Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Kemudian Walangsungsang segera menubruk adiknya. Mereka berangkulan menumpahkan rindu, titik-titik air mata sang gadis berderai, Kemudian sang pandita berkata, sudahlah jangan bertangis-tangisan. Terimalah ini cincin pusaka Dewata, ali-ali Ampal namanya. Manfaatnya lebih sakti, bisa memuat lautan dan gunung, luasnya seperti alam semesta jagat raya ini’. Pangeran pun segera menerirna cincin wasiat pusaka Dewata itu dan segera dipakainya. Setelah menghias jari manisnya telah menyatu ke dalam daging dan kulit. Lalu sang pandita berkata lagi, aku nikahkan engkau dengan anakku satu- satunya ini, Indanggeulis narnanya. Sang pangeran pun menerima Nyi Indanggeulis sebagai isterinya. Sang pangeran kemudian mohon ijin untuk meneruskan perjalanannya. Lalu sang pandita berkata, Pangeran agar berganti nama Cakrabuwana sebagai nama pemberian dariku. Lalu rnampirlah engkau ke pertapaan di gunung Siangkup. Di sana berdiam Sanghyang Nago yang juga masih saudaraku. Kemudian sang pangeran mohon pamit untuk berangkat bersama adik perempuan dan isteri tercintanya.

Singkatnya cerita sang pangeran telah tiba di Gunung Siangkup. Sanghyang Nago yang tengah bertapa untuk mengetahui hidup dalam dua analisa pandang, menyatunya antara badan wadah dan sukma, tragedi sinar matahari kembar, itulah sejatinya hidup birahi kepada dirinya dengan tanpa putus menyerahkan panca inderanya. Lalu berkatalah ia, wahai, kalian berbahagialah yang baru datang. Dari manakah kalian datang ? LaIu pangeran pun menjawab sangat hormat, duhai sang pertapa, hamba ini datang dari Padjadjaran, nama hamba Cakrabuwana, hendak mencari guru ajaran Muhammad. Di sini tak ada agama Muhammad. Tapi aku tahu dalam Ogan Lopiyan, jikalau aku ini menjumpai kamu, berarti jadilah kamu bibit Islam dan ini berakhirnya agama leluhur kita. Tetapi aku tak mau berbicara tentang agama Islam. Hanya terimalah ini perlengkapanmu dari pusaka Dewata sebilah Golok Cabang, kasiatnya dapat terbang, bisa berbicara bagai manusia dan bisa mengeluarkan api. Dan aku beri nama kamu Kyai Sangkan. Selanjutnya pergilah dahulu ke gunung Kumbang. Di sana ada seorang wiku sedang bertapa meningkatkan wibawa yang berwujud ular naga. Ular naga itu memiliki pusaka, pintalah itu. Syahdan, sampailah sang pangeran di puncak Gunung Kumbang. Lalu sang Nagaraja waspada dan ia berkata dalam hati, inilah rupanya orang yang berhak menerima pusaka Dewata yang sanggup merawat dan memiiiki dengan baik. Lalu diserahkanlah pusaka Dewata itu yang berupa umbul-umbul dan kopiyah yang terbuat dari “Waring” atau bagor, setelah penyerahan serba cepat itu sang Nagaraja pun menghilang, kemudian suaranya dengan tanpa rupa menggema, Wahai sang pangeran, pergilah engkau ke gunung Cangak, di sana ada pandita raja berwujud burung Bangau. Di sanalah tersimpan pusaka “Panjang Jimat’ dan Gamelan Sekaten. Dia hanyalah memelihara dan menjaga, sesungguhnya pusaka itu milikmu semata. Kemudian segera sang pangeran pergi ke gunung Cangak dan seteIah sampai, sang pangeran bertemu dengan Sanghyang Bango. Lalu Shangyang Bango segera menyerahkan pusaka itu kepada sang pangeran, lalu segera ia masukkan ke dalam ali-ali Ampal. Selanjutnya Sanghyang Bango berkata, aku beri nama engkau Ki Kuncung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!