Warga Jawa Barat Mulai Tinggalkan Bahasa Indonesia

4
MAJALENGKA-Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat (BBPJB), Drs Muh Abdul Khak M Hum mengatakan, jika saat ini penggunaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat sudah mulai memudar, seiring dengan makin tingginya arus globalisasi.

bupati majalengka sutrisno
Bupati Sutrisni (kiri). Foto : Pai Supardi/Rakyat Majalengka

Hal itu tentunya sangat disayangkan, mengingat bahasa negara yakni Bahasa Indonesia merupakan identitas sebuah bangsa yang harus di perhatikan. Bahkan berdasarkan hasil pendataan maupun analisa yang dilakukan pihaknya di ruang-ruang fublik seperti di mal, rumah sakit dan lainya. Penggunaan bahasa Indonesia dikalangan masyarakat saat ini sudah mulai sedikit dan lebih dominan digunakan bahasa-bahasa asing.

Berdasarkan hasil survei dan analisa pihaknya di Jalan Dago Kota Bandung, sekitar 70 persen lebih menggunakan bahasa asing, dan hanya sekitar 30 persen menggunakan bahasa Indonesia. Itupun terbatas pada papan nama, nama jalan dan lainya.

Kaitanya dengan kegiatan seminar penertiban bahasa negara di Kabupaten Majalengka, sebut dia, karena Majalengka kedepan akan menjadi kota Internasional, yang maju pesat. Sehingga, harus dari awal penertiban bahasa negara harus sudah dilakukan, ditata dan diatur terutama di area publik.

“Majalengka kan kedepan akan menjadi salah satu kota internasional seiring dioprasikanya BIJB Jawa Barat. Sehingga penataan dan penertiban bahasa negara harus sudah dimulai sejak sekarang,”jelasnya kepada Rakyat Majalengka (Rakyat Cirebon Group).

Lebih lanjut, sambung dia, kegiatan sosialisasi dan penyadaran tentang pentingnya bahasa negara sendiri di Jawa Barat merupakan kegiatan pertama dengan bidikan lima kabupaten dan kota. Yakni Kuningan, Majalengka, Kabupaten dan Kota Bandung serta Kota Bogor.”Targetnya satu tahun lima kabupaten dan kota dulu lah,”ucapnya.

Sementara itu, Bupati Majalengka H Sutrisno SE MSi dalam sambutanya mengatakan, tentang pentingnya penggunaan dan penertiban bahasa negara yakni bahasa Indonesia, mengingat selain sebagai identitas negara kata dia, bahasa Indonesia sendiri menjadi salah satu alat pemersatu bangsa. Hal itu dibuktikan dengan sumpah pemuda pada  28 Oktober 1928. Dimana salah satu unsure sumpahnya yang menjadi pengikat dan pemersatu bangsa adalah berbahasa satu yakni bahasa Indonesia.

Terkait pentingnya bahasa negara kata dia, Pemda berencana untuk mengusulkan kepada DPRD agar segera membuat regulasi berupa Perda, ataupun Perbup tentang penertiban dan penggunaan bahasa Indonesia dan daerah di Majalengka.

“Kita akan dorong adanya Perda atau perbup tentang penertiban dan penggunaan bahasa Indonesia di Majalengka, tapi tentunya hal itu tidak bisa secepat yang kita harapkan. Karena untuk membuat Perda itu banyak tahapan yang harus dilalui, diantaranya harus masuk dalam prolegda dan kemudian dibahas di DPRD,”ucapnya.

Namun demikian orang nomor satu di Majalengka ini berjanji, ditahun 2016 mendatang Perda tersebut akan menjadi salah satu Perda prioritas yang akan disodorkan pihak eksekutif kepada legislatif.

Kalangan Jurnalis tentunya boleh berbangga diri, sebab dari tangan jurnalislah nama Indonesia itu terlahir. Hal itu berdasarkan sejarah dimana pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869). Orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia at au Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name).

Sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama, yaitua Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau) . Dan sejak itulah nama Indonesia mulai dikenal dan ditetapkan sebagai nama identitas bangsa Indonesia.(pai)

BAGIKAN