Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Perjalanannya ia penuh kewaspadaan, menyamar dan hati-hati, hingga ia lupa makan dan lupa tidur. Selanjutnya terlihatlah nyala api di gunung Merapi. Walangsungsang datang kehadapan Sanghyang Danuwarsih sujud mencium tangan Sanghyang Danuwarsih menyambutnya dengan senang hati, lalu ujarnya, dari manakah gerangan wahai pemuda bagus ? Hamba dari Padjadjaran dan nama hamba Walangsungsang. hamba telah diusir oleh ramanda Prabu, yang tidak mau memeluk agama Islam, begitu ujar Walangsungsang. Sang pendeta Budha itu tertegun tapi dalam kalbunya bergetar. Tibalah saatnya peralihan agama Budha dan Hindu beralih kepada Is1am. Dimanakah letak gunung Amparan Jati, ya sang Pandita ? Saya ingin berguru agama Nabi Muhammad. Sang pandita Danuwarsih berkata manis, aku baru mendengar adanya syari’at agama Muhammad itu.

Tapi aku mendengar serba sedikit tentang jaman Prama dari kitab Mustika Jamus dan Ogan Lopiyan, bahwa kelak putra Prabu Siliwangi yang mengganti agarna Hindu dan Budha kepada Islam. Ayahmu itu masih termasuk anak cucuku juga. Kalau pangeran ingin petunjuk gaib pada gambar Lopiyan tadi, terimalah dulu tentang kebudhaan dan kehinduan yang sejati, agar kepada Islam kelak akan menjadi gampang. Sebelum kamu tumbuh, hidup itu ada di mana dan ada apa hidup sebelum kamu itu ada. Carilah ikatan talinya, hingga ketemu kepada apa yang dinamakan hidup sejati. Hidupmu itu siapa, siapa yang menghidupi, kalau kamu meninggal bagaimana caranya masuk dan keluarnya

seberapa dekat kalau engkau masuk dan seberapa jauhnya apabila keluar, dan semua itu dirnana tempatnya ? Hamba mohon diajarkan sejatinya hidup, begitu jawab sang pangeran Walangsungsang yang telah menerima ilmu kebudhaan dan kehinduan secara tuntas. Sembilan bulan larnanya sang pangeran menggeluti ilrnu itu di pertapaan gunung Merapi. Tak Lama kemudian Rarasantang datang mencium tangan Ki Danuwarsih. Sanghyang berkata, duhai gadis cantik dari manakah asalimu ? Rarasantang menjawab, hamba dari Padjajaran mencari kakanda Walangsungsang namanya. Barangkali paduka dapat menolong hamba, ke manakah ia perginya? Walangsungsang itu saudaramu ? begitu tegur sang pandita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!