Usia Dini Fase Emas Internalisasi Karakter Anak

Usia Dini Fase Emas Internalisasi Karakter Anak

RAKYATCIREBON.ID – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerjasama dengan UIN Sunan Kalijaga dan PPS PIAUD Indonesia menghadirkan webinar Penguatan Karakter Anak Usia Dini dari Rumah, Rabu (15/7).

Narasumber pada kegiatan tersebut yakni Dosen IAIN Cirebon Prof Ety Nurhayati MSi, Anggota BAN PAUD-PNF sekaligus Dosen UIN Yogyakarta Dr Hj Hibana SAg MPd, Perwakilan Direktorat PAUD Kemendikbud Dona Paramita SPsi MPd dengan moderator Asesor BAN PAUD Jawa Barat Aip Saripudin MPd.

Ketua Prodi PIAUD IAIN Cirebon, Dr Asep Mulyana MAg mengatakan, di masa pandemik seperti saat ini peran keluarga dalam mendidik anak dari rumah terbilang sentral. Untuk itulah, pihaknya menghadirkan para pakar PAUD guna membedah strategi penerapan pendidikan karakter bagi anak usia dini.

“Karena pembentukan karakter dari rumah ini sangat sentral sekali apalagi di masa pandemik. Karena semuanya menjadi terfokus kepada orang tua tidak dengan teman di sekolah. Oleh karena itu rumah menjadi tempat yang sentral,” ungkap dia.

Asep melanjutkan, usia dini dari 0 sampai 6 tahun merupakan fase emas. Dimana internalisasi pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kehidupan dapat diserap lebih maksimal pada fase ini.

Orang tua sebagai orang terdekat anak diharapkan mampu menampilkan contoh baik kepada anak di rumah. “Orang tua harus menjadi role model. Jangan hanya menyuruh anak untuk perbuat baik. Tapi harus memberi contoh seperti apa yang baik,” kata dia.

Sementara itu, Pemateri Prof Dr Ety Nurhayati MSi menjelaskan, menumbuhkembangkan karakter anak usia dini butuh proses panjang. Dan harus betul-betul dimulai dari usia dini. “Perkembangan karakter yang utama adalah usia dini sebagai periode emas,” ujar dia.

Perkembangan karakter, kata Ety, sangat berhubungan dengan perkembangan moral yang dipengaruhi perkembangan kognitif dan intelektualitas anak. Anak usia dini punya kecenderungan meniru orang tuanya sebagai yang terdekat.

“Karena anak-anak jika dididik diberikan contoh perilaku yang baik dan dibiasakan dengan karakter yang kelak akan jadi sesorang yang memiliki hati, pikiran dan tingkah laku yang baik,” tukas dia. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!