bagus rupa, lalu.

Duhai guru, hamba berasal dari Padjajaran dan nama harnba Walangsungsang begitu jawabnya. Syekh Quro hanya mengangguk dan dalam hatinya berkata, inilah putra Padjadjaran yang perkasa, yang kelak akan berkuasa di tanah Sunda ini dan pangeran inilah yang akan menjadi Waliyullah, membuka syariat Nabi Muhammad Rasulullah, lalu sambil berkata mantap Syekh Quro, Ya pangeran, kalau mencari guru agama Islam pergilah ke timur di gunung Arnparan Jati. Bergurulah di sana kepada Syekh Nur Jati. Beliau adalah guruku. Terima kasih paduka guru, hamba segera ke sana apabila paduka guru telah mengijinkan, begitu jawab Walangsungsang dan Syekh Quro amat suka citanya. Walangsungsang kemudian pergi berkelana ke timur selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!