Wahidi-Nina Bisa Ancam Petahana

Wahidi-Nina Bisa Ancam Petahana

RAKYATCIREBON.ID-Beberapa pekan ini publik media sosial digegerkan dengan kemunculan tokoh penting PKB yang juga Anggota DPR RI H Dedi Wahidi dipaketkan dengan Bacabup PDI Perjuangan Nina A Dai Bachtiar. Jika keduanya menjadi paket pasangan, Pengamat Politik Indramayu Arif Kurniawan Hidaya memprediksi bisa mengancam petahana.

“Paket Wani atau Wahidi Nina dari PKB dan PDI Perjuangan itu sempurna kekuatannya jika dipasangkan menghadapi petahana Golkar siapapun pasangannya. Peluang menangnya juga sangat tinggi,” tegas Arif.

Namun hingga saat ini keduanya dipastikan belum mendapatkan rekomendasi atau tiket resmi dari DPP masing-masing partainya untuk dipasangkan, sehingga masih besar kemungkinannya bisa bubar jika terlena di tengah jalan.

“Meskipun bargaining Wahidi dan Nina itu sangat besar jangan sampai terlena, bisa saja Golkar ditingkatan DPP menyalip di tikungan bermufakat di tingkatan DPP dengan PKB, sehingga paket tersebut bubar atau sebaliknya Golkar bermufakat dengan PDI Perjuangan dengan mengusung Daniel Muttaqien-Nina Da’I Bachtiar. Itu bisa saja terjadi,” tuturnya.

Dari kedua opsi politik tersebut secara psikologi politik tidak bisa diukur hanya dengan romantisme politik saja, apakah Golkar di pusat lebih punya romantisme dengan PDI Perjuangan atau malah dengan PKB.

“Karena instrumennya sangat banyak kalau mengukur kemungkinan politik, bukan hanya dari romantisme atau kedekatan saja. Karena di Pilkada konfigurasinya bisa berimbang. Seperti di Sukabumi misalnya PKB dan PDIP tidak sejalan. Atau ketika kita melihat di Tasikmalaya misalnya,” ujarnya.

Akan tetapi untuk konteks Kabupaten Indramayu PKB sepertinya jauh lebih berpeluang jatuh ke pangkuan PDI Perjuangan ketimbang dengan Golkar.

“Begitu juga PDI Perjuangan melihat dari Pilkada 2015 lalu dan sebelumnya kecil kemungkinannya akan berkoalisi dengan Partai Golkar di Indramayu,” tukasnya.

Namun, bisa saja Partai Golkar dari pada berdarah-darah melawan kekuatan PKB dan PDIP, memilih membagi kekuasannya dengan PKB untuk menang di Pilkada dari pada kalah dengan bergabungnya dua figure tersebut yang dimiliki PKB dan PDIP.

“Daniel yang jadi kandidat yang kabarnya digadang-gadang Partai Golkar untuk jadi Cabup kan satu Komisi yakni Komisi V di DPR RI dengan Dedi Wahidi, bisa saja keduanya memilih untuk berkompromi. Itu siapa yang tahu,” ucap Mantan PC Ketua IPNU Kabupaten Indramayu itu.

Meskipun demikian, Arief yakin Dedi Wahidi dipastikannya akan sangat matang menentukan sikap politik dilihat dari jam terbangnya yang sangat tinggi. “Termasuk saat pak Dewa (sapaan akrab Dedi Wahidi, red) lebih memilih akan turun gunung nyabup atau tetap di DPR RI,” jelasnya.

Dewa menurut Arif semakin tua semakin bijak dan semakin dewasa dalam berpolitik, meskipun banyak sekali kader NU dan PKB yang mengidam-idamkannya maju pilkada Desember mendatang.

“Saya yakin apapun keputusan pak Dewa seperti maju atau tidak di pilkada adalah keputusan terbaik untuk masyarakat Kabupaten Indramayu. Bahkan jika memilih untuk tidak nyalon akibat begitu banyak juga kader di PKB yang sudah mengkontestasikan dirinya ingin nyalon bupati sehingga Dewa memilih merelakan peluang menjadi bupati yang sudah dihadapan mata tersebut,” terang Arif.

Arif meyakinkan, meskipun Golkar telah mengakar kekuatannya di Indramayu jika Dewa yang maju akan kesulitan menghadapinya. Karena Dewa berkiprah di panggung politik Indramayu juga telah 20 tahun sama seperti usia Partai Beringin itu berkuasa.

“Saya yakin Dewa Nina bisa menang di Pilkada, pertama harus diingat ketokohan Dewa sudah 20 tahun atau tahunnya sama dengan kekuasaan Golkar dimana Irianto MS Safiuddin menjadi bupati, Pak Wahidi saat itu menjadi Wakil Bupati,” ucap Arif.

Setelah menjadi Wakil Bupati memang Dewa 5 tahun tidak menduduki jabatan publik di Indramayu, akan tetapi Dewa tidak kurang kiprah untuk tetap mengupgrade ketokohannya. Dimana Dewa selama 5 tahun tersebut memimpin DPW PKB Jawa Barat.

“2005 selesai jadi Wabup tapi Dewa tidak diam, bahkan beliau menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama. Artinya sepak terjang Pak Wahidi sama dengan kekuatan Golkar di Indramayu,” katanya.

Nah, dari sisi Nina Agustina adalah seorang anak dari mantan Jendral yang pernah menduduki posisi tertinggi yaitu Kapolri. Dipastikannya telah memiliki jaringan yang sangat mengakar di tingkat nasional, baik di birokrat maupun di kepolisian.

“Sebagaimana kita tahu, Indramayu telah terkena sedikit putting beliung dengan masuknya KPK meng OTT Bupati. Nina harus diperhitungkan oleh Golkar karena bisa saja sangat merepotkan pergerakan politik Partai Golkar,” pungkasnya. (vic)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!