Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon di Bangsal Witana Keraton Kanoman, Inilah Transliterasinya

Sedangkan bayi yang dibawa sang pangeran ini setelah di Cirebon terkenal dengan narna Nyi Mas Gandasari. Syahdan raja Mesir telah berbulan madu dengan isteri tercintanya Nyi Mas Rarasantang -yang telah beralih nama dengan Syarifah Mudaim. Tetapi masa-rnasa bulan madunya amat mengesalkan hatinya, karena Syarifah Mudaim belum berkenan diajak menikmati kemesraan fisiknya, karena sang isteri selalu menangis karena ia senantiasa ingat kakaknya saja. Aku amat heran, engkau senantiasa bersedih. Apakah engkau tidak mencintaiku? ceritakan apa maumu sesungguhnya? ujar sultan Mesir. Duhai suamiku, junjunganku. Maafkan hamba apabila kanda prabu menjadi bimbang dan ragu. Sesungguhnya ada permohonan hamba selama jni. Hamba ingin punya anak laki-laki bagus rupa dan bagus hati, luar biasa, serta ditakuti dan diasihi oleh para Wali Allah. Sang raja tertegun dan termangu setelah mendengar isterinya berkata demikian. Jelas-jelas suatu permintaan di luar kemampuan manusia dan menguji diriku sebagai suaminya, begitu ucap dalam hati dan kemudian sang raja, di kamar semedinya berhari-hari, bersemedi mohon petunjuk Illahi Robbi agar memperoleh anugerah kebeningan kalbu. Suatu saat, seolah sang raja mendengar suara gaib dan terasa getaran suara tanpa rupa itu amat agung, “Wahai sang raja Mesir bersabarlah, sanggupilah permintaan isterimu itu”. Tuhanlah yang Maha Mengetahui lagi Maha penyayang,,. Singkatnya cerita sang raja Mesir telah mempunyai dua orang anak laki-laki yang sulung bernama Syarif Hidayatullah dan adiknya bernama Syarif Nurullah.

Wallahu alam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!