Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Kemudian sang raja memerintahkan Syekh Bayan segera menghadap, wahai Syekh Bayan, saya minta tamu anda akan saya nikah. Kami persilahkan tuanku tanyakan kepada saudara laki-lakinya yang berhak menjawab, begitu jawab Syekh Bayan. Kemudian Rarasantang dinikah sang raja dengan wali nikahnya kakaknya sendiri. Mas kawinnya adalah sorban pusaka milik Nabi Muhammad SAW yang panjangnya 40 depa (kira-kira 1,25 meter per depa) terbagi dua. Bagian yang berumbai dan tersulamkan emas terbawa ke Jawa dengan bertuliskan Nabi Muhammad SAW. Kakak, terima-lah ini sebagai upah wali nikah adikmu, begitu ucap sang raja Mesir. Walangsungsang menerimanya dengan senang hati, lalu sorban itu langsung di simpannya dalam ali-ali Ampal. Pandai-pandailah membawa diri, jadilah isteri yang tahu berbakti kepada suami. Kakak akan segera pulang, begitu ujar walangsungsang, lalu meneruskan perjalanannya kembali ke Mekah. Sebulan setelah pondok di rumah Syekh Bayan, sang pangeran barulah lepas pulang ke Jawa.

Perjalanannya senantiasa menyinggahi Negara lain-lain. Campa, Mandala Upih dan tersebutlah di Aceh sedang dilanda wabah penyakit. Rakyat, banyak yang rneninggal dunia. Sang Raja Sultan Aceh sedang sakit berat, ia sudah tidak masuk nasi maupun air. Para bupati dan prajurit berjaga-jaga dengan perasaan was-was. Para inang yang memelihara dan menjaga sakitnya sang Sultan. Di luar heran ada seorang laki-laki datang, siapakah Tuan ini ? Begitu tanya pembantu istana itu. Saya berasal dari Jawa, ingin menengok sultan, begitu ujar Walangsungsang. Maaf saudara, anda tak diperkenankan masuk ke istana. Para bupati pun tidak diperkenankan karena paduka Sultan sedang sakit keras. Orang Jawa itu memaksa, sampaikanlah kepada sang Sultan, saya sanggup menyembuhkan sakitnya Sultan. Kemudian pembantu istana itu tentu saja segera menyampaikan hal ini kepada sultan, akan tetapi apa mau dikata, sultan sudah, tak sanggup apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!