Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Suatu hari, sultan Khut Abdullah rnengutus patihnya, Wahai Anwar, carilah seorang isteri yang sama dengan almarhumah dan penampilannya harus benar- benar mirip. Apabila rnelampaui berwindu sekalipun engkau tak boleh kembali sebelum memperoleh hasil. Berangkatlah Ki Patih Anwar untuk memenuhi titah sang sultan. Ia melewati negara-negara manca, seperti keseberang. Ia ke Syam, Turki, Iran kembali ke Mekah. Di sana kebetulan sedang saatnya menunaikan ibadah haji. Ia IaIu menghadang orang-orang yang sedang berhaji. Ribuan manusia yang baru saja selesai haji, Ki Patih meneliti kalau-kalau ada seorang perempuan yang mirip dan sepadan dengan almarhumah permaisuri junjungannya. Ki Patih tajam penglihatannya. Ia memperhatikan seorang perempuan.yang tak salah lagi amat mirip dan sepadan, lalu segera saja memberhentikan orang itu, mohon maafku, ya sang pangeran. Aku bertanya dari manakah asal negeri Tuan? saya dari Jawa, sedang melakukan haji di sini. Saya rnondok di syekh Bayan, sedangkan perempuan ini adalah adik saya, begitu penjelasan Pangeran Haji. Bagus, bagus, bolehkah bila saya menyertai kalian untuk dapat menjumpai Syekh Bayan ? tentu saja boleh, silahkan,,.

Dikarenakan sultan Khut Abdullah isterinya dan tak sabar menanti utusan muncul. semakin prihatin, semakin kerinduan yang telah dinantikan. Singkatnya cerita Ki Patih datang menghadap raja sambil nnembawa tiga orang tamu, kemudian raja Mesir berkata, bagaimana, berhasilkah wahai patih ? inilah orang Jawa yang tengah haji. bernama Rarasantang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!