Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Nur ilahi merambah dari puncak Giri lalu Cipta Rengga (Gunung Amparan Jati). Jalan ke martdhotillah adalah suatu fitrah manusia yang dari unsur tidak Ada lalu ada dan kemudian tidak ada lagi. Kuncinya adalah dari sejak “ada” setiap detik nadinya harus bernada amal soleh sampai detik nadi yang terakhir, yakni untuk menjalankan, melaksanakan perintah Tuhan dan rnenjauhi larangan-Nya (amal ma’ruf nahi munkar). Pangeran Walangsungsang telah sampai di puncak Gunung Amparan Jati dan langsung mencium tangan Syekh Dzatuk Kahfi. dari Mekah asalnya. Ia termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW. Ia tengah prihatin mandiri untuk menggeluti jati dirinya. Pandangannya hanya kepada Allah SW’I semata.

Menunggu kehadiran fitrah murni manusia muslim, lalu katanya, Wahai sang pemuda, dari manakah asalmu dan siapa namamu ? Hamba dari Padjadjaran, nama hamba Walangsungsang. Hamba putra sang Prabu Siliwangi. Ini isteriku Indanggeulis dan adik perempuan hamba, Rarasantang namanya. Hamba ingin berguru agama Islam, ingin berbakti kepada sang guru Nurul Jati yang berdiam di gunung Amparan Jati. Oleh karena itu hamba mohon petunjuk di manakah Syekh Dzatuk Kahfi. Syekh Nurul Jati menjawab, akulah Syekh Datuk Kahfi. Alhamdulillah, sudah kehendak Allah SWT beranjak dari alamat juga terbukanya ajaran Muhammad Rasullah SAW. Tercenganglah Walangsungsang sambil meneteskan air mata bahagia. Toh, akhirnya sampailah ke jalan Tuhan menuju mardhotillah semata, hari ini terkabul, Walangsungsang terimalah ajaran Islam dari saya ini sudah dipastikan engkau akan menjadi kekuatan pemula negara dan agama IsLam. Oleh karena itulah engkau buka tanah sebelah selatan gunung Amparan Jati ini yang dikenal Kebon Pesisir. Bangunlah engkau di sana sebagai tempat mukimmu dan tempat mukim orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk perjuanganmu”.

Kemudian sang pangeran melaksanakan perintah sang gurunya untuk membuka hutan Kebon Pesisir itu. Di sinilah akhirnya “Hari Jadi Cirebon’ yang dimemorikan pada Minggu Kliwon, tanggal 1 Sura tahun Saka 1367 / 1 Muharam, tahun Hijriyah 867/1445 M. Tanggal 1 Sura / 1 Muharram pangeran Cakrabuana telaksanakan membuka pemukiman pada hari pertamanya dijadikan Hari Jadi Cirebon. Pangeran Walangsungsang menerima perintah dan mohon ijin untuk pengabdiannya sebagai Santri terpilih. Kemudian ia keluarkan “Golok Cabang” untuk membabat hutan dengan sendirinya. Pohon-pohon rebah, dari golok itu keluarlah api, lalu terbakar habis, berubahlah menjadi tanah lapang luas seribu jengkal persegi.

Selanjutnya pondok Ki Danusela (adik Ki Danuwarsih) yang telah ada diperbaiki, yang lama-kelamaan hingga sekarang menjadi Keraton Kanoman. Pondok itu kini telah menjadi bangsal Witana (bangsal yang digunakan sebagai bangsal Abhiseka sultan-sultan di Kesultanan Kanoman). Adiknya dan isterinya dikeluarkan dari ali-ali Arnpalnya lalu mereka berkumpul di pondok Ki Danusela. Menurut petunjuk gurunya, Ki Danusela agar dilantik menjadi Kuwu Cirebon I, sedangkan sang pangeran dijadikan wakil, Raksabumi, dengan gelar Ki Cakrabumi. Tiap harinya ia menangkap ikan dan rebon. Rebon-rebon itu dibuatlah terasi dan petis.

Kemudian sang gurunya berkata, Sang pangeran pergilah engkau naik haji ke Baittullah Mekah bersama adikmu. Isterimu kau tinggal, sebab ia sedang hamil. bawalah surat ini kepada Syekh Bayanullah di Mekah, ia adalah adikku di sana. Segera perintah sang guru akan hamba laksanakan, begitu jawab sang pangeran mantap. Singkatnya ia sampailah ke Tanah Suci menjumpai Syekh Bayanullah untuk menyerahkan surat gurunya. Lalu syekh Bayanullah bertanya, wahai Jawa, sekarang Syekh Datuk Kahfi ada di mana ? Beliau ada di Jawa dan akulah santrinya, jawab sang pangeran. Alhamdulillah, itulah harapanku, bila kau pulang nanti aku ikut bersamamu. Persilahkan Tuan, saya akan bersenang Hati. Saya ingin berguru juga kepadamu bila Tuan berkenan, Oh, tentu saja, jawab Syekh Bayanullah dengan ramah. Pangeran Walangsungsang kemudian menerima pelajarannya.

Akhirnya Syekh Bayan kehabisan ilmu. Seluruh Al-Quran telah dimengerti, lalu Syekh Bayan tidak bisa rnengajarkan lagi. Akhirnya Syekh Bayan terlalu banyak bicara saja, karena santrinya sudah lebih pintar dari dirinya. Syahdan cerita beralih di kerajaan Mesir. Rajanya telah berkabung dengan wafatnya sang perrnaisuri. Karena ia amat rnencintai isterinya, lalu ia menderita berkepanjangan. Setiap malam orang berdzikir turut memikirkan keprihatinan rajanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!