Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Akhirnya tamu dari Jawa itu diperkenankan masuk istana dan langsung memasuki ruangan dimana sang sultan tergeletak di tempat tidurnya. Duhai adikku sultan, asalmu itu sehat, maka engkau kembalikan sehat, begitu ujar Syekh Abdul Iman, seorang haji Jawa yang tidak lain adalah Walangsungsang, sambil mernberi tangan untuk bersalaman kepada raja. Tentu saja membuat terkejut seluruh penghuni istana melihat kejadian itu. Hal itu tidak lain berkat kasiat dari ali-ali Ampal sang pangeran yang telah menyatu dengan daging dan kulit. Selanjutnya sang sultan duduk sejajar dengan tamunya, lalu sabdanya, duhai kakakku, terimakasih atas kedatanganmu. Apakah ada keperluan yang penting ? Tidak juga, saya hanya sedang berkeliling dan kebetulan mampir ke sini, menengok anda yang kabarnya anda sedang sakit. kemudian mendengar ada suara bayi menangis terus-menerus, sampai- sampai para pernbantu turut menangisi pula sebab amat kasihan. Oh, keluarga kami memang sedang terkena musibah. Itu adalah bayiku, ibunya baru meninggal dunia”, begitu sabda sultan sambil bersedih. Aku bawa saja bayi yang cantik ini, ujar Abdul Iman. Tentu saja aku persilahkan, kelihatan bayi itu kini sehat, begitu ucap sultan terkagum-kagum. Aku mohon pamit Sultan dan kubawa bayi ini. Kelak ia menjadi gadis yang amat baik. Sultan Aceh pun melepaskan kepergian tamunya dengan senang hati, karena musibah negara itu kini telah sirna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!